Di dunia yang memburu kenyamanan, Rahel Yosi Ritonga (38) justru memilih hal-hal yang tidak nyaman. Dalam ketidaknyamanan tersebut, perempuan yang memegang gelar Master of Science dalam bidang Educational Policy and Management Studies ini bertumbuh dan belajar banyak hal.

Rahel suka menuangkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan yang disertai foto atau video yang memparodikan fenomena dunia ibu, khususnya ibu rumah tangga. Konten yang dibagikannya melalui Facebook dan Instagram tersebut menginspirasi banyak orang.

Dalam berbagai foto dan video, Rahel tampak mengenakan “seragam” wajibnya di rumah, yakni daster bermotif batik. Dalam salah satu videonya, ibu dua anak ini menyoroti kebiasaan arisan ibu-ibu yang minim faedah, malah jadi ajang pamer. Di video lain, Rahel tampak menyemangati agar ibu rumah tangga tidak lagi merasa rendah diri karena peran tersebut sangat mulia.

Karir Rahel terbilang cemerlang. Terakhir kali bekerja kantoran, Rahel menduduki posisi Kepala Divisi Human Resource dan guru senior di sekolah internasional. Sebelumnya, Rahel sempat jadi penerjemah di pusat pelatihan anti-teroris. Namun, ia meninggalkan karirnya untuk fokus mengurus dan mendidik anak di rumah.

Di mata banyak orang, keputusan perempuan yang hobi melukis ini mungkin dianggap konyol. Pasalnya, Rahel seperti menyia-nyiakan potensinya karena memilih tinggal di rumah untuk mengurus keluarganya.

Kenyamanan lain yang ditinggalkannya ialah mengurus rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga (ART). Di Indonesia memang rasanya tidak banyak istri pengusaha atau pejabat yang rela turun tangan membersihkan kamar mandi atau mengepel lantai rumah setiap hari seperti yang dilakukan Rahel. Banyak yang mengira kalau mampu atau berada, lebih baik menyerahkan urusan domestik itu pada ART.

Rahel menampik anggapan tersebut. Dalam berbagai tulisan, ia berharap masyarakat bisa lebih empatik pada ibu rumah tangga karena walau kerap dipandang sebelah mata, profesi tersebut juga butuh kerja keras dan ketekunan. Ia juga bangga bisa mengerjakan tetek-bengek domestik dan membersamai keluarga sendiri. “Seratus persen dari mulai bangun tidur di pagi hari sampai pergi tidur di malam hari, saya melakukan aktivitas pekerjaan ibu rumah tangga mulai dari memasak, membersihkan rumah, mengasuh si kecil, mengajak bermain, menemani belajar si kakak, dan lain sebagainya,” terang Rahel.

Saya bertanya pada alumnus kampus di Belanda ini tentang hal-hal menjadi orangtua dan konten yang ia sebarkan melalui media sosial. Berikut wawancara lengkap kami:


Tina: Apakah menjadi orang tua menjadi salah satu mimpi kakak atau sesuatu yang terjadi secara alamiah setelah menikah?

Rahel: Dalam kisah saya tepatnya menjadi orang tua adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah setelah melahirkan anak. Saya dan suami sangat bahagia karena segera setelah menikah, kami langsung dikaruniai seorang anak. Namun pada waktu itu kami kurang mengambil waktu dalam mendiskusikan tentang persiapan menjadi orang tua sehingga proses belajar saya menjadi seorang ibu pada waktu itu sungguh-sungguh learning by doing. Lumayan jadi tahun-tahun yang berat bagi saya karena saya sedang belajar menjadi ibu dan ketika saya belum pintar, saya sudah harus kembali bekerja. Namun ketika melahirkan anak kedua, saya sudah lebih berpengalaman dalam menjadi seorang ibu.

Tina: Apa yang menurut kakak membuat seseorang pantas disebut orang tua yang baik? Karakter apa yang harus dimiliki orang tua untuk menghasilkan generasi yang lebih baik untuk dunia ini?

Rahel: Saya belum pantas dikategorikan sebagai orang tua yang baik, walaupun goal saya pastilah ke arah itu, jadi sebenarnya bukan kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan ini. Jadi orang tua itu menurut saya adalah salah satu hal tersulit di dunia ini. Membesarkan anak-anak itu tanggung jawabnya sangat besar dan diperlukan begitu banyak hal-hal baik dari orang tua untuk dapat sukses membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Selalu saja ada kesuksesan atau kegagalan setiap harinya.

Tapi saya rasa, yang namanya orang tua itu nomor satu haruslah dapat menjadi teladan atau contoh bagi anak-anaknya. Itu akan sangat berpengaruh di kehidupan anak-anaknya kelak ketika mereka tumbuh besar. Teladan mulai dari hal-hal kecil yang sederhana seperti, bisa jujur, bisa mandiri tidak manja, ramah kepada orang lain, know how to say thank you, sorry and please. Dan hal-hal yang lebih prinsip dan besar misalnya bertanggung jawab soal pekerjaan, bijaksana dalam pakai uang, dan lain-lain.

Children see, children do. Zaman sekarang kaum muda lebih gampang menyerap apa yang dia lihat, jadi kalau orang tuanya sendiri tidak memberi contoh yang baik, bagaimana mengharapkan anak-anaknya jadi baik?

Anak-anak mendapatkan pengajaran yang baik pertama-tama adalah dari rumah. Kalau mereka melihat orang tuanya tidak baik, ia akan keluar ke masyarakat dan menerapkan apa yang mereka lihat di rumah mereka.

Tina: Nilai-nilai apa yang kakak ingin selalu dipegang atau dianut oleh anak-anak? Lalu bagaimana sebagai orang tua kakak memastikan nilai tersebut dipahami dan dipegang oleh anak-anak?

Rahel: Saya memastikan bahwa nilai-nilai yang kami terapkan di rumah juga disepakati oleh suami, karena kadang perbedaan visi dan misi dalam membesarkan anak sering jadi penyebab konflik rumah tangga. Sejauh ini, segala hal mengenai nilai-nilai yang diajarkan kepada anak-anak dapat disepakati dan dijalani bersama. Kami saling mengingatkan, kalau ada yang lupa.
Salah satunya adalah kedekatan dengan Tuhan. Adalah penting bagi kami agar anak-anak kami mengerti konsep tentang Tuhan dan kehidupan ini dengan mengajarkan mereka isi Alkitab dan mengajak mereka ke Sunday School secara rutin.

Makan bersama, ngobrol bersama, dan budaya mengurangi pemakaian gadget ketika sedang berkumpul bersama adalah nilai-nilai tradisional yang tetap kami jalani walaupun godaannya besar di zaman ini. Begitu pula untuk mengajari anak-anak kami etika kesopanan ketika ada di masyarakat. Selain constant reminder kepada anak-anak, memberi contoh langsung juga selalu berusaha dilakukan supaya tidak ada double standard. Misalnya anak akan bilang “Mommy pegang handphone terus, kok aku nggak boleh?” Jangan sampai begitu.

Tina: Apakah kakak pernah merasa gagal jadi orang tua? Apa yang kakak lakukan untuk mengatasi perasaan gagal tersebut?
Rahel: Pernah, dan saya percaya selama kita masih menjadi orang tua pasti akan mengalami perasaan itu. Ketika saya tidak dapat menahan emosi, tidak sabar, dan cepat marah kepada anak-anak, disitulah saya merasa gagal sebagai orang tua karena saya tahu itu akan sangat-sangat berpengaruh kepada perkembangan emosional dan pembentukan karakter anak. Yang saya lakukan adalah datang pada Tuhan dan minta pengampunan. Sangat penting untuk minta hikmat dari Tuhan dalam mendidik anak-anak karena manusia itu lemah dan yang namanya orang tua itu penuh keterbatasan.
Kemudian memotivasi diri untuk jadi lebih baik lagi ke depannya. Harus bisa dan pasti bisa. Tidak lupa untuk minta maaf pada anak-anak karena hati mereka pasti telah terluka.

Tina: Sejauh ini, momen terberat apa yang kakak alami sebagai orang tua dan apa pelajaran yang kakak dapatkan setelah melewatinya?

Rahel:Momen terberat saya adalah tahun-tahun ketika saya terpaksa meninggalkan anak sulung saya dalam pengawasan babysitter karena saya bekerja. Tiga tahun kurang lebih anak saya diasuh babysitter dan itu bergonta-ganti karena berbagai alasan. Bisa dibayangkan anak batita harus diasuh oleh orang asing yang berganti-ganti dan tidak semuanya baik. Bahkan babysitter pertama kami sempat akan kami kasuskan dengan aparat hukum karena kami menduga ia telah memberi anak kami obat tidur waktu itu. Sayangnya kami tidak memiliki fasilitas CCTV di rumah saat itu jadi tidak bisa didukung bukti yang kuat, selain air minum yang keruh dan berbau.

Sungguh itu tahun-tahun yang berat bagi saya sebagai seorang ibu oleh karena itu saya amat bahagia saat ini bisa ada di rumah untuk mengasuh sendiri anak-anak saya. Saya benar-benar memaksimalkan peran sebagai ibu rumah tangga. Fokus pada apa yang berguna dan bermanfaat bagi keluarga saya.

Tina: Mengenai konten di media sosial, sejak kapan kakak punya ide berbagi opini dan menyebarkannya di dunia maya? Apa saja yang melatarbelakangi?
Rahel: Sebenarnya saya sudah menulis di media sosial sejak saya masih kuliah di Belanda. Saya suka menulis dan bahkan ketika saya tahu bahwa tulisan saya banyak digemari lingkaran teman-teman saya waktu itu, saya lantas mengikuti seminar khusus menulis empat tahunan yang lalu supaya saya bisa lebih profesional. Itu artinya saya sudah menulis sejak lama.

Kebiasaan itu didorong untuk bercerita saja mengenai kehidupan sehari-hari yang apa adanya, namun dikemas dengan bahasa yang santai dan dibumbui sedikit humor. Namun follower saya meledak setelah salah satu video bikinan saya menjadi viral dan ditonton oleh sekitar 4 juta orang. Video itu berjudul Arisan, yang menyindir budaya arisan di kalangan ibu-ibu di Indonesia.
Ya, saya juga sering membuat video pendek dengan berbagai konten yang idenya dan pembuatannya sejauh ini murni saya siapkan dan lakukan sendiri.

[wpvideo o3B3vm6T]

Tina: Banyak orang tentunya terinspirasi dengan konten yang kakak bagikan. Tapi apakah kakak juga ingin mengajarkan sesuatu pada anak-anak kakak dari aktivitas kakak di media sosial?

Rahel: Ya, saya berharapnya seperti itu. Saya membagikan cerita sehari-hari pada banyak orang. Tidak hanya segala kesuksesan dan hal-hal baik saja, tapi juga tentang kegagalan dan tentang kekurangan. Namun dari semua itu kita masih bisa bangkit dan menyemangati orang banyak. Itulah yang saya ingin ajarkan pada anak-anak saya. You don’t need to be perfect to inspire others. You can be just yourself and still be shining in your imperfection.

Saya sering tunjukkan konten tulisan saya dan reaksi pembaca atau video-video saya. Misalnya saya menulis tentang kebiasaan membaca buku di rumah kami dan kemudian saya akan menunjukkan kepada mereka bagaimana banyak orang menjadi terinspirasi oleh karena kebiasaan baik kami. Saya berharap anak-anak saya jadi tambah bersemangat melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Tina: Orang tua kakak, khususnya sang ibu, kerap kakak sebut sebagai teladan bagi kakak. Apakah ini berlaku juga dalam hal parenting? Hal-hal apa saja yang kakak terapkan sebagai orangtua karena terinspirasi dari cara kakak dibesarkan?
Rahel: She is the best mother in my world! Karena beliau, saya bisa seperti ini sekarang. Ibu selalu membebaskan saya dalam berkreasi. Beliau membebaskan saya ingin mencoba belajar apa saja, dan kalau saya bosan atau tidak bisa, beliau tidak akan marah-marah. Oleh karena itu saya tumbuh besar menjadi seseorang yang sangat kreatif dan imajinatif. Saya tidak takut mencoba apa saja.

Tapi seiring berjalannya waktu, semenjak saya menjadi orang tua, saya tahu ada hal-hal tentang cara mengasuh anak yang tidak saya setujui dan tidak saya ikuti dari ibu saya, melihat hasilnya di antara saya dan saudara-saudara kandung saya. Oleh sebab itu, saya memiliki cara saya sendiri di dalam mengasuh dan mendidik anak-anak saya. Bottomline, ambil positif nya saja yang negatif tidak usah diambil.

Tina: Apa saja pesan atau harapan dari kakak yang kiranya menginspirasi bagi orang tua jaman sekarang dalam membesarkan anak-anaknya?

Rahel: Mari kita jadi contoh yang real buat anak-anak kita. Kita hidup di zaman yang makin modern dan penuh tantangan. Teknologi makin pesat dan menciptakan monster-monster yang individualis seandainya kita sebagai orang tua tidak punya pengendalian diri yang kuat, waspada, dan instrospeksi. Anak-anak zaman sekarang butuh role model yang baik dari rumah mereka karena mereka bisa saja memilih untuk following orang-orang asing di media sosial atau di masyarakat yang mereka rasa dan pikir lebih seru dan asyik, padahal tidak semuanya memberi contoh yang baik.

Mari kita jadi orang tua yang tegas, disiplin tapi masih bisa asyik dan seru. Mengikuti trend kekinian tapi sejatinya kita juga harus bisa memegang nilai-nilai tradisional yang baik untuk keluarga, terutama anak-anak kita. Misalnya kurangi penggunaan gadget dan berkomunikasilah satu sama lain. Ini akan lebih mudah ketika anak-anak masih kecil dibandingkan harus memulai kebiasaan ini dengan anak-anak yang lebih besar. Good habit is coming from the parents.

PS: semua foto dan video diambil dari akun Instagram @ritongarahelyosi