Menjalani peran sebagai orangtua hari lepas hari itu berat. Setuju gak? Makanya, orangtua butuh pelampiasan. Ada yang menghibur diri dengan makan, jalan-jalan atau ketemu teman-teman. Ada juga yang memilih membagikan cerita-cerita seputar anak-anak dan keluarga di media sosial.

Cara terakhir ini dipilih oleh Yuska Putri. Netizen mungkin mengenalnya lewat akun @MrsEuscha di Instagram atau Twitter. Hampir setiap hari, perempuan kelahiran Malang, 19 Januari 1987 ini membagikan kejadian unik bin ajaib yang dialaminya bersama anak-anak. Walaupun tidak semuanya kejadian indah, Yuska beserta Rahan, suaminya, mengemasnya jadi lucu dan menghibur. “Kami ingin berbagi cerita tentang kesalahan kami atau keberhasilan kami,” begitu tutur ibu tiga orang anak ini.

Sehari-hari Yuska membersamai ketiga orang anaknya yang kini berusia 7 tahun, 5 tahun, dan 2,5 tahun. Melalui cerita-ceritanya, saya melihat bahwa setiap anak unik dan punya kepribadian yang menarik. Di saat orangtua lain berusaha menampilkan citra sempurna sebagai orangtua, Yuska dan suaminya berani jujur dengan apa yang dialami.

Saya bertanya tentang peran sebagai orangtua pada Yuska dan bagaimana lulusan Fakultas Teknik dari salah satu universitas negeri di Malang ini mengajarkan agama di tengah interfaith marriage yang dijalaninya. Berikut hasil wawancara kami:


Tina: Apakah menjadi orangtua menjadi salah satu mimpi mbak atau sesuatu yang terjadi secara alamiah setelah menikah?
Yuska: Jujur, waktu masih muda dan bergelora dulu, aku gak suka anak-anak. Apalagi anak yang lari-larian di tempat keramaian dan orang tua mereka asyik ngobrol. Aku benci sepasang orang tua dan anak yang begitu. Hahaha.
Sampai akhirnya aku ketemu sama suami aku, tiap pacaran di suatu tempat kami suka mengamati tuh bagaimana pasangan berkumpul, gimana keluarga menghabiskan waktu, sampai akhirnya kami punya rumusan bentuk keluarga yang kami mau bentuk. Berapa jumlah anak, bagaimana susunan anak, gimana cara parenting kita kelak, visi dan misi keluarga, semua kami bikin dari awal. Jadi waktu anak-anak lahir, kami sudah punya pegangan jalur mana yang akan ditempuh.
(Btw kalau Rahan sih emang pengen jadi orang tua dari dulu. Aneh ya. Orang mah pengen jadi Superman kek, dokter kek, dia malah pengan jadi Bapak. Hehehe.)

Tina: Apa yang menurut mbak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orangtua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?
Yuska: Orang tua yang baik menurut kami tuh yang memahami diri sendiri dan anak mereka. Selain itu juga selalu fleksibel terhadap perubahan dan penyesuai sesuai karakter anak.
Orang tua harus punya sense of understanding. Orang tua harus mau belajar memahami anak-anak dan diri mereka sendiri. Ketika mau memahami, keinginan mau belajar dari anak pun aka nada, tak cuma mengandalkan pengalamannya sebagai manusia yang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia. Dengan memahami anak dan diri sendiri, orang tua bisa tau apa yang perlu diperbaiki.

Tina: Apakah mbak pernah merasa gagal jadi orangtua? Apa yang mbak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?
Yuska: Gagal? YA SERINGLAH. Hahaha.
Anak kan tuh kan ga ada manual book-nya ya. Pribadinya pun unik-unik. Satu tipe parenting yang cocok untuk Kakak, tidak selalu bisa diterapkan ke adiknya, dan sebaliknya. Aku jadi sering bongkar pasang berbagai pola parenting.
Yang kami lakukan adalah mengadakan evaluasi lagi. Pola parenting, diri sendiri, semua harus ditinjau ulang.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang mbak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang mbak dapatkan setelah melewatinya?
Yuska: Momen terberat masih dipegang kejadian bullying Mika kemarin ya. Karena aku harus mati-matian membunuh emosiku yang udah membara agar aku bisa memberi contoh yang tepat untuk menanggulangi kasus serupa, untuk aku, suamiku, anak-anakku dan sekitar.
Apalagi melihat Mika baik-baik aja dan bisa menguasai situasi ya. Kejadian kemarin seperti aku sebagai manusia VS aku sebagai ibu yang dewasa. Ternyata lebih susah mengajari diri sendiri daripada anak-anak lho. Hahahaha.

Tina: Apa yang paling mempengaruhi mbak sehingga menjadi orangtua seperti yang sekarang ini? Apakah budaya atau gaya parenting orangtua/mertua turut punya andil?
Yuska: Yang mempengaruhi jelas orang tua kami dan anak-anak sendiri ya.
Kami bisa mengambil gaya parenting yang menurut kami bisa dipakai atau harus ditinggalkan karena suda “tidak sesua” dengan jaman dan tuntutan masa sekarang.
Anak-anak pun mengajari kami bagaimana cara menjadi orang tua, sikap apa yang mereka butuhkan dari orang tua dan sejauh mana kami harus membimbing mereka

Tina: Mbak Yuska dan suami senang membagikan tingkah laku dan polah anak-anak setiap hari. Apakah ada tujuan atau target khusus ketika hendak sharing?
Yuska: Kami tahu urusan parenting ini suuuuusssaaaaahhh buanget. Kami ingin berbagi cerita tentang kesalahan kami atau keberhasilan kami. Kami harap orang-orang bisa punya referensi lain dalam mencoba teknik yang sudah pernah kami pakai.
Karena kadang buku parenting itu terlalu baku pembahasannya sehingga ada beberapa yang susah dimengerti. Nah kami berusahan membuatnya lebih simple dan gampang diterapkan.
Selain itu kami juga pengen berbagi kerandoman jadi orang tua. Biar nggak kami aja nih yang “gila” karena keunikan anak-anak. Hahahahaha.

Tina: Teladan apa yang ingin mbak Yuska dan mas Rahan ingin diikuti oleh anak-anak? Bagaimana memastikan mereka mengikuti teladan tersebut?
Yuska: Kebersediaan untuk memahami orang lain dan menerima pelajaran baru dari siapa pun.
Caranya ya dengan menerapkannya di keseharian dan banyak diskusi.
Komunikasi adalah jalan utama.

Tina: Mengenai agama, setahu saya mbak dan suami kan berbeda agama. Bagaimana menjelaskan hal itu pada anak-anak? Menurut mbak, bagaimana interfaith marriage bisa memperkaya pemahaman anak-anak soal agama dan kepercayaan?
Yuska: Awalnya kami mengajarkan dulu bahwa manusia dihadirkan di dunia ini oleh Tuhan dengan tujuan dan maksud tertentu. Cara kita berkomunikasi dengan Tuhan adalah melalu tata cara yang diatur oleh agama. Semua orang mempunyai cara sendiri untuk berkomunikasi dengan Tuhan, tergantung pada kenyamanan mereka.
Sebenarnya pemahaman anak-anak soal agama dan kepercayaan yang banyak ini tidak harus ditunjukkan lewat perkawinan beda agama, ya. Kalau orang tua mau membuka diri dan membuka pintu pengetahuan selebar-lebarnya untuk anak, maka mereka pasti akan memamahami.
Tapi ya, tidak semua orang punya kemauan dan pengetahuan yang cukup soal agama dan kepercayaan lain. Jadi kelihatannya pernikahan beda agama membuat pengajaran jadi lebih gampang karena anak-anak bisa melihat langsung di keseharian, live pula di depan mata mereka tentang toleransi dan perbedaan.

Tina: Apakah mbak punya pesan atau saran pada orangtua lain mengenai parenting yang menurut mbak penting dan bisa menginspirasi?

Yuska: Kepada kawanku, sesama orang tua, jangan pernah lelah belajar. Buka mata, buka hati, buka pikiran terhadap apapun dari siapapun.