Senin (16/12) pagi itu saya bak bernostalgia. Walaupun baru pertama kali mengunjungi Perpustakaan Nasional, tapi kegiatan yang diselenggarakan pagi itu terasa akrab. Saya kembali meliput acara.

Senin pagi itu di Perpusnas, ada kegiatan SHEnergy Kreasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Menurut Ibu Bintang Puspayoga, Menteri KPPPA, SHEnergy Kreasi merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Hari Ibu yang diadakan oleh kementeriannya.

Sebelumnya, KPPPA sudah melaksanakan beberapa kegiatan untuk memeringati Hari Ibu yang secara secara nasional dirayakan pada 22 Desember. Merujuk pada sejarah, sebenarnya 22 Desember bukan diperingati untuk para ibu saja. Tapi, Presiden Soekarno meresmikan 22 Desember sebagai Hari Ibu karena pada tanggal tersebut, diadakan Kongres Perempuan Indonesia pada 1928.

Kongres tersebut sangatlah istimewa karena seperti yang kita tahu, peran perempuan sangat dikesampingkan pada saat itu. Dengan adanya Kongres Perempuan Indonesia, bangsa kita, mau tidak mau, harus mengakui peran perempuan dan pentingnya pemberdayaan perempuan untuk negeri ini.

Semangat memberdayakan perempuan terus berkembang hingga sekarang. Bahkan Ibu Menteri mendengungkannya sebagai tema Peringatan Hari Ibu ke-91 pada 2019 ini, yakni Perempuan Berdaya, Indonesia Maju.

Saya cukup kagum dengan pemilihan narasumber untuk SHEnergy Kreasi. Pada sesi pertama, narasumber yang naik ke panggung ialah Arto Biantoro (GambaranBrand Group), Diajeng Lestari (Hijup.com), dan Hanna Keraf (Du’Anyam). Talkshow yang dimoderatori oleh Kirana Larasati itu cukup menarik.

Masing-masing narasumber bercerita mengenai bisnis yang dibangun, serta bagaimana peran perempuan dalam mengembangkan usaha di Indonesia. Saya pernah mewawancarai Arto dan Diajeng secara eksklusif ketika menjadi wartawan. Jadi, apa yang mereka bicarakan sejatinya sudah pernah diceritakan secara langsung pada saya.

Yang menjadi hal baru bagi saya ialah apa yang dibagikan Hanna Keraf, selaku founder Du’Anyam. Meski mengaku lahir dan besar di Jakarta, Hanna punya hati memberdayakan para mama di Nusa Tenggara Timur. Perempuan lulusan Jepang ini menggerakkan perempuan NTT untuk berkreasi dan memasarkan produk anyaman yang khas dan berkualitas. Bahkan, menurut Hanna, Du’Anyam kerap kebanjiran order.

Acara kemudian dilanjutkan dengan talkshow yang menghadirkan narasumber lain, yaitu Sara Dhewanto (DuitHape), Silvya Surya (KopiSoe), dan Sherlyana (Blanja.com). Masing-masing narasumber berbagi bukan saja tentang profil bisnisnya, tapi juga bagaimana mereka mengembangkan bisnis dengan memberdayakan banyak orang, terutama para perempuan.

Narasumber mengakui perempuan punya potensi yang tinggi untuk maju. Namun, dalam proses pemberdayaan perempuan, masih ditemui banyak tantangan, khususnya dalam mengubah cara pandang serta usaha untuk melindungi perempuan.

Jujur saja tadinya saya pikir acara ini akan membosankan layaknya acara kementerian yang pernah saya datangi. Namun, untungnya saya salah. SHEnergy Kreasi, seperti namanya, punya energi yang besar untuk mengajak para peserta yang hampir semuanya perempuan untuk berkreasi.

Semangat memberdayakan perempuan ini, saya harap tidak berhenti menjelang atau pada 22 Desember saja. Perempuan, punya potensi yang besar. Perempuan itu berdaya. Perempuan harus saling membedayakan.