Ada yang berbeda di Pesona Square Depok, Jawa Barat pada Minggu, 21 April lalu. Tanggal itu memang spesial lantaran Indonesia merayakan kelahiran salah satu tokoh emansipasi perempuan, yakni Kartini.

Dalam rangka “Kartini Day” itu, pusat perbelanjaan tersebut mengadakan kompetisi bagi para perempuan, tepatnya untuk para ibu yang disebut dengan “Mom Competition”. Eits, ini bukan glorifikasi mom war yang (katanya) beredar di kalangan ibu, ya.

Menurut Mother on Mission Indonesia, “Mom Competition” merupakan ajang pencarian bakat bergengsi bagi ibu-ibu yang penuh inspirasi. Tahap pertama ialah tahap administrasi. Di situ peserta mengisi identitas dan menjabarkan potensi dirinya. Kemudian MoM memilih 35 semi-finalis yang berkesempatan membuktikan potensi tersebut di hadapan para juri.

Akhirnya, terpilih tiga juara dari kompetisi ini. Saya mewawancarai Khanti Ismi Saras Putri, pemenang pertama Mom Competition.

Perempuan kelahiran Jakarta, 31 Desember 1994 ini bekerja sebagai pegawai di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta. Khanti juga merupakan seorang ibu dari anak laki-laki berusia 2 tahun 2 bulan.

Menyanyi, berakting, dan berlenggak-lenggok di atas catwalk merupakan hobi dari lulusan D3 Hubungan Masyarakat ini. Berikut hasil wawancara saya dengan Khanti:


Tina: Apakah menjadi orangtua menjadi salah satu mimpi mbak Khanti atau sesuatu yang terjadi secara alamiah setelah menikah?
Khanti: Ketika saya memutuskan untuk menikah, pasti saya bermimpi untuk dapat menjadi seorang ibu. Ternyata setelah menikah, mimpi saya tersebut dapat terwujud, saya dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta seorang anak laki-laki. Rasa syukur, bahagia, dan haru saya rasakan karena saat ini di usia saya yang terbilang masih muda, yaitu 24 tahun, saya sudah harus menjadi seorang istri dan ibu dari anak saya.

Tina: Apa yang menurut mbak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orangtua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?
Khanti: Menurut saya, pada dasarnya semua orangtua itu pantas disebut sebagai orang tua yang hebat dan baik. Selama sembilan bulan mengandung, orangtua sangat menjaga dan menyayangi anaknya. Setelah itu, tergantung bagaimana cara setiap orang tua untuk mendidik anaknya.
Karakter yang harus dimiliki orang tua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini ialah mengajarkan hal yang positif seperti saling menghargai, saling menghormati, kasih sayang, dan tolong-menolong.

Tina: Nilai-nilai apa yang mbak ingin dipegang atau dianut oleh anak? Lalu, bagaimana sebagai orangtua, mbak memastikan nilai tersebut dipahami dan dipegang oleh anak?
Khanti: Nilai yang saya ingin dianut oleh anak saya ialah nilai agama dan akhlak yang mulia seperti rajin beribadah, bersedekah, saling menghormati, menghargai, berkata lembut, jujur, adil, dan sebagainya. Untuk memastikan nilai tersebut dipahami oleh anak saya dengan dimulai dari orangtuanya terlebih dahulu, memberikan contoh yang positif agar anak dapat mencontohnya.

Tina: Apakah Mbak pernah merasa gagal jadi orangtua? Apa yang mbak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?
Khanti: Saya tidak pernah merasa gagal, walaupun saya sadar masih banyak kekurangan. Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah. Maka dari itu, saya tidak akan pernah berhenti untuk terus belajar; belajar peka, belajar mendengarkan, belajar memahami, belajar mempercayai, dan belajar lebih sabar.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang mbak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang mbak dapatkan setelah melewatinya?
Khanti: Momen terberat yang saya alami sebagai orang tua ialah ketika anak saya sedang sakit. Rasa sedih, cemas, dan panik saya rasakan. Dari situlah, saya belajar untuk lebih sabar dan kuat. Di lain sisi, suami saya berprofesi sebagai sutradara, sehingga lebih banyak kerja di lapangan dan membuat saya harus lebih mandiri. Orangtua saya, yaitu ibu saya sudah tiada, jadi dari setelah melahirkan, secara alamiah saya belajar sendiri dengan dibantu suami untuk menjaga, mendidik, dan merawat anak.

Tina: Apa yang membuat mbak mendaftarkan diri pada event Mom Competition yang diadakan Pesona Square pekan lalu? Apakah mbak pernah mengikuti kompetisi serupa sebelumnya?
Khanti: Dari usia tiga tahun, saya memiliki bakat menyanyi dan pernah mengisi beberapa acara. Tidak hanya menyanyi, saya juga memiliki kemampuan berakting, dan jalan di atas catwalk.
Maka dari itu, saya mengikuti event Mom Competition 2019 di Pesona Square untuk meng-explore bakat yang saya punya.
Setelah menikah dan mempunyai anak, event ini jadi kesempatan pertama kalinya saya ikut kompetisi lagi, dan alhamdulillah saya dapat meraih Juara 1 Mom Inspiring 2019.
Sebelum menikah, saya sering mengikuti kompetisi serupa dan menjuarainya, seperti Juara 1 Lomba Nyanyi Solo Bahasa Perancis, Duta Im3 tahn 2011, Juara 1 FIS UNJ, The Best Acting, dan lain-lain.

Tina: Dari sudut pandang mbak sendiri, apa yang membuat mbak terpilih sebagai juara pertama Inspiring MoM?
Khanti: Sejujurnya saya tidak menyangka bahwa saya terpilih sebagai juara pertama Inpiring Mom. Saya melihat 35 semifinalis, yang kemudian terpilih menjadi Top 10 hebat-hebat dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Tetapi, di lain sisi saya berserah kepada Allah SWT, lalu meyakinkan diri saya dengan kemampuan yang saya miliki, serta restu dan doa dari suami dan anak sayalah sehingga dapat terpilih sebagai juara pertama Inspiring Mom

Tina: Pelajaran apa saja yang mbak dapatkan selama mengikuti kompetisi MoM, baik melihat panitia, peserta lain, penyelenggara atau hal lain yang berhubungan dengan kompetisi?
Khanti: Pelajaran yang saya dapatkan selama mengikuti event ini bukan sekedar untuk berkompetisi tetapi juga untuk saling support para ibu hebat. Dari event ini saya bertemu dengan para Mom hebat dengan berbagai kemampuan, kami saling bertukar informasi dan sharing.
Saya sangat mengapresiasi seluruh panitia dan penyelenggara event ini. Panitia sangat terstruktur, ramah, cepat respon sehingga membuat acara ini berjalan dengan baik dan optimal. Terima kasih kepada Pesona Square dan Mother On Mission yang telah mengadakan Inspiring Mom ini. Semoga event seperti ini bisa diadakan kembali dan memberikan energi positif, menginspirasi kepada semua orang terutama para ibu hebat.

Tina: Dengan kesibukan kerja, bagaimana mbak membagi waktu dengan keluarga, terutama dengan anak?
Khanti: Sebagai working mom dan ibu rumah tangga, yang paling penting ialah menjalin komunikasi dan kedekatan emosional dengan anak saya. Di sela kesibukan kerja, saya selalu mengontrol anak saya dengan menelepon atau video call melalui pengasuh anak saya. Saya berkomitmen setelah pulang kerja untuk harus pulang tepat waktu karena sudah ada buah hati saya yang menunggu di rumah.
Setelah pulang bekerja atau saat weekend dan hari libur, saya full time menghabiskan waktu bersama anak saya seperti bercerita, mengajarkan akhlak yang baik, bermain edukatif, jalan- jalan ke mal atau tempat wisata. Apabila, di hari libur saya suami harus tetap bekerja, maka saya dan anak mengunjungi tempat lokasi syuting suami, agar anak tetap merasa dekat dengan orang tuanya.

Tina: Kalau boleh tahu, bagaimana mbak mendelegasikan urusan pengasuhan anak sehingga bisa berjalan sesuai dengan yang mbak harapkan?
Khanti: Saya dan suami selalu mengutamakan komunikasi agar mendapatkan keputusan yang baik dalam hal mengurus anak, maupun pengasuhan anak. Saat ini, sudah 2 tahun anak saya bersama pengasuh. Saya memang selama ini saya mempercayai orang yang mengasuh anak saya karena dia tinggal di lingkungan yang bersih dan memiliki pengalaman yang baik dalam menjaga anak. Sebelumnya saya sudah dua kali berganti pengasuh anak dikarenakan tidak cocok, dan untunglah dengan pengasuh yang sekarang ini sangat cocok.
Untuk menjamin anak saya terjaga dengan baik oleh pengasuh nya, ada ayah saya yang sudah pensiun jadi bisa mengontrol atau selalu mengecek kondisi anak. Saya juga menitipkannya untuk mengontrol kepada RT setempat dan tetangga lain untuk turut bantu mengawasi.

Tina: Apakah mbak punya pesan yang menginspirasi bagi para orangtua jaman sekarang dalam membesarkan anaknya?
Khanti: Pesan saya untuk para orang tua jaman sekarang, anak adalah amanah. Membesarkan anak bukan semata dengan memenuhi berbagai keinginannya. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana menanamkan pemahaman agama sejak dini, sehingga anak bisa mengenal Tuhannya, nabinya, dan memiliki akhlak mulia.
Terus berikan kasih sayang, luangkan waktu bersama anak, lakukan komunikasi dari hati dengan anak, dan batasi pemakaian gadget pada anak.
Mulailah dari kita sebagai orangtua untuk memberikan contoh yang baik kepada anak, teruslah belajar, teruslah menginspirasi, dan memotivasi agar anak terinspirasi dan termotivasi.