Dua tahun lalu Mutiara Priza Dinanti terbaring lemah di rumah sakit. Dalam kandungannya, ada janin berusia tujuh bulan yang tidak sabar ingin dipeluknya. Meskipun berusaha untuk kuat dan sehat, ia harus mengakui tubuhnya mengalami perubahan selama masa kehamilan.

Tidak banyak yang bisa dilakukan perempuan kelahiran Surabaya, 7 Maret 1992 itu selama dirawat inap di sebuah rumah sakit di Malang. Namun ia masih bisa memegang ponsel dan berbisnis. Ya, berbisnis jadi soft skill yang sudah ditekuninya sejak kuliah. “Apa saja yang laku dijual akan aku jual,” ujar lulusan Universitas Negeri Malang tersebut.

Setelah menikah, perempuan yang akrab disapa Muti ini tercatat sebagai agen asuransi. Penghasilannya sebagai agen diakui tidak cukup membiayai kebutuhan dan hobinya. Ditambah Muti harus menyaksikan kejadian yang membuat ayahnya bangkrut. Ekonomi keluarga besarnya menjadi tidak baik-baik saja.

Namun perempuan berusia 21 tahun ini tidak mau terpuruk. “Aku mau menghasilkan uang. Apalagi aku sangat suka jajan,” tambah ibu dari seorang anak perempuan ini. Niat yang mungkin disepelekan orang itu diubahnya menjadi bisnis yang menjanjikan.

Segala peristiwa dan pengalaman hidup kemudian mengantarkan Muti menjadi dirinya sekarang, pemilik penginapan, tour and travel di Jalan Jaksa Agung, Malang, Jawa Timur. Bisnisnya sudah dimulai sejak 2017 dan semakin berkembang.

Saya berbincang dengan Muti mengenai jatuh bangun bisnisnya dan tentu saja, perannya sebagai orangtua. Berikut hasil wawancara saya:


Tina: Tolong ceritakan awal Muti terjun ke bisnis homestay.
Muti: Wah, panjang sekali. Sebenarnya, homestay @rumah.jljaksaagung.tourtravel merupakan rumah peninggalan si mbah. Dulu, rumah yang sangat luas tersebut punya 5 kamar yang dijadikan kos untuk dokter koas RSU Saiful Anwar. Masa koas mereka berakhir sebelum saya menikah. Aku sudah promosikan rumah ini untuk kos bulanan tapi hasilnya nihil.

Lalu aku punya ide untuk menjadikan rumah ini untuk kos harian. Lantaran kalau aku lihat di internet, banyak rumah yang dijadikan tempat singgah.

Waktu itu, tahun 2017, aku lagi hamil tapi sering sakit, bahkan beberapa kali diopname. Tapi aku mau menghasilkan uang karena kondisi keuangan ayah yang lagi jelek dan aku butuh biaya juga untuk bayar rumah sakit.

Nah, rumah ini kan bangunan lama. Jadi, aku cat ulang dan aku renovasi supaya tidak tampak horor. Desainnya minimalis, spreinya pun putih ala penginapan.

Jadi dalam kondisi hamil besar dan badan terasa lemah, aku tetap pergi ke pasar untuk beli bantal, sprei, dan selimut untuk ditaruh di kamar. Bahkan pernah pingsan di tengah jalan. *tertawa*

Tina: Setelah itu, apakah homestay kamu langsung laku?
Muti: Setelah melakukan hal tersebut, aku mulai memikirkan soal harga. Aku tahu kalau memakai harga standar pasaran, homestay ini tidak akan laku karena bersaing dengan rumah-rumah bagus mewah nan minimalis.

Lalu bisa tebak gak, aku pasang harga berapa? Rp 25.000/orang. Ini bukan kamar sharing (campur dengan penginap lain), ya. Harga segitu untuk kamar private.

Fasilitas dan kamarnya juga sangat memanusiakan manusia, kok. Meski kamar mandi luar, kamar dan kamar mandi selalu bersih. Biaya tersebut juga sudah termasuk sarapan nasi dan koneksi wifi.

Selanjutnya aku memikirkan promosi dari Instagram ini karena dulu pengikutnya baru satu alias saya doang hehe. Selain minta tolong beberapa teman bantu promosikan, aku bermain hashtag.

Aku cari hashtag yang aku yakin selalu dicari pelancong dari luar kota saat mau berlibur di Malang. Lalu aku taruh hashtag di setiap upload-an foto agar memudahkan pencarian.

Dan di luar ekspektasi, banyak sekali yang menghubungi lewat WhatsApp. Setiap hari selalu ada kamar yang terisi meski enggak penuh. Jumlah followers di Instagram pun mulai naik.

Tina: Padahal waktu itu masih hamil kan?
Muti: Entah kenapa kondisi hamil lemah ini aku sangat antusias untuk service klien satu persatu. Aku terus memikirkan inovasi apa yang harus dibuat, berbenah ini itu karena aku tidak punya latar belakang perhotelan sama sekali.

Tapi aku mau belajar bagaimana menerima tamu, menyapa, berbincang, menerima tamu dengan antusias karena tamu butuh lebih dari sekedar service menginap tapi juga informasi mengenai kota Malang.
Banyak testimoni dari para customer yang bilang puas terhadap pelayanan yang aku berikan, dari segi keramahtamahan, tempat bersih, dan makanan enak.

Sampai menjelang kelahiran, setiap hari, mau weekend atau weekday, lima kamar yang ada selalu penuh. Setiap hari ada chat menanyakan ketersediaan kamar, sampai 30 chat.

Aku juga sering menolak permintaan calon tamu yang mau menginap. Karena aku handle sendiri dalam keadaan lemah, sering tidak konsentrasi, sempat terjadi banyak double booking. Jadi kamar yang sudah terisi lupa dicatat, aku tawarkan lagi ke orang lain. Parahnya ini ketahuan setelah tamu-tamu itu datang.

Tina: Lalu, bagaimana kamu menghadapinya?
Muti: Di sini mungkin yang harus jadi catatan bagi semua pengusaha, bahwa kita harus bertanggung jawab. Konsumen adalah raja. Jangan sampai mengecewakan raja.

Aku tidak sekadar minta maaf, lalu menawarkan uang refund. Kalau seperti itu, bayangkan kalau kalian jadi konsumen, pasti bakalan marah besar, sudah jauh-jauh hari rancang liburan, eh, ketika datang, tempat menginap belum tersedia. Siap-siap dicap pelayanan buruk.

Jadi aku bukan sekedar mengembalikan uang customer, tapi membayarkan biaya menginap di hotel atau penginapan terdekat, yang tentunya harganya jauh di atas harga yang kubuat. Biaya transportasi juga aku tanggung.

Jelas aku rugi banget. Tapi ini sebagai bentuk anggung jawab karena mempertahankan nama baik itu sangatlah susah. Walaupun menerapkan cara ini, tentu tetap ada yang kecewa Tapi gak disangka, tahun berikutnya customer itu kembali, gak kapok memesan dan menginap di tempat kami lagi.

Tina: Selain penginapan, bisnis kamu berkembang jadi tour and travel. Itu ceritanya bagaimana?
Muti: Itu dari permintaan customer. Banyak tamu yang datang bertanya tentang sewa motor atau mobil, lalu jasa tur ke Bromo. Tapi aku sering jawab tidak tahu. Atau aku sarankan untuk cari di Instagram dengan hashtag yang berkaitan.

Setelah beberapa lama, aku punya ide, lebih baik kesempatan ini aku manfaatkan untuk mengembangkan bisnis. Aku cari penyedia jasa tur dan penyewa kendaraan di Malang. Aku tanya tarif mereka, aku pilih yang termurah lalu aku jadikan mitra.

Respon dari tamuku luar biasa. Bahkan para vendor ini memberikan tarif khusus yang jauh lebih murah daripada tarif regular. Perbedaannya bisa sampai 50%. Itu karena mereka mendapat customer yang sangat banyak dari rekomendasiku. Makanya banyak vendor baru yang menawarkan kerja sama denganku, tapi aku tidak terima karena menjaga loyalitas dengan mitra yang sudah ada.

Tina: Lantas, setelah bayi lahir, apakah ada perbedaan dari ritme atau cara dalam menjalankan bisnis?
Muti: Setelah anakku lahir, jujur saja bisnis sering keteteran. Rasanya sudah seperti kaki di kepala, kepala di kami. Semakin banyak tamu yang aku tidak karena aku benar-benar kewalahan dalam menghadapi customer. Di sisi lain, aku tidak punya orang yang membantu, baik keluarga atau baby sitter. Kondisi keuanganku belum stabil, karena uang selalu aku pakai untuk merenovasi homestay sehingga aku belum berani bayar pengasuh.

Aku kurang tidur, bahkan sempat baby blues. Aku mendiamkan bayiku karena aku benar-benar lelah. Sampai akhirnya, aku pekerjakan seorang admin yang juga berperan membantuku mengasuh anak.

Butuh beberapa bulan sampai aku menemukan ritme yang cocok. Jadi, aku bangun jam 8 pagi, lalu mengurus bayiku, seperti memandikan dan memberi makan. Kemudian, mulai pukul 10, bayiku dipegang karyawan yang aku jadikan pengasuh. Itu berlangsung sampai pukul 4 sore. Jadi selama enam jam aku fokus mengurus bisnis.

Setelah pukul 4 sore, aku kembali lagi membersamai anakku sampai dia tidur jam 10 malam. Kadang dia tidur jam 12 malam. Setelah itu aku tidak langsung tidur. Aku harus mengoreksi lagi pekerjaan para karyawan di hari itu. Jadi tidak jarang aku tidur hampir subuh.

Tina: Menurut kamu, itu sudah ideal?
Muti: Aku tidak tahu, yang jelas cara itu cocok untuk diterapkan. Memang aku seperti mengorbankan anakku untuk diurus orang lain. Tapi aku harap ketika bisnis semakin besar dan stabil, aku punya banyak waktu berkualitas dengan anak. Karena kalau aku urus bisnis sambil urus anak, aku akui tidak sanggup dan malah kacau.

Untuk suami, karena dia bekerja di luar kota, kami hanya bertemu di akhir pekan. Biasanya suami membantu untuk urus anak dan aku fokus mengurus homestay karena akhir pekan, customer banyak sekali. Aku bersyukur karena suami mengerti. Anak juga tidak rewel ketika aku sibuk mengurus bisnis.

Tina: Teladan apa yang mau kamu tunjukkan pada anak dalam menjalankan bisnis?
Muti: Saat berbisnis kita sudah pasti mencari uang. Tapi kepuasan konsumen itu adalah hal yang utama. Aku ingin anakku menjadi pribadi yang tidak money oriented dan bertanggung jawab terhadap permasalahan yang ada di depan, serta siap mental dan kuat ketika berhadapan dengan klien seburuk apapun kondisi kita.

Teladan yang lain, aku ingin anakku tahu bahwa sebesar apapun kita nanti, tetap rendah diri dan kasih yang terbaik buat karyawan atau orang yang bekerja sama dengan kita. Tanpa bantuan mereka juga, kita bukan apa-apa.

Tina: Sekarang, sudah sebesar apa bisnis kamu?
Muti: Sekarang aku sudah punya 18 kamar dan delapan karyawan. Lima orang bertugas mengurus administrasi dan tiga orang untuk penjaga penginapan. Untuk sarapan pengunjung, aku serahkan pada karyawan. Sistemnya, mereka masak dan aku yang bayar. Lumayan, loh, dalam sebulan lebih dari 1.000 porsi yang aku bayarkan.

Tina: Apa saja pertimbangan kamu dalam membesarkan bisnis?
Muti: Banyak hal, ya. Dulu setiap hari customer minta supaya aku tambah kamar karena sering tidak kebagian kamar saat mau menginap. Jadi aku bangun satu per satu kamar untuk menampung customer. Tapi tetap saja kurang, makanya aku sarankan untuk pesan H-2 bulan supaya dapat kamar.

Lalu karena semakin banyak pengunjung, aku butuh karyawan. Awalnya, aku gaji di bawah UMR karena biayaku kurang. Apalagi laporan keuanganku dulu amburadul sekali. Padahal aku lulusan jurusan Ilmu Akuntansi. Setelah 1,5 tahun aku baru punya laporan keuangan yang cukup rapih dan aku tahu berapa keuntunganku. Simpanan untuk pribadi dengan bisnis sempat aku satukan, tapi sekarang sudah terpisah.

Tina: Bagaimana, sih, hitung-hitungan bisnis kamu? Dulu berapa modal yang dikeluarkan, lalu kapan balik modal?
Muti: Modalku hanya Rp 7,5 juta untuk beli sprei, bantal, selimut, dan lemari. Aku tidak tahu pasti kapan sudah BEP karena dulu laporan keuanganku amburadul sekali.
Kalau dirata-ratakan, aku dapat Rp 50.000 dari tiap customer. Sementara itu, pengeluaran terdiri dari: gaji karyawan, uang makan penginap, bayar tagihan listrik, air, dan koneksi internet, bayar operasional (seperti detergen, pewangi, dll), dan sedekah dari usaha homestay. Sisanya aku pakai buat bangun dan renovasi terus.

Tina: Terus kamu belajar bisnis dari mana? Apakah waktu kuliah dipelajari?
Muti: Aku belajar dari pengalaman. Waktu kuliah, aku sering jualan. Awalnya aku jual jam warna-warni merek Mobil yang sempat hits. Aku beli di pasar Rp 15.000 per piece dan jual seharga Rp 80.000 – Rp 90.000 per piece. Sejak saat itu aku jadi suka sekali berjualan.

Dari situ, aku belajar menghadapi customer dan jeli melihat kemauan pasar. Padahal aku introvert dan dulu malu sekali kalau harus ngomong ke orang asing. Bahkan untuk minta sendok ke kasir restoran pun aku tidak berani. Tapi karena bisnis, aku mau tak mau harus berani. Aku juga pernah bergabung dengan salah satu event organizer di Malang. Dari situ aku belajar untuk cepat dan sigap dalam mengambil keputusan.

Malah aku merasa waktu kuliah tidak belajar banyak. Memang aku tahu bagaimana membuat jurnal keuangan dan buku besar karena kuliah Akuntansi. Tapi sebatas itu. Aku lebih suka bisnis daripada kuliah.

Tina: Menurut kamu, apa kunci kesuksesan bisnismu?
Muti: Karena aku punya 3 poin utama:
1. Harga termurah dengan fasilitas yg sama bahkan lebih dari homestay lain (gratis sarapan nasi), 2. Kualitas bagus,
3. Jujur. Ketika aku bilang lokasi penginapan di pusat kota, itu benar karena tempat ini benar-benar hanya lima menit dari stasiun.

Tina: Dari segi promosi, apa saja yang kamu lakukan?
Muti: Pertama, tidak pernah bosan sounding di seluruh media sosial tentang usahaku. Mau kita di-unfollow atau dianggap spam, biarkan saja. Lama-lama, orang hafal dan ingat bahwa kalau butuh penginapan dan jasa tur bisa tanya aku.

Kedua, minta bantuan teman untuk sebarkan informasi tentang usahaku, tapi tidak sampai memaksa karena sifatnya minta tolong. Otomatis aku pun harus sering bantuin teman.

Ketiga, aku main hastag aja di Instagram dari dulu sampai sekarang. Keempat, paid promote. Aku dulu tidak mau bayar untuk promosi karena benar-benar menguras uang. Tapi waktu itu aku iseng deh promosi di akun gosip.

Kenapa akun gosip? Karena lebih sering di-follow dan diperhatikan orang setiap postingannya, beda dengan postingan selebgram.

Awalnya aku beriklan di akun @tanterempongg. Followers naik 10 ribu dan permintaan calon customer membludak, sehari masuk 100 chat. Kemudian yang bikin bisnisku viral ialah karena iklan di akun @lambeturah. Jumlah followers naik 100.000 pengikut.

Tina: Apa kendala yang masih kamu rasakan?
Muti: Karena ini rumah lama, selalu ada saja yang harus dibetulkan, mulai dari genteng bocor sampai dinding yang lembab jadi harus cat ulang. Desainnya juga aku perbaharui supaya menarik untuk difoto. Aku cari inspirasi di Pinterest, dan kebetulan aku suka desain dengan warna cerah. Banyak tamu yang mengapresiasi desain karya saya ini. Senang sekali.

Bisnis jasa yang aku geluti menguras pikiran. Aku belum bisa urus anak sendiri, karena bisnis ini membutuhkan aku untuk ambil keputusan terakhir. Misalnya ketika ada rombongan yang minta potongan harga, itu kan harus aku yang memutuskan.

Makanya, aku merasa belum maksimal menjalankan peran sebagai ibu dan istri. Tapi ini pengorbanan, yang penting aku tidak melupakan peranku.

Tina: Apa saran yang bisa kamu berikan pada orangtua yang masih takut memulai bisnis?
Muti: Pertama, tanyakan pada diri sendiri, apa tujuan hidup kita. Untuk mencapai itu, butuh pengorbanan. Misalnya, aku ingin punya kerajaan bisnis sendiri dalam hidupku. Mungkin saat ini seperti harus mengorbankan anak. Tapi semua akan terbalas. Sekarang aku lihat anakku mengerti, tidak mengganggu ketika aku bekerja.

Selain itu, tetap optimistis. Jalankan saja seperti air mengalir. Selama kita masih punya Yang di Atas dan tidak lupa bersedekah, mudah-mudahan rezeki selalu lancar.