Sulit untuk tidak mengagumi Nova Soviningrat Clefiena, ibu dari dua orang putra sekaligus penulis dan ilustrator Cleferik Doodle. Perempuan yang akrab disapa Clefy ini punya talenta dalam bidang seni dan sudah menerbitkan banyak karya, terutama buku anak-anak.

Sehari-hari, Clefy juga kerap membagikan aktivitasnya bersama kedua anak, yang dia sebut sebagai duo bolangs alias duo bocah petualang melalui Instagram. Pada usia yang masih kecil, kedua anaknya terbiasa mengkreasikan banyak hal. Bahkan, anak pertamanya pernah menelurkan karya berupa buku.

Buah jatuh tak jatuh dari pohonnya. Demikianlah yang bisa dilihat dari keseharian keluarga Clefi. Perempuan kelahiran 2 November 1980 ini tidak menyekolahkan duo bolangs di sekolah formal. Setiap hari, Clefi menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah dengan metode homeschooling. Dari feed Instagram lulusan S2 Typography ini, kita bisa melihat bakat seni yang juga dimiliki anak-anaknya.

Saya bertanya pada Clefy mengenai pandangan sebagai orangtua, alasannya memilih homeschooling, dan tips bagi orangtua yang tertarik mengenalkan seni pada anak. Berikut wawancara lengkap kami:


Tina: Apa yang menurut Mbak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orangtua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?
Clefy: Setiap orang tua itu baik, selama mereka sadar bahwa anak itu adalah amanah, titipan Tuhan yang paling berharga. Anak lebih berharga dari pekerjaan ataupun barang mewah, harus dibimbing dengan baik agar menjadi anak yang baik. Karakter yang dimiliki orang tua untuk mewujudkan itu tentu orangtua yang berani, legowo, bisa menjadi tidak egois bila berhadapan dengan anaknya, dan sadar bahwa setiap anak adalah individu yang unik.

Tina: Nilai-nilai apa yang mbak ingin selalu dipegang atau dianut oleh anak-anak? Lalu, bagaimana sebagai orangtua, Mbak Clefy memastikan nilai tersebut dipahami dan dipegang oleh anak-anak?
Clefy: Nilai agama. Tingkatkan kepercayaan bahwa Tuhan itu Maha Besar, hanya Tuhan yang dapat menciptakan alam semesta dengan berbagai macam manfaat dan hal-hal yang luar biasa.

Tina: Apakah mbak pernah merasa gagal jadi orangtua? Apa yang mbak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?
Tidak. Karena bila merasa gagal, saya akan langsung drop.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang mbak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang mbak dapatkan setelah melewatinya?
Clefy: Memahami perkembangan anak, mengatasi anak yang picky eater, jenuh, mengatur waktu antara bekerja di kantor, bekerja di rumah, menemani anak belajar sambil bermain, dan lain-lain. Pelajaran yang saya dapatkan adalah, tidak bisa menghakimi orangtua lain, karena setiap anak memiliki perkembangannya dan latar belakang masing-masing.
Untuk mengatur waktu, akhirnya setiap pagi saya menetapkan misi “hal baru yang dapat dipelajari anak-anak saya dan permainan seru apa hari ini” dan juga membuat checklist skala prioritas. Pekerjaan yang tidak masuk ke prioritas utama (walaupun itu sebenarnya pekerjaan sehari-hari), ya tidak perlu dikerjakan bila waktunya sempit atau menjadi merepotkan. Rasa jenuh pun akhirnya hilang karena misi dan prioritas ini seperti menjadikan kegiatan harian saya seperti bermain game.

Tina: Kalau boleh flashback, sejak kapan mbak menyadari bakat seni yang mbak miliki? Lantas, apa respon orangtua mbak ketika tahu bakat tersebut?
Clefy: Saya sadar sejak kecil sejak saya sudah bisa membuat kuda dan kupu-kupu persis seperti aslinya ketika duduk di bangku SD kelas 1. Orang tua saya tidak mendukung dan cenderung malu bila saya terang-terangan bicara ke orang lain bahwa saya ingin menjadi pelukis dan sutradara seperti alm. eyang kakung. Jadi saya harus sembunyi-sembunyi bila menggambar dan bebikinan (termasuk merajut dan membuat boneka) agar tidak dibuang ataupun dirobek oleh orang tua.

Tina: Saat ini, sudah berapa buku atau karya seni yang Mbak terbitkan?
Clefy: Saat ini sudah ada 10 buku (buku Hewan-Hewan dari Negeri Es, OH! Si Burung Hantu, Ayo kembalikan ke asalnya!, 123 Selamatkan Teman-Teman Bima, A untuk Astronaut, Aku Suka Tubuhku, Aku dan Kamu, Personalized Book Petualanganku, Aku dan Rusaknya Sarang Burung Namdur, dan Keseruan Ramadan!) , beberapa logo (termasuk logo hotel WHIZ), beberapa advertising, dan beberapa lukisan.

Tina: Apakah pengenalan seni kepada kedua anak Mbak merupakan sesuatu yang natural karena mereka melihat aktivitas seni di rumah atau memang jadi harapan mbak agar anak-anak akrab dengan karya seni?
Clefy:

Itu hal yg natural, bukan karena mereka melihat aktivitas seni di rumah, namun karena setiap manusia secara natural memiliki kemampuan berkarya seni. Jadi tergantung orang tuanya membuka peluang anak untuk berkembang atau tidak. Seperti menulis, sebenarnya karya seni, karena tulisan sendiri adalah gambar yang disepakati bersama untuk dijadikan cara berkomunikasi.

Tina: Berbicara tentang homeschooling, mengapa itu jadi pilihan mbak untuk anak-anak? Bagaimana respon anak-anak terhadap metode homeschooling?
Clefy: Karena anak pertama saya tidak pernah menyukai sekolah, dia selalu menangis di sekolah dan saya rasa tidak bijak memaksa anak melakukan hal yang tidak dia suka. Orang dewasa saja tidak suka dipaksa-paksa.
Setelah observasi lebih dalam, saya semakin terbuka mata bahwa dunia bagi anak seperti hutan belantara, banyak hal yang baru dan belum dipahami. Saya mengajukan pertanyaan ke diri sendiri. BIla saya harus masuk ke dalam hutan tanpa bekal informasi isi hutan dan bagaimana cara mengatasinya, apakah ada rasa was-was bahkan takut untuk melangkah masuk ke dalamnya? Jawabannya YA! Begitu juga anak-anak.
Jadi memang tugas sayalah untuk memberikan bekal dan informasi ke anak-anak agar mereka siap terjun bebas ke hutan, termasuk bersosialisasi. Apalagi, di sekolah guru tidak fokus hanya pada satu anak, bila anak merasakan perasaan tidak nyaman, perasaan was-was, guru akan mencari cara tercepat untuk menyelesaikannya agar dapat mengawasi anak-anak yang lain. Sedangkan kalau di rumah, saya bisa mencari cara terbaik walaupun akan memakan waktu lama sekali. Respon anak-anak senang sekali dan mereka lebih cepat mandiri dan lebih fun dalam belajar.

Tina: Dari mana saja mbak mendapat sumber informasi mengenai homeschooling?
Clefy: Dari buku, dari membaca di internet, dan ngobrol dengan beberapa teman yang bergerak di bidang pendidikan.Komunitas so far tidak ada, untuk buku saya punya banyak seperti Satu Atap Lima Madrasah tulisan Kiki Barkiah, Rumah Main Anak tulisan Julia Sarah Rangkuti, The Everything Homeschooling Book tulisan Sherri Linsenbach, Homeschooling Creating The Best of Me tulisan Holy Setyowati, ataupun website seperti munchkinsandmoms.com

Tina: Secara garis besar, apa tujuan dan impian mbak dalam mengasuh dan mendidik anak?
Clefy: Impian besar saya adalah anak menjadi anak yang baik, bisa tahu caranya berbahagia dan bersyukur. Apalagi dengan kondisi jaman yang semakin complicated dan banyak persaingan, tingkat stress akan semakin tinggi. Percuma pintar bahkan jenius namun mudah stress, akhirnya ya akan merugikan diri sendiri dan orang sekitar.

Tina: Apakah ada tips atau saran praktis yang kiranya membantu para orangtua yang juga ingin mengenalkan seni pada anak?
Clefy: Orang tua yang ingin mengenalkan seni pada anak sebaiknya memberikan kebebasan dan membuat kesepakatan bersama anak. Misal anak suka corat coret tembok, berikan kemudahan pada anak dengan memberikan fasilitas tembok mana yang boleh dicoret, dan konsekuensi apa yg didapat bila mencoret di tempat lain (tentunya konsekuensinya harus mendidik, bukan menakut-nakuti).
Orangtua juga harus mau ikut mencoba berkarya bersama-sama anak dan tidak mengucapkan kalimat seperti, “Mama/papa tidak ada bakat seni atau tidak bisa menggambar.”
Orang tua juga tidak boleh men-judge karya anak walaupun memang belum berbentuk apa-apa. Sebaiknya kita sering memberi tahu anak bahwa setiap karya seni itu unik dan pantas dihargai agar anak juga belajar menghargai karyanya sendiri dan karya orang lain.