Menjadi orangtua itu banyak pe er-nya. Banyak sekali hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Sebut saja soal gaya pengasuhan dan pendidikan, mengenai kesehatan fisik maupun mental anak, sampai aktivitas sehari-hari. Semacam tidak ada habisnya.

Tapi jangan langsung patah arang. Kita tidak wajib jadi orangtua yang sempurna, kok. Kita hanya harus jadi orangtua yang lebih baik daripada kita yang kemarin.

Makanya, saya iyakan undangan untuk mengikuti media and blogger gathering yang diadakan Bebelac Gold. Produsen susu pertumbuhan itu mengangkat tema “Pentingnya pemenuhan asupan serat sejak dini”. Ini jadi salah satu perhatian saya sejak bocah lahir, terutama sejak memasuki usia enam bulan alias masa MPASI.

Bebelac mengundang narasumber yang menurut saya cukup mumpuni untuk membicarakan topik tersebut. Ada dr. Frieda Handayani, Sp.A(K), konsultan gastrohpatologi anak dan celeb-chef Yuda Bustara. Di panggung yang sama, kedua narasumber ini berbagi bersama Pratiwi Rosani, Marketing Manager Bebelac Gold, yang mengenalkan fitur yang sangat relevan dengan topik di atas.

Darurat serat

Kalau ngomongin serat, sudah pasti ada hubungannya dengan pencernaan. Memang, serat punya peran penting dalam saluran cerna. Serat yang cukup membuat tinja lebih lunak dan BAB lebih teratur, serta mencegah dan mengatasi konstipasi alias sembelit dan hemoroid atau wasir.

Namun, secara sistemik, serat ini juga bermanfaat. Pasalnya, jika kebutuhan serat terpenuhi, maka risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes melitus tipe akan turun. Serat juga bisa menurunkan kadar kolesterol dan membantu mengontrol gula darah dalam tubuh.

Dulu ketika bocah memasuki masa MPASI, saya sering baca referensi yang menyarankan untuk menunda pemberian serat. Namun, kata dr. Frieda, serat sudah bisa dikenalkan pada bayi saat MPASI. Pasalnya, kebutuhan serat pangan saat anak berusia setahun sampai tiga tahun itu banyak, yakni 16 gram per hari.

Kenapa dikatakan banyak? Dr. Frieda kasih contoh bahwa dalam 100 gram brokoli mentah hanya terkandung 1,6 gram serat. Pada 100 gram wortel rebus, terkandung 0,8 gram serat. Sementara kandungan serat pada 100 gram kacang hijau rebus hanyalah 1,5 gram.

Dr. Frieda memberi contoh menu harian untuk memenuhi kebutuhan serat. Jujur, bagi saya ini tugas yang berat karena saya bukan tipe orangtua yang suka ngejejelin makanan pada anak. Sejauh ini, saya tawarkan makanan pada anak. Kalau dia menolak, ya, saya tunggu saja sampai lapar dan dia minta makanan.

Kalau dipikir-pikir, saya yang orang dewasa juga masih keteteran dalam memenuhi kebutuhan serat harian untuk saya sendiri. Jadi ya, ini benar-benar tugas yang amat berat.

Namun, pemenuhan kebutuhan serat ini harus diperjuangkan. Karena kekurangan serat dalam jangka panjang beresiko mendatangkan penyakit kanker usus besar, penyakit jantung koroner, diabetes melitus tipe 2, dan obesitas. Seram, bukan?

Tapi untungnya (heuuu?!), saya tidak sendiri. Indonesia tuh darurat serat. Dr. Frieda menyampaikan data konsumsi serat di Indonesia.

Menurut riset kesehatan dasar yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2018, 95,5% orang Indonesia kurang konsumsi serat. Penelitian di tahun yang sama dilakukan di Jakarta oleh Fatimah A (Nutrition and Health Outcomes) menyebutkan sembilan dari sepuluh anak kekurangan serat. Penelitian dilakukan terhadap 103 anak usia 2 tahun sampai 3 tahun. Rata-rata anak usia ini hanya mengonsumsi 4,7 gram serat pangan setiap hari.

Tidak menutup kemungkinan bahwa data tersebut bisa berlaku untuk anak-anak di luar Jakarta. Bahkan mungkin hasilnya lebih parah. Duh, jangan-jangan anak saya juga ikut golongan kurang serat.

Hmmm, daripada putus asa, mending belajar dan berusaha supaya besok dan seterusnya kebutuhan serat harian ini terpenuhi. Gak usah stress dulu, please. 😂

Di acara tersebut, Chef Yuda berbagi resep menu makanan dan minuman kaya serat, seperti lasagna sayur, smoothies campuran sawi dan nanas, serta oats yang dibuat dengan mangga. Bisa banget jadi inspirasi menu di rumah. Resepnya bisa didapatkan di website Bebelac, ya.

Kalkulator pencernaan

Nah, dr. Frieda kan sudah menjelaskan pentingnya pemenuhan serat. Secara nyata, orangtua bisa lihat dampak dari kekurangan serat pada anak ialah konstipasi.

Untuk memastikan kondisi pencernaan anak, Bebelac mengenalkan digestive calculator atau kalkulator pencernaan. Pada halaman awal fitur tersebut, akan ada pertanyaan mengenai frekuensi BAB anak (kurang atau lebih dari dua kali), lalu bentuk feses (pilih satu dari 7 tipe feses). Lantas, Bebelac akan memberi informasi apakah anak menunjukkan gejala konstipasi, memiliki tanda pencernaan sehat, atau justru mengarah pada diare.

Dengan kalkulator itu, orangtua tidak hanya sekadar menebak kondisi pencernaan anak. Apapun hasilnya, orangtua bisa ambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

Mbak Pratiwi mengatakan, Bebelac Gold mengandung serat oligosakarida, yaitu FOS dan GOS yang terbukti klinis mempertahankan feses tetap lunak. Tiga gelas Bebelac Gold bisa membantu memenuhi asupan serat hingga tujuh gram atau sekitar 50% dari kebutuhan serat harian anak.