Saya yakin tidak ada orangtua yang bercita-cita menitipkan anak di daycare. Namun, kesibukan bekerja di kantor membuat banyak orangtua melakukannya.

Kalau kamu salah satunya, yuk belajar dari Tyas Permana, pegawai di perusahaan transportasi di Bandung dan freelance graphic designer. Sebenarnya, Tyas berbagi pengalamannya menjadi ibu bekerja tanpa menyewa jasa asisten rumah tangga alias ART di grup Orami.

Tips yang diberikan sangat bagus sehingga saya minta izin beliau untuk membagikannya di blog ini. Tentu saja saya sekaligus mewawancarainya tentang hal-hal menjadi orangtua.

Berikut cerita lengkap Tyas dan hasil wawancara kami:


Tina: Apa yang menurut mbak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orangtua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?

Tyas: Menurut saya, baik itu relatif yah. Tapi satu yang saya yakini, setiap orang tua pasti selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya.
Apabila saya harus menempatkan diri menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak, sata harus bisa menyayangi dan memahami perasaan mereka. Dengan begitu saya bisa tahu bagaimana memperlakukan anak dengan tepat. Merekapun akan merasa dimengerti dan merasa disayang oleh orang tuanya.

Tina: Nilai-nilai apa yang mbak ingin selalu dipegang atau dianut oleh anak-anak? Lalu, bagaimana sebagai orangtua, mbak Tyas memastikan nilai tersebut dipahami dan dipegang oleh anak-anak?

Tyas: Saya ingin anak-anak tumbuh jadi orang yang penyayang, bahagia, mandiri, dermawan, rendah hati dan bertanggung jawab. Selain dengan memberikan contoh, saya juga selalu memberikan afirmasi positif kepada anak. Kapan saja saya lakukan itu, misalnya sebelum tidur atau ketika mengantar anak ke sekolah. “Di sekolah jadi anak baik yah, kakak dan adek, selalu ceria, hebat, sholehah anak Ibu. Ibu sayang kakak dan adek”, lalu saya cium mereka dan berpelukan.

Selain itu untuk memastikan, saya lihat dari sikap Nabila, anak pertama yang kebetulan sudah bisa paham dengan jelas. Contohnya saya bisa melihat apakah yang saya ajarkan tentang berbagi sudah bisa dia terapkan dengan adiknya atau belum. Bahkan ini bisa jadi boomerang untuk saya sendiri, dia sudah bisa menirukan kalau saya lagi marah-marah ke adiknya. 😂

Tina: Apakah mbak pernah merasa gagal jadi orangtua? Apa yang mbak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?

Tyas: Sesungguhnya kesalahan-kesalahan sebagai orangtua yang pernah saya lakukan tidak saya anggap sebagai kegagalan tapi sebagai proses pembelajaran. Saya evaluasi lalu perbaiki lagi untuk ke depannya. Seperti kita lagi lagi ujian pasti ada soal yang tidak bisa kita kerjakan dengan baik atau salah. Nanti pas remidial saya bisa perbaiki lagi.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang mbak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang mbak dapatkan setelah melewatinya?

Tyas: Momen terberat selama jadi orangtua adalah managemen emosi diri sendiri.
Bagaimana caranya agar tetap tenang melihat anak tiba-tiba bawa air satu gayung lalu disiram ke lantai karena katanya mau bersihkan lantai yang kotor kena ice cream, atau mendapati anak menumpahkan sereal di kasir, maupun menahan marahi kakak karena pukul-pukul adiknya.

Oleh karena itu, saya selalu mengingatkan diri untuk tarik nafas dalam sebelum menegur anak, berharap ada perasaan adem masuk ke dalam diri biar tidak langsung marah-marah. Setelah saya pikir, marah-marah kadang juga percuma, saya capek marah, tangis si anak malah semakin jadi. Berakhir nggak ada solusi deh jadinya.
Jadi sebenarnya belajar mengelola emosi ini sangat penting sih untuk ibu-ibu macam saya. Akhir-akhir ini saya agi ngikutin podcast dari para pakar emotional healing.

Tina: Secara garis besar, apa tujuan dan impian mbak dalam mengasuh dan mendidik anak?

Tyas: Saya ingin anak-anak paham mengenai agamanya. Itu yang paling utama.
Selain itu, saya ingin mereka jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, dari ilmu yang mereka miliki maupun dari perilakunya. Saya berharap sekali mereka tumbuh jadi anak yang bahagia dan punya rasa kasih sayang yang akan jadi bekal mereka untuk selalu berbuat hal-hal yang positif.

Saya dan suami selalu berusaha untuk menciptakan lingkungan keluarga yang bahagia dan hangat penuh kasih. Karena sejujurnya kami, apalagi saya, sangat khawatir apabila anak-anak sampai kekurangan kasih sayang lalu mereka cari perhatian di luar sana. Apalagi anak kami perempuan semua, kami khawatir mereka jatuh ke pelukan laki-laki yang tidak tepat, yang hanya menawarkan kebahagiaan semu.

Tina: Tolong ceritakan perjalanan sampai memutuskan merawat anak tanpa bantuan pengasuh atau ART

Tyas: Sebelum punya anak dan tinggal hanya berdua suami, banyak sekali waktu luang yang kami miliki, rumah selalu rapi, pekerjaan domestik bisa diselesaikan dengan mudah dan cepat. Banyak kesempatan untuk refreshing dan merasa jauh sekali dari stress.

Lalu tiba juga saatnya kami memiliki anak pertama, kebetulan kami perantau dan tinggal jauh dari saudara. Saat itu, kami kesulitan mendapatkan pengasuh yang cocok, belum lagi suami kerja di luar kota yang mengharuskan beliau berangkat pukul 05.00, tiba di rumah pukul 20.30 (PP Bandung-Karawang). Jadi, saya harus mengurus semua hal sendirian, mulai menyiapkan bekal saya dan suami ke kantor, pumping, cuci botol dan lain-lain. Membayangkannya saja bikin saya bete.

Saya sempat merasa sangat stres. Kemudian, belum selesai urusan menyesuaikan diri dengan adanya anak pertama, saya hamil lagi. 😂 Setelah melewati masa bongkar pasang menyusun puzzle kehidupan, saya mengambil kesimpulan agar bisa bertahan hidup tanpa pengasuh/ART, saya menerapkan tips berikut ini:

Pertama, menyelamatkan diri sendiri. Saya menggunakan prinsip ketika ada kecelakaan pesawat, pramugari menghimbau penumpang untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu, baru menyelamatkan orang lain.
Saya menyelamatkan diri agar tidak stres, tidak capek, tidak lapar agar mood selalu happy dan bisa mengurus keluarga dengan baik. Dulu saya menomorsatukan anak, anak harus cukup makan, cukup istirahat, eh saya sendirinya kurang makan, kurang istirahat, jadi gampang sakit dan mood berantakan.
Sekarang jadi saya balik, saya selalu memastikan saya cukup makan, istirahat (tanpa mengesampingkan kebutuhan anak) dan menghindari toxic agar hidup tetap waras. Happy wife, happy family. Iya, kan?

Kedua, saya menurunkan standard dan ekspektasi. Semua standard saya turunkan, mulai kebersihan, kerapian, masakan enak, bahkan karir. Dulu saya gatel kalau tidak mengepel sehari. Sekarang saya sudah bisa menerima, tidak apa-apa rumah tidak dipel, asal tidak ada benda berbahaya berserakan di lantai, untuk menghindari barang melukai anak atau tertelan oleh anak. Yang dulunya semua baju wajib disetrika, sekarang tidak apa-apa, deh, baju rumahan tidak disetrika daripada waktunya habis buat setrika segambreng terus jadi capek lalu marah-marah. Lebih baik waktu saya digunakan untuk main sama anak atau istirahat maupun mengerjakan hal yg lebih mendesak.
Untuk karir, mungkin beberapa orang akan terhambat karena pasti dipandang kurang kompeten apabila diberi tanggung jawab lebih. Saya pernah dibilang ‘kamu ini salah satu pekerja yang karirnya gini-gini aja, masa kerja, kok, mentingin keluarga’ oleh atasan saya karena jarang ikut dinas luar maupun pelatihan-pelatihan di luar kota sebab tidak bisa meninggalkan anak-anak. Bagi saya, semuanya pilihan, pasti ada yang harus dikorbankan.

Ketiga, berbagi peran dengan suami. Kami sedari awal menikah sudah menentukan pembagian tugas keluarga. Kami memiliki tanggung jawab masing-masing. Urusan perbajuan mulai dari memisahkan pakaian kotor, mencuci, menjemur itu urusan suami.
Lalu segala urusan dapur dan anak-anak saya yang tangani.
Untuk setrika dan beres-beres rumah kami gantian, kalau lagi capek banget, kami biarkan saja, atau kami menggunakan layanan bersih-bersih online lewat aplikasi maupun laundry.

Tina: Lalu, siapa yang menjaga anak-anak?

Tyas: Dengan keadaan suami istri bekerja dan jauh dari sanak saudara, menitipkan anak di daycare adalah cara yg paling ideal menurut kami. Kami tidak menggunakan jasa nanny karena jujur saja kami kesulitan mendapatkan yang pas. Kami juga khawatir kalau harus meninggalkan anak di rumah sendirian dengan orang asing.

Sedangkan di daycare, saya yakin daycare akan menjaga mutu mereka, ada supervisor juga. Ini yg membuat kami tenang.

Tina: Apa saja kriteria mbak dalam memilih daycare?

Tyas: Memilih daycare disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut keluarga, standard daycare bagus menurut tiap keluarga juga berbeda.

Namun, ketika kami memilih daycare kami mempertimbangkan beberapa hal berikut:

  • Lokasi

Saya memilih lokasi daycare yang dekat dengan kantor, jadi apabila terjadi sesuatu, saya bisa cepat bergerak ke daycare, anak pun tidak perlu menunggu lama saat dijemput.

  • Sarana dan prasarana

Dimulai dari sirkulasi udara yg masuk, pencahayaan, ruang terbuka hijau, playground, kebersihan ruang bermain, ruang makan, ruang tidur, kamar mandi, serta program-program pembelajaran yang ditawarkan.

  • Fasilitas lain.

Misalnya, pemeriksaan dokter gigi enam bulan sekali, pembagian laporan perkembangan anak setiap tiga bulan, makan dan snack, kolam renang, maupun kegiatan lainnya.

  • Harga

Semakin banyak fasilitas yg ditawarkan tentunya semakin mahal, namun tetap disesuaikan dengan budget dari keluarga masing-masing. Yakinlah tidak ada sesuatu yang benar-benar ideal hehehe.

Tina: Untuk makan keluarga sehari-hari bagaimana?

Tyas: Suami saya harus membawa bekal sarapan dan makan siang ke kantor, anak-anak pun membawa bekal sarapan, begitu juga saya. Jadi saya menerapkan sistem food preparation.
Saya pribadi menyusun menu untuk seminggu, belanja kebutuhan, setelah itu saya potong dan membagi bahan makanan ke dalam kontainer-kontainer, lalu simpan di kulkas. Saya juga membuat bumbu dasar agar setiap masak tinggal panaskan minyak, kasih bumbu, lalu masukkan sayur. Untuk protein juga sudah saya siapkan sesuai menunya. Kalau berniat bikin ayam goreng saya sudah ungkep ayamnya, ketika mau dimakan tinggal goreng. Ini cukup melelahkan, tapi trik ini sangat berguna.

Tina: Apa ini berlaku juga untuk MPASI untuk si adik?

Tyas: Cara paling gampang memang menggunakan slow cooker. Sebelum tidur masukkan bahan ke tembikar, kasih air, lalu tutup, colokkan, tinggal bobok, paginya mateng deh.
Tapi kadang anak bosan juga makan bubur terus, dan target saya anak harus bisa ikut makan menu keluarga kalau sudah satu tahun, tentu saja agar saya tidak repot masak berkali-kali.

Jadi saya selalu mengikutkan anak bayi untuk ikut menu makan kita walaupun dengan bentuk yg berbeda. Sebagai contoh, hari ini saya membuat lodeh dan telur dadar. Si anak bayi juga menunya sama, sebelum diberi bumbu saya pisahkan dulu sayurnya, lalu saya saring dengan nasi dan ditambah tempe dan telur goreng yang disaring atau disesuaikan dengan tekstur anak.

Tina: Sejak usia berapa anak dititipkan di daycare? Ceritakan sedikit kelebihan dan kekurangan menitipkan anak di daycare.

Tyas: Saya menitipkan dua anak saya sejak usia 2,5 bulan (selesai cuti melahirkan banget). Kekurangan yang sering dirasakan, anak rentan sekali tertular penyakit, apalagi batuk pilek itu tiada habisnya hehehe.
Kadang saya merasa capek sekali, suka terburu-buru, takut telat ke kantor. Saya harus drop anak, ke kantor, pulang, jemput lagi. Kebetulan saya pengguna kendaraan umum. Lalu, barang-barang anak sering tertukar di daycare.

Sejujurnya, saya tidak ada perbandingan dengan anak yang tidak di daycare. Tapi karena tiap tiga bulan dapat laporan perkembangan anak, saya jadi tahu anak saya ada kekurangan dimana, apakah sudah sesuai dengan perkembangan yang seharusnya atau saya harus kasih treatment apa di rumah. Enaknya, anak bisa menggunakan mainan daycare, mereka bisa gerak bebas juga karena playground-nya luas.

Tina: Kalau boleh tahu, berapa tarif penitipan daycare untuk dua anak?

Tyas: Untuk menitipkan baby, biayanya Rp 2,4 juta per bulan. Sementara untuk kakaknya yang sudah toddler, Rp 2,2 juta per bulan.

Sebenarnya hampir semua gajiku habis untuk membayar daycare. Jujur saya dibilang blagu oleh orang kantor, karena posisi saya sebagai staf, tapi memilih menitipkan anak ke daycare.
Tapi saya tidak berani resign untuk saat ini. Saya takut stres dan marah-marah di rumah.
Saya pernah mengajukan resign, tapi ditolak oleh atasan. Minta mutasi ke daerah asal juga tidak diijinkan.
Ujungnya saya malah menjadikan kantor jadi semacam tempat me time. Saya bisa makan dengan tenang, bisa mengerjakan sesuatu yang disenangi, bahkan bisa mengurus online shop saat senggang.

Setelah sampai rumah, saya merasa energi terisi. Di rumah saya main dengan anak-anak, tanpa pegang ponsel.