Instagram mom alias mama Instagram. Istilah itu mencuat beberapa tahun belakangan berkat kemunculan media sosial yang memungkinkan mama-mama mengekspresikan dirinya melalui gambar dan kata.

Nah, mama-mama Instagram ini ada macamnya juga. Ada yang hobi #ootd sama anak. Ada yang doyan review produk. Ada yang berbagi pengalaman traveling dengan keluarga. Ada juga yang suka bebikinan alias kreatif sekali membuat permainan untuk anak.

Putri Normalita, menurut saya, memenuhi dua kategori terakhir. Kalau lihat feed Instagram-nya, kamu bisa melihat banyak karya dari mamaibu Caraka ini. Perempuan kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1990 ini rajin sekali membagikan ide bermain dengan anak. Orangtua lain yang melihatnya punya pilihan untuk terinspirasi, tergerak mengikuti, atau jiper karena “Kok daku ga bisa serajin itu, ya.” 😆

Lulusan D3 Sastra Inggris ini juga doyan jalan-jalan bersama keluarga dan membagikan pengalaman plesirannya pada followers-nya yang sudah mencapai lebih dari 17K itu. Saat ini, Putri berdomisili di Blitar, Jawa Timur.

Saya bertanya pada Putri tentang menjadi orangtua dan hobinya berkreasi bersama putranya, Caraka. Berikut nukilan wawancara kami:


Tina: Apa yang menurut mbak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orangtua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?

Putri: Seseorang yang pantas menjadi orang tua bagi saya adalah seseorang yang telah mampu mengorbankan waktunya. Menurut saya, sesungguhnya waktu bersama anak adalah hal yang paling esensial dalam dunia parenting. Kalau cuma bisa kasih materi atau kasih makan saja, jangan berkeluarga atau punya anak, tapi beternak saja. 😁 Karakter yang harus dimiliki tentu saja keinginan untuk terus belajar, karena menjadi orang tua adalah peran yang begitu besar.

Tina: Nilai-nilai apa yang mbak ingin selalu dipegang atau dianut oleh anak-anak? Lalu, bagaimana sebagai orangtua, mbak Putri memastikan nilai tersebut dipahami dan dipegang oleh anak-anak?

Putri: Ketakwaan. Saya ingin Caraka selalu ingat nilai yang satu ini. Bagi saya ini menjadi hal yang paling mendasar, karena setiap anak atau manusia, jika tidak memiliki nilai yang satu ini, betapa suksesnya ia nanti pasti akan goyah dan jatuh.

Untuk memastikannya, saya terapkan kegiatan keagamaan dalam kegiatannya sehari-hari. Sambil terus memberinya pemahaman tentang dasar-dasar ilmu agama tanpa henti.

Tina: Apakah mbak pernah merasa gagal jadi orangtua? Apa yang mbak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?

Putri: Tentu saja, bahkan ketika anak sakit pasti perasaan itu selalu datang. Tapi saya tidak ingin terlalu larut, saya selalu mencoba bangkit dan kembali percaya pada diri saya sendiri. Mencoba selalu percaya bahwa saya bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak saya.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang mbak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang mbak dapatkan setelah melewatinya?

Saat Caraka harus dioperasi (karna fimosis) saat usianya baru dua bulan di rumah sakit, namun ayahnya gak ada di samping saya karena masih terikat pekerjaan di Australia. Saat itu saya masih menjadi ibu baru yang mudah sekali stress, bahkan saya sudah menangis ketika Caraka cuma diambil darahnya.

Itu jadi ujian terberat dalam hidup saya sejauh ini. Dari sana saya belajar bahwa menjadi ibu adalah waktu di mana saya harus terus mengasah kualitas diri. Bagaimana anak saya bisa menjadi sosok yang tegar kalau sayanya aja lembek? Bagaimana suami saya bisa terus dukung kalau saya sudah mundur?

Karena terus mencoba bangkit diiringi kepasrahan pada Sang Maha Khalik, Alhamdulillah saya bisa melewatinya dan menjadi pembelajaran yang sangat berarti untuk saya. Menjadi ibu itu harus kuat dalam mengendalikan beragam emosi, dan bukan yang sebaliknya.

Tina: Secara garis besar, apa tujuan dan impian mbak dalam mengasuh dan mendidik anak?

Putri: Saya ingin Raka jadi anak yang sholeh, berbakti dan yang paling utama, ia bisa menjadi sosok yang selalu ingin terus belajar. Baik saya dan ayahnya, ingin ia memiliki kemampuan survival yang tinggi, sehingga kelak bisa menjadi sosok yang bermanfaat untuk banyak orang, apapun passion dan cita-citanya nanti.

Tina: Sejak kapan mbak mulai hobi bikin kerajinan tangan? Lantas, bagaimana hobi itu didukung dengan peran dan tugas sebagai orangtua?

Putri: Sejak masa sekolah, saya jadi murid yang bahagia sekali ketika dapat tugas membuat prakarya. Awalnya saya hanya ingin membunuh rasa bosan ketika harus terus di rumah dan mengasuh anak saja. Tapi tidak sengaja saat Raka berusia setahun ia terlihat ingin ikut terlibat, dari sana saya berpikir bahwa mungkin ada darah ‘crafty‘ dari saya yang turun ke anak ini. Seiring berjalannya waktu itu jadi bonding yang sangat menyenangkan bagi saya dan Caraka.

Tina: Setahu saya, mbak menggunakan metode Montessori dalam mengajar anak. Dalam pengertian mbak, apa itu Montessori dan mengapa metode ini cocok untuk diterapkan pada anak Mbak?

Putri: Montessori sendiri adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, yang berdasar pada teori perkembangan anak. Jadi metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar dengan tingkat perkembangan anak, serta peran aktivitas fisik dalam menyerap mata pelajaran secara akademis maupun keterampilan praktik secara langsung. Sesuai dengan tujuan tertentu, metode ini menjadi metode yang menurut kami paling cocok untuk Caraka.

Tina: Apa dampak positif yang mbak lihat dari tumbuh kembang anak dengan mengenalkan banyak kegiatan, seperti membaca, jalan-jalan atau bebikinan di rumah?

Putri: Caraka menjadi anak yang percaya diri. Ia berani dalam mengeksplorasi imajinasinya serta mendapat teman baru. Ia juga jadi anak yang paham kalau sesuatu yang rusak bisa diperbaiki lagi dan terbiasa mengajak saya untuk membuat mainan, jika ada suatu mainan yang ia inginkan.

Tina: Ada budget khusus gak untuk menyediakan alat-alat bermain anak atau untuk ajak anak jalan-jalan tiap bulannya?

Putri: Tidak ada budget khusus sih, tapi tetap berusaha untuk menyediakannya selama yang dibeli bermanfaat untuk bahan belajar. Kalau traveling sudah pasti, kami biasanya menabung dan mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Tina: Apakah mbak memberikan gadget atau waktu untuk menonton TV pada anak? Bagaimana kesepakatan dengan suami dan anak soal screen time untuk anak?

Putri: Kami tidak ingin memberi Caraka gadget sampai usianya cukup. Untuk saat ini bahkan menyentuh ponsel saja, ayahnya melarang keras. Kalau untuk tontonan (yang edukatif tentunya, ya), tetap saya berikan dengan waktu yang terbatas serta selalu saya dampingi. Kesepakatannya tidak boleh lebih dari satu jam dalam sehari.

Saya juga sudah menerapkan sistem voucher pada Raka. Ia punya 4 voucher (@15 menit) dalam satu hari. Jika voucher menontonnya sudah habis, ya tidak boleh menonton lagi. Kalau ia tidak ingat TV karna asik dengan aktivitas montessori-nya, ya, saya tak memberinya tontonan sama sekali.

Tina: Ceritakan sedikit dong pengalaman WHV di Aussie. Berapa lama dan pekerjaan apa saja yang dilakukan di sana? Apakah pengalaman WHV memengaruhi pola pikir atau cara pandang mbak dalam segi tertentu, terutama sebagai orangtua?

Putri: Ketika berangkat WHV saya sedang mengandung Caraka empat bulan, jadi saya hanya menggunakan visanya selama tiga bulan. Berbeda dengan suami saya yang full selama setahun tinggal di Sydney.

Pekerjaan yang kami lakukan beragam banget, mulai dari membersihkan apartemen, menjadi waitress, tukang mmbersihkan kebun atau gudang, sampai bekerja di dapur. WHV banyak merubah cara pandang kami terhadap pejuang devisa negara (TKI), dan profesi pekerjaan casual yang sebelumnya gak pernah kami lakukan di tanah air.

Cara pandang yang berubah sebagai orang tua, kami ingin Caraka besar nanti bisa melihat apa yang kami lihat dan berharap bisa menjadi anak yang mandiri seperti mahasiswa disana yang berjuang mencari uang saku dengan bekerja sendiri.

Tina: Apakah ada tips atau saran praktis bagi para orangtua yang juga ingin mengisi keseharian anak dengan aktivitas positif?

Putri: Tidak ada mainan terbaik yang dibutuhkan anak, kecuali tubuh orang tuanya sendiri. Orangtua cukup meluangkan waktu. Kegiatan belajar sehari-hari bisa dilakukan dengan sederhana dengan menggunakan alat di sekitar rumah. Terus tanamkan dalam diri bahwa melahirkan dan membesarkan anak adalah kesempatan melahirkan serta menciptakan sebuah peradaban.