Traveling in the company of those we love is home in motion.

~ Leigh Hunt

Hampir semua orang senang jalan-jalan. Tapi, belum tentu semua orang sanggup (alias mau dan mampu) mewujudkannya. Dulu, pelesiran jadi sebuah kemewahan yang hanya bisa dirasakan segelintir orang.

Namun sekarang, jalan-jalan sudah jadi gaya hidup. Bahkan sebagian orang menjadikannya kebutuhan, termasuk bagi Sheika Rauf.

Perempuan kelahiran Jakarta, 13 Januari 1983 ini merasa tamasya lebih dari sekadar hobi. “Dari dulu aku memang hobi traveling. Aku bisa stress, bahkan bisa gila kalau stuck di apartemen saja,” ujar pemegang gelar Master dalam Studi Ilmu Asia dari EHESS Paris tersebut.

Sebelum berangkat ke Prancis, Sheika berkuliah di Universitas Indonesia, mengambil jurusan Sosiologi (S1) dan Sastra Prancis (D3). Perempuan berusia 36 tahun ini memang sangat cinta dengan Prancis. Ini terlihat karena sejak duduk di bangku SMA, Sheika mulai mempelajari bahasa Prancis.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sheika bertemu pasangan yang juga berkesempatan melanjutkan studi di Prancis. Putra mereka, Zola, lahir pada Agustus 2008 ketika Sheika dan suami tengah dalam masa studi di negeri pusat industri mode tersebut. Lantas, pada 2011, Sheika sekeluarga memutuskan kembali ke Tanah Air.

Pada 2017, Sheika merintis Familygoers, media dan komunitas tempat berbagi pengalaman seputar traveling dengan keluarga. Sheika juga punya opini tersendiri tentang menjadi orangtua.

Berikut salinan lengkap wawancara saya dengan Sheika:


Tina: Apakah menjadi orangtua menjadi salah satu mimpi mbak atau sesuatu yang terjadi secara alamiah setelah menikah?

Sheika: Pada dasarnya aku suka anak-anak dan dunia mereka. Anak-anak itu menghibur banget, meskipun ada kalanya mereka menyebalkan. Hehe. Jadi kalau dibilang mimpi juga nggak, ya. Aku ingin menikah dan punya anak. Semuanya alamiah saja.

Tina: Apa yang menurut mbak membuat seseorang pantas disebut orangtua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orangtua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?

Sheika: Menurutku semua orangtua layak disebut sebagai orangtua yang baik selama dia bertanggung jawab pada apa yang menjadi tugasnya sebagai orangtua. Aku percaya setelah menjadi orangtua, sense sebagai orangtua terbentuk dengan sendirinya dan itu dilatih terus menerus selama menjadi orangtua.

Masing-masing orangtua memiliki gaya pengasuhannya masing-masing. Aku tidak bisa bilang mana yang lebih baik. Ada orangtua yang tegas, galak, penyayang, loyal, pelit, disiplin, sampai santai. Semua ada plus minus-nya. Buatku yang jelas jadi orangtua harus memiliki rasa kasih sayang untuk si anak dan punya visi bahwa kita sedang mempersiapkan generasi di masa depan.

Tina: Nilai-nilai apa yang mbak ingin selalu dipegang atau dianut oleh anak-anak? Lalu, bagaimana sebagai orangtua, mbak Sheika memastikan nilai tersebut dipahami dan dipegang oleh anak-anak?

Sheika: Jujur, berani, penyayang dan murah hati. Semua dimulai dari orangtua. Children see, children do. Aku dan suamiku berusaha mencontohkan aja di kehidupan sehari-hari nilai-nilai yang kami ingin Zola pegang selama hidupnya. Sebelum tidur atau bangun tidur, biasanya saya selalu elus kepala Zola sambil bilang: “anak baik, anak pintar, anak sholeh, anak pemberani”, dan sebutan-sebutan positif lain. Aku percaya kata-kata itu adalah doa.

Tina: Apakah mbak pernah merasa gagal jadi orangtua? Apa yang mbak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?

Sheika: Sejujurnya aku tidak pernah merasa gagal, sih. ๐Ÿ˜ Aku paham dan menerima kalau segala sesuatu pasti ada ups and downs. Ada kalanya mood anak dan mood kita lagi jelek, lalu mereka marah, kita pun bisa marah. Ada kalanya Zola berhasil melakukan sesuatu, ada kalanya tidak. Ada kalanya nilai dia bagus di kelas, ada kalanya tidak bagus. Aku, sih, terima saja semuanya karena sudah sepaket. Jadi menurutku itu bukan kegagalan.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang mbak alami sebagai orangtua dan apa pelajaran yang mbak dapatkan setelah melewatinya?

Sheika: Momen terberat adalah di saat aku merasa tidak punya support system. Aku sadar kalau aku tidak bisa sendirian membesarkan anakku. Ada peran suamiku, ada peran orangtuaku, guru-guru sekolah Zola, sampe ART.

Bagian terberat adalah ketika aku ingin meraih cita-citaku, rencana-rencanaku sendiri, lalu kadang tiba-tiba beban sebagai orangtua itu terasa sangat berat karena tidak ada orang-orang yang bisa menggantikan peranku sesaat aja. Waktu aku hamil dan melahirkan di Paris itu terasa banget. Pas lagi hamil, aku baru saja adaptasi dengan kampus baru. Aku baru memasuki masa orientasi, masuk kampus baru yang segalanya serba beda, baik budaya, bahasa dan cara pengajarannya.

Bukan hanya itu, aku baru saja pindah dari Jakarta ke Paris, harus adaptasi dengan segala rupa yang berbeda. Kemudian di saat bersamaan, aku juga mengalami hamil pertama, morning sickness yang hebat selama tiga bulan, tanpa dukungan orangtuaku. Kemudian setelah Zola lahir juga begitu. Aku hanya ditemani suamiku. Di tahun yang sama, ibuku divonis kanker payudara dan nenekku meninggal di Indonesia. Suamiku pun sibuk dan harus membagi waktu dengan kuliahnya.

Aku merasa tidak punya support system dan mau tidak mau harus tetap menjalani ini; merawat Zola, sambil menjalankan kuliahku. Ada kejadian juga di mana aku harus bekerja demi menyambung hidup kami di Paris. Untunglah saat Zola 7 bulan, kami bisa dapet daycare, support system yang sangat membantu kami dalam pengasuhan Zola. Tapi aku tetap harus juggling sebagai ibu, sebagai mahasiswa, juga sebagai pekerja.

Pelajaran berharga dari situ adalah aku jadi lebih kuat menghadapi apapun yang terjadi dengan anak dan keluargaku. Thereโ€™s always silver lining after the storm.

Tina: Mbak Sheika merupakan founder Familygoers. Tolong ceritakan dong, kapan Family Goers berdiri, apa yang melatarbelakangi, dan apa tujuan mbak mendirikan Familygoers?

Sheika: Familygoers berdiri Agustus 2017. Latar belakangnya karena aku memang suka traveling. Waktu aku di Paris, dengan segala kondisiku, yang paling menghibur aku, ya, jalan-jalan. Aku dan suamiku eksplorasi kota Paris, sampe ke pelosok-pelosoknya. Biayanya gratis karena memang banyak tempat-tempat cantik di Paris yang bisa didatangi gratis.

Dari situ sampai saat ini, kami memang tetap rajin traveling sekeluarga. Aku tahu pasti aku tidak sendiri, banyak orangtua lainnya yang suka juga mengajak anaknya traveling. Namun, ada juga orangtua yang sejak punya anak malah malas traveling. Alesannya, si anak belum mengerti apa-apa, jadi tidak ngaruh juga diajak jalan-jalan, tunggu sampai besar saja, jalan-jalan dianggap hanya menghabiskan uang, dan banyak lagi alasannya. Nah, tujuanku bikin familygoers adalah mengumpulkan keluarga yang suka traveling, kemudian menginspirasi atau menularkannya ke keluarga lain.

Traveling yang ditularkan di familygoers juga punya misi edukatif, tidak sekedar jalan-jalan, hura-hura dan yang penting foto-foto (ini juga penting sih :D). Traveling itu harus jadi pembelajaran di luar ruangan kelas. Begitu kira-kira misi familygoers.

Tina: Soal pelesiran keluarga, sejak kapan membiasakan ajak anak jalan-jalan dan apakah ada tujuan khusus saat jalan-jalan bersama keluarga?

Sheika: Dari dulu, waktu single, memang aku hobi traveling, sampai aku hamil, hiburanku ya, jalan-jalan. Aku bisa stress kalau stuck di apartemen mahasiswa yang cuma 20 mยฒ luasnya. Bisa gila! Makanya aku rajin jalan-jalan, eksployr kota Paris. Waktu Zola baru lahir 7 hari, aku sudah ajak dia ke Museum Louvre karena ada ayahku yang baru datang jenguk cucunya. Jadi misi ayahku menengok cucu sekalian jalan-jalan.

Lalu, jalan-jalan terus berlanjut karena kami tidak bisa diam saja di apartemen sempit. Syukurnya waktu Zola lahir, kami sudah pindah ke apartemen lebih besar. Tapi tetap saja, keluar apartemen itu penting banget, tidak cuma diam di dalam.

Tujuan khusus saat traveling sekeluarga tidak ada, sih. Dulu kami cari yang murah saja, jalan-jalan ke taman, ke hutan, atau masuk museum karena waktu itu usiaku belum 26, jadi masuk museum masih murah, bahkan bisa gratis. Sampai sekarang malah ketagihan, kami seringnya mengincar museum atau wisata budaya sekeluarga saat mengunjungi suatu negara.

Jika ingin kenal lebih dekat dengan suatu negara ya kunjungi museumnya, tonton pertunjukkan budayanya, dan naik transportasi publiknya.

Tina: Dalam setahun, berapa kali biasanya bawa anak-anak pelesiran? Apa saja persiapan yang dilakukan sebelum jalan-jalan?

Sheika: Belakangan ini sejak tahun 2015, dalam setahun kami bisa dua kali ke luar negeri. Kami ke Eropa hampir setiap tahun. Suamiku kadang-kadang sekalian sambil tugas, lagipula kami punya keluarga angkat di Paris. Jadi memang sudah ritual, sebelum mengunjungi negara lainnya di Eropa, kami pasti mampir ke Paris dulu.

Untuk persiapan, yang pasti punya visa ya, kalo tidak punya visa, bagaimana ceritanya bisa masuk negara itu. ๐Ÿ˜€ Kalau yang lainnya sih tidak ada, kecuali pas winter kemarin, kami harus siapkan baju winter yang bisa tahan sampai -25 derajat celcius.

Tina: Adakah kota atau negara yang istimewa yang berkali-kali didatangi atau mungkin yang amat berkesan untuk keluarga mbak Sheika? Ceritakan, dong, apa yang berbeda dari kota/negara tersebut?

Sheika: Prancis dan Paris yang jelas, karena kami punya romantisme dan banyak memori, baik suka, duka, pahit, manis dan segala macam. Kebetulan juga saya memang sudah jatuh cinta sama Prancis. Aku belajar bahasa Prancis sejak kelas 1 SMA. Aku tidak menyangka bahwa keputusan saya ambil kursus bahasa Prancis ternyata membuat saya benar-benar berjodoh dengan Prancis.

Kedua, ketiga dan keempat adalah Copenhagen di Denmark, Vienna di Austria, dan Queenstown di New Zealand. Aku suka Copenhagen karena kota sepeda banget, dan auranya tentram dan damai. Saya pernah bikin tulisan tentang Copenhagen di blog. Sementara kalau Vienna itu music is in the air, kota musik banget dan rasanya semua berbahagia. Hehe. New Zealand juga sama, damai dan tentram rasanya.

Tina: Apakah ada perbedaan dalam mengurus dan mendidik anak ketika liburan dengan saat di rumah?

Sheika: Perbedaannya, kalau lagi trip, aku tidak terlalu strict, tidak seperti saat sekolah. Ada waktu tidur, waktu bangun, waktu main gadget, waktu makan dan sebagainya, yang cukup ketat. Kalau saat trip lebih loose, ada kalanya tengah malem masih melek dan bangun agak siangan. Makan juga lebih fleksibel, boleh makan apa saja yang penting masuk perut ๐Ÿ˜€

Tina: Apakah mbak punya tips untuk orangtua yang juga tertarik mengajak anak-anak pelesiran ke banyak tempat?

Sheika: Tips untuk mengajak anak pelesiran ke berbagai tempat, yang penting itu niat, sih. Kalau sudah niat, apapun juga dikerjakan, kok. Seperti waktu kami umroh mandiri tanpa travel agent atau group tour. Kami pergi berempat saja : aku, suamiku, anakku, dan ayahku. Kata orang itu tidakak mungkin, tapi Alhamdulillah kesampaian juga. Semua berawal dari niat.

Lalu, tidak usah terlalu ngeribetin diri sendiri harus ideal segala sesuatunya, dibikin santai saja. Tidak usah terlalu ambisius seperti solo traveler, harus mengejar berbagai destinasi. Yang penting menikmati perjalanan. Terakhir, tidak perlu berekspektasi berlebihan. Santai saja. Biarkan pengalaman itu nanti datang sendiri tanpa didahulukan oleh ekspektasi macam-macam.