You’d be surprise how much you can have in common with someone completely different from you.

Saya ingat betul ketika pertama kali melihat Elga Ayudi di kantor. Saat itu, dia muncul bersama beberapa karyawan baru di kantor kami.

Saya ingat persis berpikir, “Ini orang penampakannya jurnalis banget.” Setelah beberapa lama, saya memutuskan tidak akan cocok berteman dengannya karena dia tampak sangat berbeda dengan saya. Elga itu ceriwis, trendi, dan galak. Beda dengan saya yang pendiam dan berusaha biasa-biasa saja di kantor.

Itu sebabnya saya tidak mau banyak berinteraksi dengannya. Toh, ketika reporter baru makan siang bersama, dia entah ke mana, mungkin liputan di luar kantor atau memilih pesan makanan lewat office boy kantor dan makan dengan reporter lama.

Entah bagaimana kami bisa berteman dekat. Seingat saya, kami jadi sering ngobrol langsung atau bertukar pesan lewat WhatsApp atau Gmail setelah dipertemukan di desk yang sama.

Sepertinya bos yang buruk lah yang mempersatukan kami. Untuk menjaga kewarasan sebagai sesama reporter muda di bawah tekanan para bos yang kurang mumpuni, kami sering bertukar cerita dan keluh.

Sebenarnya saya tidak suka mengeluhkan pekerjaan. Tapi, situasi saat itu memang jauh dari kondusif. Makanya, waktu Elga datang dan mengeluhkan kelakuan bos yang sama, saya merasa tidak sendirian. Saya merasa ada kawan.

Ternyata seperti kalimat yang saya kutip di awal, saya menemukan banyak kesamaan dengan Elga. Waktu itu kami sama-sama memuja mbak Taylor Swift. Bahkan saya sempat meminjam CD “1989” dari Elga. Bayangkan, saat semua orang dengan mudah membajak musik mbak Taylor, Elga bersedia merogoh kantong membeli CD sebagai bentuk apresiasi terhadap karya Taylor. It’s pretty amazing, if you ask me.

Untuk berbagai hal, pandangan kami juga sama. Dan kalaupun kami berbeda pendapat, tidak ada yang perlu ngotot mempertahankan pendapatnya. We learn to agree to disagree in elegant way.

Begitulah ceritanya saya punya teman dekat di kantor. Padahal, sebelumnya saya tidak merencanakan hal itu. Saya dulu berpikir, cukuplah relasi profesional saja yang dibangun dengan orang-orang kantor. Saya tidak mau mencampurnya dengan relasi sosial atau personal.

Tapi saya sama sekali tidak menyesal. Saya bersyukur malahan. Sebelumnya saya tidak menyangka saya bisa berteman dekat dengan seseorang yang usianya ehmm, lebih tua, yang saya kenal di kantor.

Waktu masih sekantor, kami kerap hura-hura berdua. Selain ke mall bareng, Elga sangat sering menemani saya ketika ada liputan. Saya ingat, dia sering memberi ide topik atau narasumber menarik untuk saya liput atau wawancarai. Ini yang seringkali membuat saya bertanya-tanya, kok ada orang sebaik Elga.

Perpisahan

Semua berjalan manis. Yang menyenangkan dari Elga adalah, dia bukan tipe teman yang demanding atau posesif. Jadi saya bisa punya kehidupan pertemanan lain saat tidak bersamanya. Begitu juga dengan dia. Soalnya saya sudah kapok berteman dengan orang yang butuh relasi yang eksklusif. Padahal namanya pertemanan kan tidak ada kontrak, ya. 😛

Sampai suatu saat Elga bercerita dia hendak resign. Saya ingat merasa seperti ada bom yang meledak dan menghancurkan hati saya berkeping-keping saat mendengar ceritanya.

“Gw mau ke Australia untuk program au pair. Rencananya setahun di sana,” begitu tuturnya. Saya berusaha suportif dan mengatakan betapa kerennya dia dan rencananya itu.

Saya tidak pernah menunjukkan secara langsung, tapi saya merasa sedih dan kecewa ketika tahu Elga berhenti dari kantor untuk mewujudkan mimpinya tinggal di Negeri Kanguru. Di sisi lain, saya sangat terinspirasi dan bangga punya sahabat berjiwa bebas seperti Elga.

Bersyukur setahun setelah mencicipi the land down under, Elga kembali ke Jakarta dan kami bisa bertemu lagi. Saya senang dia datang ketika anak saya baru lahir. Saya juga senang ketika dia menjumpai saya beberapa hari sebelum saya pindah dari Jakarta.

Ya, kami berpisah lagi. Saya pindah ke Sumatera Utara. Tidak lama, Elga mengambil pekerjaan di Manado, walaupun sekarang sudah pindah lagi, tinggal dekat ibukota.Selama bertahun-tahun, kami tetap menjalin komunikasi meski sudah beda lokasi. Bagi orang lain, mungkin ini biasa. Tapi bagi saya, ini istimewa. Elga memang istimewa.

Pasalnya, saya tipe orang yang move on dengan cepat. Kalau tidak begitu spesial, saya cenderung melupakan orang-orang yang jarang saya temui. Saya tidak mau repot menjalin relasi dengan orang yang tidak saya temui langsung.

Pertemuan terakhir kami terjadi dalam masa kurang menyenangkan. Ketika anak saya didiagnosis sakit, Elga mengerahkan segala yang dia mampu untuk membantu. Betapa leganya saya punya orang yang bisa diandalkan seperti Elga. Yang Elga lakukan saat itu bahkan melampaui apa yang saudara saya sendiri lakukan.

Sampai sekarang, kami cukup sering bercerita, untuk update kondisi kami. Meskipun tentu tidak sama rasanya ketika lokasi kami berdekatan dan bisa bertemu tatap muka. Saya sering menanyai opini Elga untuk banyak isu karena saya tahu, Elga merupakan orang yang bisa berpikir jernih dan jauh dari prasangka buruk atau kebencian.

Bahkan, ada beberapa hal yang saya bicarakan dengan Elga, tapi tidak saya ceritakan pada suami. Senyaman itu saya dengan dia. Saya juga merasa senang ketika Elga cerita tentang kesalahan atau penyesalannya dalam relasi dengan orang lain. Saya senang ada keterbukaan di antara kami.

Namun saya sering merasa menyesal tidak ada bersamanya saat saya tahu dia stress menghadapi dunianya. Saya kesal pada diri sendiri begitu tahu Elga butuh sesuatu tapi saya tidak bisa membantunya. Dalam banyak momen, saya sering berpikir, “Wish Elga was here. That’d be more fantastic.

Tapi saya percaya, persahabatan yang kuat tidak butuh percakapan rutin atau kebersamaan secara fisik terus menerus. Asalkan kita menyimpan persahabatan dalam hati, sahabat akan terus bersama kita.

Saya masih menunggu semesta mempertemukan kita kembali, Elga. Tapi sampai waktu itu tiba, saya harap kamu dipertemukan dengan orang-orang tulus yang peduli denganmu dan semesta terus menjagamu.

Terima kasih untuk segalanya.

Terima kasih sudah menjadi Elga yang saya kenal selama ini.