Saya harus bersyukur pada semesta yang membawa saya menekan tombol follow di profil Instagram @stellasutjiadi. Padahal akunnya digembok dan saya jarang mau ikuti akun tanpa lihat isinya dulu.

Sejak mengikuti akun mbak Stella, saya terpukau dengan bagaimana perempuan kelahiran Jakarta, 12 Desember 1983 ini, mendidik dan mengajar kedua putrinya, Daffana (7) dan Laluna (3) yang manis nan kreatif. Setiap hari ada kisah tentang aktivitas keluarga mereka, terutama tingkah dua putri yang sedang aktif mengeksplorasi dunia sekitar mereka.

Saya sangat kagum dengan mbak Stella yang meluangkan waktu dan pikiran untuk menciptakan aktivitas belajar anak di rumah. Begitu juga dengan proses pencarian bakat dan minat kedua putrinya. Di usia yang sangat dini, mbak Stella bisa melihat, mengarahkan, dan mendukung kedua putrinya berekspresi.

Lulusan Desain Komunikasi Visual ini bukan saja berbagi cerita di media sosial, tapi juga membuka kesempatan bagi orangtua yang juga mau mengajak anaknya punya aktivitas belajar dengan menawarkan karyanya dan putrinya di Instagram.

Saya berkesempatan bertanya hal-hal seputar parenting, khususnya bagaimana mbak Stella memfasilitasi minat dan bakat kedua anaknya. Berikut nukilan wawancara kami:


Tina: Apa makna menjadi orangtua bagi Mbak Stella?

Stella: Menjadi orangtua buat saya maknanya sangat dalam. Menjadi ‘orang tua’ ternyata menjadi titik balik dalam proses pendewasaan diri saya sendiri. Proses yg membuat diri saya menjadi lebih baik. Karena saya tersadar sepasang (sekarang menjadi dua pasang) mata ini terus mengawasi dan meniru gerak gerik saya, sehingga saya harus terus mau belajar menjadi lebih baik dari saya yg sebelumnya setiap harinya.

Menjadi orang tua adalah saat di mana saya harus gigih belajar untuk melatih kehendak diri yang kuat dalam memilih mana yang ‘baik dan benar’ di antara yang ‘enak tapi salah’. Harapan saya kelak anak-anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat, yang bisa memerintah dirinya untuk memilih yang benar dalam setiap kesempatan, terutama di saat saya sudah tidak mungkin selalu berada di sampingnya lagi.

Tina: Apakah menjadi orangtua merupakan sesuatu yang mbak rencanakan atau sesuatu yang terjadi secara natural setelah menikah?

Stella: Jika hanya berencana ‘ingin memiliki anak setelah menikah’, iya. Kami merencanakannya, bahkan tidak ada niat menunda sama sekali. Karena kebetulan kami sama-sama menyukai anak-anak. Dan rupanya doa kami didengar dan langsung diberikan jawaban. Hehehe.

Tina: Apa yang menurut mbak membuat seseorang bisa disebut orangtua yang baik?

Stella: Bagi saya orangtua yang baik adalah mereka semua yang sadar dan mau terus berproses belajar dalam mendewasakan dirinya bersama anak-anaknya.

Tina: Sebagai orangtua, nilai-nilai apa yang mbak Stella ingin dipegang dan dipahami oleh anak-anak? Lalu, bagaimana mbak memastikan anak-anak memahami nilai-nilai tersebut?

Stella: Nilai-nilai yang saya ingin anak-anak pegang adalah kebaikan, kejujuran, menghargai perbedaan, kegigihan, sportifitas, mampu bersyukur dan bekerjasama.

Saya memastikannya dengan selalu berusaha menerapkannya dalam keseharian kami dan pastinya dengan berusaha memberikan contoh secara langsung dari diri saya sendiri.

Tina: Apakah selama ini mbak punya rujukan atau teori parenting yang membuat mbak menerapkan gaya parenting sehari-hari?

Stella: Sejak awal saya punya pemikiran tersendiri tentang parenting ini dari memilah apa yang saya rasakan, juga yang saya lihat di sekitar saya. Kebetulan rupanya gambaran yang saya yakini tersebut cocok dengan teori-teori dua praktisi ini : Ellen Kristi dan Ayah Edi.

Walaupun mungkin apa yang saya jalani belum 100% berhasil persis seperti apa yang mereka bagikan. Saya berusaha dan terus belajar untuk bisa menerapkannya.

Tina: Apa buku parenting favorit dan mengapa?

Stella: Untuk saat ini saya suka dengan buku-buku karangan Ayah Edi dan mba Ellen Kristi (Cinta yang Berpikir). Alasannya karena pola asuh yang mereka bagikan, untuk saya pribadi, terasa sangat ‘memanusiakan anak-anak’. Keduanya memiliki prinsip serupa bahwa ‘orangtua wajib memiliki otoritas atas anak-anak, namun tidak otoriter.’ Dan masih banyak lagi nilai baik yang dapat dipelajari dari buku-buku Ayah Edi juga mba Ellen Kristi.

Tina: Hampir setiap hari, mbak membuat aktivitas anak untuk bermain dan belajar. Apa sih yang membuat mbak merasa anak butuh aktivitas seperti itu?

Stella: Seperti yang kita tahu, anak-anak justru banyak belajar saat ia bermain, sehingga saya berpikir, mengapa tidak saya maksimalkan kegiatan bermainnya. Ide permainannya biasanya berawal dari pertanyaan-pertanyaan mereka. Dari rasa penasaran mereka yang belum terjawab. Saya coba jawab melalui sebuah kegiatan bermain.

Kenapa saya persiapkan sendiri? Karena dengan begitu lebih mudah disesuaikan dengan apa yang anak-anak suka/minati/pertanyakan. Juga sangat mudah menyesuaikan dari segi tema maupun tingkat kesulitannya. Sangat custom dengan anak yang masing-masingnya tentu unik dan berbeda.

Selain alasan tadi, saya juga ingin keterbatasan akan biaya/modal tidak membatasi kegiatan/kebutuhan bermain/belajar anak-anak saya. Dan yang terakhir, saya ingin menanamkan pemikiran dalam benak anak-anak bahwa ‘tangan kita ini mampu membuat/membentuk apapun’ saya ingin mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang mampu menjadi ‘pencipta’. Manusia yang mampu merubah keterbatasan justru menjadi sebuah peluang untuk berkarya. Harapan saya mereka tidak diam pada keterbatasan.

Tina: Mbak pernah cerita anak pertama dan kedua punya sifat yang sama sekali berbeda. Nah, untuk gaya asuh dan didik, apakah mbak membedakan antara keduanya?

Stella: Mungkin lebih tepatnya adalah saya menyesuaikan. Hehe.. Saya tidak membedakan, tapi dengan sendirinya saya menyesuaikan dengan masing-masing karakter mereka. Karena memang tidak mungkin disamakan.

Tina: Apa yang spesial dari membesarkan dua anak perempuan?

Stella: Hmm..apa ya.. Jika dikaitkan dengan gender, saya rasa semua sama spesial sulit dan indahnya. Kalau dikaitkan dengan jumlah anak, 1, 2, 3 , dst, semua spesial. Yang pasti kalau dibandingkan dengan saat masih 1 dulu, sekarang jadi tambah spesial karena yang sayang sama saya jadi ada 2. Hehehe.

Tina: Sang kakak sudah terlihat bakatnya dengan mbak memfasilitasi minatnya, seperti main musik dan menggambar. Sebenarnya seperti apa proses mbak menuntun anak menemukan minatnya, lalu bagaimana membuat anak mau menekuninya?

Stella: Puji Tuhan kakak sangat kuat terlihat minatnya dari kecil. Tidak ada yg spesial. Yang saya lakukan hanya banyak bermain dan berkegiatan bersamanya. Banyak-banyak memperhatikan apa yang dia sukai atau kurang dia sukai saat berkegiatan bersamanya.

Cara kami untuk membuat anak-anak tekun. Pertama, dengan memastikan bahwa semua kegiatan yang anak-anak pilih adalah atas kehendaknya sendiri. Atas keinginannya yang kemudian kami bicarakan baik buruknya dan putuskan bersama. Jadi sejak awal sudah dibicarakan apa dan kenapa ia mempelajarinya. Tujuannya pasti untuk menguasai kemampuan tertentu yg diajarkan di sana. Dan agar tujuannya tercapai maka cuma satu caranya : tekun belajar.

Tina: Tidak semua orangtua punya bakat dan modal untuk membimbing anak dengan segala fasilitas. Apakah mbak punya saran agar orangtua bisa tetap membimbing anak menemukan minatnya?

Stella: Kalau yang ditanyakan bagaimana membimbing anak menemukan minatnya, maka seperti jawaban di pertanyaan sebelumnya. Banyak-banyak berkegiatan bersamanya. Usahakan kegiatan yg dilakukan pun bervariasi. Kemudian banyak-banyak ngobrol santai dengannya. Banyak-banyak perhatikan pilihannya.

Dan satu lagi bisa juga dengan banyak mengajaknya mengenal ragam profesi. Supaya pikiran anak-anak ini terbuka dan mengenal bahwa profesi itu tak terbatas pada ‘insiyur, arsitek, astronot, guru, dokter dan presiden’ saja.

Nah, saat semakin banyak ragam profesi baru yang ia kenal, mudah-mudahan ada salah satu dari pilihannya yang ia rasa klik di hatinya. Biasanya terlihat dari dirinya sendiri yang semakin penasaran dan mencari tahu tentang profesi tersebut.