Saya mengenal Natasya Gurning dari grup WhatsApp yang berjudul Unschooling yang diampu oleh psikolog Toge Aprilianto. Grup ini berisi para orangtua yang memilih alternatif di luar sekolah formal untuk mendidik anak. Well, masih ada juga orangtua yang menyekolahkan anak. Tapi tujuan utamanya bukan menyerahkan sepenuhnya pendidikan pada guru. Sekolah dianggap sebagai tamasya.

Nah, perempuan yang akrab disapa Tacang atau Micang ini memilih metode travelschooling untuk Olong, putranya yang berusia lima tahun. Natasya kerap mengajak Olong jalan-jalan untuk mengenalkan Olong pada hal-hal baru.

Metode travelschooling kerap dipilih oleh keluarga yang menerapkan homeschooling. Walaupun sebenarnya, bila sebagai orangtua kamu menyekolahkan anak di sekolah formal, bisa kok, mengajak anak liburan tapi dengan tujuan utama belajar.

Di samping kecintaannya mendidik Olong, Natasya juga punya bisnis penyewaan peralatan bayi. Jadi, perempuan kelahiran Jakarta, 12 Juli 1984 ini bisa dikatakan working at home mom slash mom entrepreneur.

Tanpa berpanjang kata lagi, yuk simak wawancara saya dengan lulusan Magister Manajemen ini:


Tina: Apakah menjadi orangtua menjadi salah satu mimpi kakak atau sesuatu yang terjadi secara alamiah setelah menikah?

Tasya: Menjadi orang tua adalah sesuatu yang aku rencanakan. Aku menunggu tiga tahun sampai akhirnya aku memutuskan untuk hamil.

Tina: Apa yang menurut kakak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik?

Tasya: Orangtua yang baik buatku itu adalah orang tua yang mampu menjadi teladan bagi anaknya. Untuk menjadi orang tua, pertama kita harus sanggup menjadi dewasa dulu, jangan sampai kita menjadi anak-anak yang terjebak di badan orang dewasa.

Tina: Nilai-nilai apa yang kakak ingin selalu dipegang atau dianut oleh anak-anak?

Tasya: Menurut aku pribadi, nilai itu tergantung dari di mana kita berada. Contohnya, nilai-nilai yang dianggap baik di Indonesia, pasti beda dengan nilai yang dianggap baik di belahan dunia lainnya. Jadi kemampuan adaptasi buatku penting untuk Olong kuasai. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Karena itulah sebisa mungkin aku selalu membawa Olong ke situasi yang majemuk.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang kakak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang kakak dapatkan setelah melewatinya?

Tasya: Mulai dari Olong lahir sampai sekarang ini pun, semua perjalananku menjadi orangtua menurutku berat. Tapi, aku merasa tidak clueless lagi semenjak ketemu OmGe (Toge Aprilianto, psikolog).

Tina: Tolong ceritakan sejak kapan kakak mulai berbisnis, apa yang melatarbelakangi dan apa yang membuat kakak suka berbisnis?

Tasya: Aku mulai bisnis sewa peralatan atau perlengkapan bayi Tacanglala dari tahun 2007. Awalnya sih, iseng doang.

Tina: Bagaimana perkembangan bisnis kakak sampai saat ini?

Tasya: Bisnis yang dimiliki saat ini bisnis e-commerce dengan omset di bawah Rp 100 juta per bulan, dengan karyawan tetap dua orang dan karyawan freelance kurang lebih lima orang.

Tina: Hambatan atau tantangan apa yang kakak hadapi dalam berbisnis dan kaitannya dengan peran dan tanggungjawab kakak sebagai orangtua?

Tasya: Hambatannya terhadap peran sebagai orangtua, sih, tidak ada, karena anak sudah bisa diajak bersepakat. Tapi capek-nya, aku tidak bisa bohong pada Olong.

Tina: Travelschooling. Di beberapa postingan, kakak cerita tentang travelschooling. Sebenarnya apa travelschooling itu, sejak kapan kakak mulai dan apakah ada alasan mengajarkan anak melalui travelschooling?

Tasya: Travelschooling Olong sudah dari, hmmm… kayaknya sejak Olong umur dua tahun, deh. Selain keluar kota, kita rutin juga trip #rabubersamaOlong tapi memang sudah jarang di-posting lagi karena mengurangi konten feed di IG.

Tina: Pada prakteknya, ketika travelschooling, apa saja yang kakak ajarkan pada anak?

Tasya: Pada prakteknya tidak muluk-muluk kok. Belajar itu kan sesederhana dari tidak tahu jadi tahu. Olong sih selalu antusias. Kadang ada saat dia moody ketika kita terlalu lama di mobil.

Tina: Apakah ada tempat yang sangat berkesan dan pelajaran apa yang didapatkan dari mengunjungi tempat tersebut?

Tasya: Paling berkesan waktu kita ke Amerika Serikat, karena saat itu bisa dengan mudahnya menerangkan ke Olong bahwa bumi itu bulat berputar mengelilingi matahari. Olong bisa tahu saat pagi di Amerika, di Jakarta sedang malam.

Tina: Apakah kakak merekomendasikan travelschooling ini untuk orangtua lain?

Tasya: Mempraktekkan travelschooling tergantung preferensi orangtua dan juga rute belajar anak. Kebetulan Olong itu rute belajarnya mendengar, melihat, dan melakukan. Jadi aku merasa travelschooling adalah cara paling ideal untuk aku dan Olong.