Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.

Sesungguhnya menjadi orangtua bukan saja melewati hari demi hari menyaksikan anak kita bertumbuh. Menjadi orangtua berarti memahami bahwa kita pun, mau tak mau, juga bertumbuh.

Sebagai orangtua, setiap hari kita memperhatikan dan mengawasi pertumbuhan dan perkembangan anak kita, baik fisik, kemampuan motorik dan sensorik, serta sosialnya. Yang kadang kita lupa, anak-anak juga mengamati apa yang kita katakan, lakukan, serta respon kita terhadap sesuatu atau orang lain.

Sampai di sini, apakah jelas bahwa orangtua merupakan teladan alias role model untuk anak? Lalu, realitanya bagaimana?

Lain cerita, jenderalll! Ya kumaha atuh, kita kan manusia biasa yang penuh dengan dosa. Kita bukan netizen mahasuci dengan segala kebenarannya. Wajar dong, kalau kita tidak konsisten.

Ayo ngaku, inkonsistensi apa yang masih kamu lakukan sebagai orangtua? Saya sih, banyak. Banget. Hiks.

Nih, saya jabarkan, ya, sebagai pengingat untuk diri saya. Siapa tahu, orangtua lain juga bisa belajar dari saya yang tidak konsisten. Atau kalau mau menghakimi juga boleh. I couldn’t care less. Hahahahaha.

  • No gadget for you, kiddo. But it’s totally okay for momma and papa to spend our days glued to our phones.

Memasuki usia dua tahun, bocah mulai mengenal YouTube. Tapi saya masih ragu-ragu nih mengenai pemberian gagdet pada anak. Soalnya saya sudah menyaksikan perkembangan yang pesat, terutama dari kemampuan berkomunikasi, karena dulu saya memberlakukan aturan no gadget no TV untuk si bocah.

Ironisnya, saya dan suami kerjaannya pegang ponsel mulu di rumah. *tutup muka yang memerah* Kami hanyalah orangtua milenial yang menggantungkan diri pada kehidupan sosial dan pencarian informasi di jagat maya.

Alesyaannnn! Dasar tidak konsisten!

  • You have to be active, kiddo. But please, let momma lie down and rest for a while (read: for hours)

Salah satu alasan saya belum bikin kesepakatan soal gadget dengan si bocah ialah saya tuh ga sreg melihat anak-anak anteng menonton. Menurut saya, anak-anak tuh harusnya bergerak. Pokoknya, aktiflah dalam kegiatan fisik.

Masalahnya, bocah tidak mau beraktivitas tanpa saya temani. Sementara, saya kan punya pekerjaan lain di rumah, belum lagi menulis status di media sosial. Dan, di usia saya ini, aktivitas fisik bukanlah kegiatan favorit saya.*sigh*

Susah ya, bokkk, jadi orang yang konsisten itu.

  • When kiddo wants something from momma, kiddo gotta wait. When momma wants something from kiddo, please do it immediately.

Sebagai orangtua biasa, saya sering bilang, “Sabar, ya. Tolong tunggu,” ketika bocah minta sesuatu. Tapi oh tapi, kalimat itu tidak berlaku buat saya. Malah setiap hari saya masih kerap ngomong, “Ayo cepat pakai sepatunya” atau “Makanannya langsung dihabiskan, dong” dengan nada tidak sabar.

Teladan macam apaan ini?! *tutup muka*

Tentu masih banyak inkonsistensi lain yang masih saya lakukan. Saya tulis ini bukan karena bangga, loh. Sudah terlihat kok, hasil ketidakkonsistenan (I know it’s not a word :p) ini. Si bocah eman-emanan untuk menuruti perkataan saya. Dan saya tidak bisa menyalahkan dia karena semua ini dimulai dari saya yang tidak konsisten dengan omongan atau perilaku saya.

Tahu gak, bagaimana anak-anak sangat senang dengan gawai dan rentan kecenderungan? Pasalnya, gawai itu benda yang sangat konsisten. Kalau pencet 🔙 ya tampilan di gawai pun mundur. Kalau tekan ▶️, ya musik mulai dimainkan. Kecuali gawai lagi error, ya.

Nah, anak-anak suka konsistensi ini. Pada dasarnya, anak-anak tidak nyaman dengan kejutan. Konsistensi mendatangkan kenyamanan karena anak tak perlu memprediksi apa yang bakal terjadi. Eh, ini juga berlaku untuk orang dewasa yang suka dengan kepastian, sih. #apeeuu

Saya kutip juga dari situs ini, bagaimana orangtua yang konsisten bisa mengubah perilaku anak menjadi lebih baik:

Children love their parents to be consistent as they are able to predict how they will act. A consistent approach to discipline helps put kids in control of their behaviour.

Consistency means as parents we follow through and do as we say we will. It means resisting giving kids second and third chances when they break the rules or behave poorly around others. When we let kids get away with two or three infractions of the rules we often come down very hard eventually, which causes resentment. Act early and prevent poor behaviour from escalating is the best approach.

Begitulah. Sebenarnya menurut saya, memang tidak ada orangtua yang bisa 100% konsisten karena kita ini bukan robot. Tapi bukan berarti kita bisa terlena dalam kubang inkonsistensi dan membuat anak bingung alias tak punya arah ketika mendengar perkataan dan melihat kelakuan orangtuanya.

Tunjukkan saja diri kita apa adanya sebagai orangtua yang sekarang belum konsisten, tapi terus belajar dan berjuang untuk melakukan apa yang kita omongkan dan mengatakan apa yang memang sanggup kita lakukan. Walk the talk, parents, because action speak louder than words!