Hai..

Kalau kamu belum tahu, nama saya Marantina. Sampai saya lulus SMP, semua orang memanggil saya Tina. Dari saya lahir, keluarga saya memberi nama Tina sebagai nama panggilan.

Lalu saya memasuki SMA dan entah mengapa saya punya nama panggilan baru, yaitu “Maran”. Well, itu memang bagian dari nama saya. Tapi saya tidak begitu suka. Seperti bukan saya. Namun saya tidak cukup punya wewenang untuk membuat teman-teman SMA saya berhenti memanggil saya dengan nama itu. Ada untungnya sih. Kalau ada yang panggil saya “Maran”, kemungkinan besar dia mengenal saya selama masa SMA. Maklum lah, saya ini cukup pelupa untuk urusan wajah orang.

Ketika kuliah, saya memastikan tidak ada yang memanggil saya dengan nama itu. Saya memperkenalkan diri dengan nama “Tina” dan merasa senang karena kembali dikenal dengan nama tersebut.

Kesannya sederhana, ya. Untuk apa mempermasalahkan nama? Tapi bagi beberapa orang, termasuk saya, nama itu cukup penting.

Nama anak

Nah, begitu memutuskan ingin punya anak, salah satu yang jadi perhatian saya adalah pemilihan nama. Saya merasa cukup egois kala itu. Sebelum ngomong ke suami, saya sudah memilih nama yang menurut saya baik untuk anak saya. Toh, saya yang mengandung dan melahirkan anak dari rahim saya. Rasanya wajar ya bila saya merasa punya hak untuk memilih nama.

Tadinya saya ingin memberi satu nama saja pada anak. Soalnya sebagai keturunan Batak, anak saya secara langsung meneruskan nama belakang atau marga dari suami. Jadi cukuplah dua kata untuk nama.

Tapi setelah ngobrol dengan suami, kami memutuskan memberi nama tengah. Suami mau nama yang punya arti pemimpin. Maklumlah ini anak pertama. Jadi kami ingin dia jadi teladan dan bisa memimpin, setidaknya memimpin diri sendiri.

Guess what? Setelah anak lahir, suami mengklaim dia yang memberi nama pertama untuk anak kami.

Begini kira-kira percakapan kami:

Saya: Dari dulu emang pengen kasih nama ini buat anak karena melihat beberapa orang dengan nama tersebut jadi panutan.

Suami: Itu kan saya yang ngasih. Saya kan yang pilih nama itu?

Saya: Loh, saya lah.

*begitu terus saling klaim kemenangan seperti dua kubu dalam pemilu*

Panggilan sayang

Jujur, yang jadi pertimbangan saat memilih nama adalah memastikan tidak ada celah nama tersebut dijadikan bahan bully atau perundungan. Ya walaupun kemungkinan besar tukang bully pasti bisa saja menemukan hal untuk bahan ejekan.

Oh iya, sampai sekarang sudah ngeh saya tidak menuliskan nama lengkap anak saya? Saya se-paranoid itu. Sungguhlah saya sangat berhati-hati dalam menuliskan identitas anak saya. You know lah, jaman sekarang tingkat kejahatan terhadap anak sangat tinggi dan caranya makin canggih. Saya hanya mau waspada.

Bukan di dunia maya saja. Di dunia nyata pun saya jarang menyebutkan nama depan anak saya. Kebetulan namanya terdiri dari tiga suku kata. Jadi saya biasanya padankan suku kata pertama dan kedua atau suku kata kedua dan ketiga sebagai nama panggilan ketika sedang berada di tempat umum.

Contohnya begini. Seseorang dengan nama Adrian bisa dipanggil Adri atau Rian. Kira-kira begitulah saya memanggil anak saya.

Selain nama, berikut panggilan alias nickname yang kerap saya sematkan pada anak:

  • Sayang
  • Bocah
  • Anak gemas
  • Anak baik
  • Kesayangan mama
  • Si anak pintar
  • Beby bala bala
  • Si ganteng

Ketika saya panggil anak dengan salah satu panggilan di atas, bisa dipastikan saya sedang kalem atau lagi senang-senangnya sama anak. Menurut pengamatan saya, anak sudah bisa membedakan. Kalau dipanggil dengan salah satu nickname tersebut, dia cukup tanggap dengan omongan saya.

Nah, kalau galak saya keluar (hadehh), saya seringkali panggil nama depannya dengan lantang seperti pakai caps lock. Kalau sudah begini, si bocah malah diam, menangis, atau kabur. Hahahaha.

Sejarah nickname

Oh iya, nama panggilan buat anak punya sejarahnya, loh. Semua dimulai pada abad ke-18 oleh orang-orang kulit putih.

Tampaknya waktu itu nama yang populer jumlahnya sedikit dan digunakan terus-menerus. Kalau ada anak baru lahir, diberi nama itu-itu lagi.

Menurut laporan BBC, untuk nama anak laki-laki, yang paling sering digunakan ialah William, John, dan Thomas. Sementara, nama anak perempuan yang sangat populer kala itu ialah Elizabeth, Marry, dan Anne.

Nah, kan repot ya, kalau dalam satu kampung ada banyak orang dengan nama yang sama. Jadi diciptakan lah nickname atau nama panggilan untuk memudahkan hidup orang-orang jaman dahulu. Misalnya orang dengan nama Margaret bisa dipanggil Maggie atau Marge. Kalau ada bayi baru lahir diberi nama populer, tidak masalah, karena orangtuanya sudah menyiapkan nickname.

Beda ya, tujuannya dengan sekarang. Saat ini, nickname atau nama kecil diberikan sebagai panggilan kesayangan.

Orang Barat suka memberikan nama makanan yang manis-manis sebagai nama panggilan, seperti sweety pie, honey pie, sugar plum, cupcake, atau pumpkin. Kalau diaplikasikan ke anak Indonesia, saya rasa cukup aneh. Saya sih, tidak mau memanggil anak saya “gula merah” atau “bolu cokelat”. 😆

Kalau kamu, punya nama panggilan apa untuk anak?