Hai anakku sayang, bagaimana harimu?

Tidak seperti biasa, mama tidak ada di sampingmu saat ini. Hari ini, mama punya urusan di bank dan menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu sendirian.

Tadi pagi, kamu sedih ketika mama beri tahu bahwa mama harus pergi. “Aku mau ikut mama,” katamu dengan suara pelan. Tangismu tidak lantang karena kamu tahu kamu memang tidak diizinkan ikut. Kamu berbicara lirih sambil menunduk, mungkin tidak rela mama pergi serta tidak rela ditinggal.

Percayalah, mama senang menghabiskan waktu bersamamu. Tapi, mama butuh waktu sendiri untuk kesehatan mental mama. Bukan karena kamu merepotkan. Bukan juga karena mama bosan denganmu. Hanya saja, kapasitas manusia memang terbatas, Nak. Makanya butuh rehat. Setelah ini, mama tahu kamu akan menyambut dengan riang dengan suara kencang diiringi tarian penanda hatimu girang. Pun seharian ini mama sangat merindukanmu dan hati mama siap kembali untuk membersamaimu dengan lebih sukacita.

“MAMA!”

Begitu panggilmu padaku setiap hari. Bukan hanya saat sadarmu. Bahkan dalam mimpimu dan keadaan setengah tidur, mulut kecilmu kerap menyebut mama. Kadang panggilan itu disertai tawamu yang menggelegar. Namun, sering juga kamu memanggil mama sambil menangis.

Itu sebutan yang memang kuharapkan darimu. Sejak kamu lahir sekitar 25 bulan lalu, aku pun menyebut diriku mamamu. Sejak memasuki usia setahun, setiap hari kata “mama” jadi sapaan yang wajib keluar dari mulutmu sepanjang hari.

Mengapa harus “mama”, ya? Ada banyak sebutan lain dari anak untuk perempuan yang melahirkannya: ibu, bunda, umi, mami, mommy, ambu. Bahkan ada sebutan yang dibuat-buat supaya terdengar beda: mimi, mamski, emak, madre, atau yang lainnya.

Lantas mengapa aku memintamu memanggilku mama, ya? Mungkin karena aku pun memanggil perempuan yang melahirkanku dengan sebutan yang sama. Sempat terpikir aku ingin dipanggil “mommy”. Tapi serius sajalah, Nak, kita masih menggunakan bahasa Indonesia di rumah, untuk apa kita sematkan panggilan beraroma “bule” tersebut dalam keseharian kita.

Walaupun mama juga baru tahu, sebutan mama ternyata berakar dari kebiasaan keluarga Belanda yang akrab dengan panggilan mammie, mamma, atau mammaatje. Kemudian, kebiasaan ini menular sehingga banyak anak Indonesia memanggil ibunya dengan sebutan mami atau mama.

Bagiku sebutan ini netral. Tidak sok kebarat-baratan, juga tidak sok nasionalis. Karena aku bukanlah keduanya. Bagiku sebutan mama menunjukkan aku tidak suka hal yang berlebihan atau dipaksakan. Aku cukup puas dengan hal yang netral; kata yang bersinonim dengan adil, bebas, dan objektif.

Aku senang kamu memanggilku mama. Aku pun bangga menyebut diriku mamamu. Kamu boleh menyebut perempuan lain dengan sebutan ibu, mami, atau lainnya bila memang menurutmu pantas. Tapi mama minta padamu, tiap kali mulut mungilmu berseru, “Mama”, aku harap seruan itu selalu ditujukan untukku dan hanya untukku.