Sebenarnya dulu tidak pernah terbersit bahwa saya bisa ke Singapura untuk mendapatkan fasilitas medis. Kerabat saya selalu pilih Penang untuk cek kesehatan atau berobat karena biaya berobat di sana, katanya, lebih murah dan lebih bagus dibandingkan di dalam negeri.

Tidak ada keluhan yang mengharuskan kami ke Singapura untuk mendatangi salah satu rumah sakitnya. Tapi kami ke negara tetangga ini untuk memeriksakan si bocah.

Sebetulnya rencana mengajak bocah untuk cek kesehatan di Singapura sudah ada sejak tahun lalu. Bahkan kami sudah mengirimkan email ke National University Hospital (NUH) pada akhir 2017 dan mengutarakan keinginan kami untuk bertemu dokter spesialis mata khusus anak di RS tersebut pada Februari 2018. Namun untuk berbagai alasan, rencana itu kami batalkan. Tidak ada yang darurat saat itu. Pun saat kami memutuskan untuk datang ke NUH pada pertengahan bulan Februari 2019 ini.

Kenapa memilih NUH?

Dari cerita orang. Hehe. Saya punya kenalan di support group, seorang ibu yang kondisi anaknya agak mirip dengan si bocah. Dia merekomendasikan NUH karena anaknya berobat di sana dan bertemu dengan ahli medis yang kompeten.

Kemudian, saya juga membaca blog Bibimbubs yang menceritakan pengalamannya membawa anak berobat di NUH. Dokter yang ditemui pun sama dengan ibu di support group tersebut. Jadi, kami putuskan untuk mengajak anak bertemu dokter di situ, dan kalau diperlukan, mendapatkan perawatan di RS tersebut.

Saya tidak bisa menjelaskan dengan rinci kondisi anak saya. Bukan karena tidak mau. Tapi saya menghormati haknya. Saya hanya akan cerita detail lewat tulisan jika anak saya memberikan izin.

NUH, seperti namanya, bisa dibilang RS milik pemerintah semacam RSUP Cipto Mangunkusumo. Jujur, status itu sempat membuat saya ragu, karena saya merasakan pengalaman buruk dengan RS pemerintah. Tapi karena testimoni kedua ibu tadi dan kami yakin dengan reputasi Singapura sebagai negara yang maju dan punya standar kualitas tinggi, kami singkirkan keraguan itu.

Kenapa harus ke luar negeri?

Singkatnya karena saya kecewa dengan kualitas RS di dalam negeri, khususnya bagaimana tenaga medis memperlakukan anak saya, yang waktu dirawat masih bayi, belum berumur setahun. Kalau ingat masa-masa kelam itu, saya merasa sedih sekaligus marah karena, menurut saya, dokter tidak memberi perlakuan baik.

Saya merasa anak saya diperlakukan hanya sebagai “salah satu pasien” bagi dokter. Mereka tampaknya tidak sadar bahwa pasien mereka ini adalah segala-galanya bagi saya. Contohnya saja cara komunikasi. Mereka tidak peduli anak saya menangis keras ketika diperiksa. Dokter tidak berusaha membuat anak nyaman saat harus diperiksa. Padahal, saya bawa anak saya menjumpai dokter yang khusus dan memang sehari-hari menangani anak-anak, termasuk bayi.

Ini jelas menimbulkan trauma. Sebelum pengobatan, anak saya selalu tenang saat dibawa ke klinik untuk vaksin. Dia menangis sesaat ketika merasakan sakitnya jarum suntik. Namun, setelah pengobatan, ditimbang di RS saja langsung membuatnya tidak nyaman dan menangis.

Memang ada dokter dan suster yang baik. Tapi tetap saja saya merasa ada yang kurang.

Yang fatal sih karena para dokter salah diagnosa. Saya bertemu dengan tiga dokter ahli yang sudah senior di bidangnya, yang memberi diagnosa yang sama. Namun, setelah analisis lebih lanjut, diagnosa yang dihasilkan berbeda. Selain itu tidak ada prosedur yang jelas dalam proses pemeriksaan.

Tapi sudahlah. Saya sudah melewati five stages of grief. Pada akhirnya, walau sulit, saya sudah bisa menerima bahwa kami harus melewati masa berat itu. Saya sudah memaafkan para dokter. Namun saya tidak begitu bodoh untuk kembali mempercayakan kesehatan anak saya pada mereka.

Pengalaman berobat di NUH

Seperti yang saya bilang, tidak ada keluhan yang membuat kami datang ke NUH. Anak saya sehat-sehat saja. Tapi, kami butuh dokter spesialis untuk menjustifikasi itu.

Suami saya sudah mengirimkan email ke NUH pada akhir 2018 menjelaskan kondisi anak kami dan mengatakan bahwa kami ingin bertemu okularis (ocularist) untuk anak kami. Mereka sigap membalas email dan memberi tahu prosedur pemeriksaan. Intinya, kami baru bisa bertemu okularis apabila sudah mendapat persetujuan dari dr. Gangadhara Sundar, selaku kepala dan konsultan senior di bagian penyakit mata.

Kami mendapat jadwal temu dengan dr. Gangga pada Senin, 18 Februari, pukul 14.20 waktu setempat. Namun, sebagai pasien internasional, kami harus melapor dulu ke bagian Patient Liaison Center (PLC) setidaknya 30 menit sebelum jadwal temu.

Kami sudah tiba di Singapore, Minggu sore. Senin pagi kami jalan-jalan sebentar ke Haji Lane yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari tempat kami menginap.

Lantas kami berangkat dengan MRT dan sampai di stasiun Kent Ridge pukul 12 siang. Bangunan RS terhubung dengan stasiun MRT. Setelah melewati exit C atau D menuju medical center NUH, kami ke level 3 untuk bertemu PLC.

Karena jadwal temu masih agak lama, kami sempatkan makan di food court yang terletak di level 1. Tapi bocah malah tidur. Jadi kami bungkus makanan dan baru dimakan saat menunggu dokter datang.

Kami sudah sampai di level 17 dan mendatangi Eye Surgery Centre sekitar pukul 13.00. Saat mendaftar ulang, kami hanya perlu memberikan paspor anak dan memberi informasi detail tentang berat badan, alamat, dan nomor yang bisa dihubungi. Lalu kami diminta menunggu.

Bangunan RS sangat modern dan tidak terasa seperti RS, mirip mal. Padahal ini RS milik pemerintah, ya. Di RSCM ada sih gedung baru, tapi harganya juga premium. Kualitas tenaga medisnya, menurut saya, hanya beda sedikit dengan RSCM yang lama.

Awalnya, kami bertemu staf, seorang perempuan keturunan Tionghoa yang mengantar kami ke ruangan untuk pemeriksaan mata. Bocah terbangun saat kami memasuki ruangan. Biasanya mood bocah tidak bagus kalau baru bangun tidur. Apalagi disuruh melihat papan bergambar oleh orang asing. Saya sudah siap jika bocah menangis.

Tapi saya salah. Bocah memang sempat bingung tapi dia mengikuti instruksi staf tadi dengan sangat baik. Tanpa tangis sama sekali. Mungkin karena staf tersebut selalu tersenyum dan berbicara dengan nada yang friendly. Dia juga selalu memuji saat bocah bisa menemukan gambar di papan dengan cepat.

Selanjutnya kami diantar ke ruang tunggu karena dokter belum tiba. Ruangannya nyaman. Kami makan siang di situ. Bocah senang mengangkat kursi kecil dan memandangi gambar kartun yang ada di ruangan.

Kami menunggu sekitar sejam sampai seorang dokter perempuan mendatangi kami dan mengajak kami ke ruangannya. Kami sempat bingung karena dr. Gangga kan laki-laki. Tapi kami ikut saja. Hahaha. Sepertinya dia asisten dr. Gangga.

Sejak bertemu bocah, si asisten dokter kerap memuji bocah. “He’s a cute boy. So handsome. I love your haircut, little boy.” Stuff like that lah. Bocah, walaupun tidak paham bahasa Inggris, senyum dan tertawa menanggapi si dokter. Sampai dokternya bilang, “Look at him. He looks like he understands what I’m saying.”

Dokter bertanya riwayat kondisi si bocah. Lalu kami bercerita dan memberikan rekam medis yang kami bawa. Karena ditulis dalam bahasa Indonesia, tentu saja dia tidak mengerti. Tapi dia mengerti gambar-gambar dari USG dan retcam yang kami tunjukkan.

Tak lama, dr. Gangga pun datang dan minta kami menceritakan detail kejadian awal. Dia tanya, siapa yang pertama menyadari kondisi si bocah. Ketika saya tunjuk diri, beliau menjawab, “It’s always the mother who notice first. Father only good for the haircut.” Sontak kami yang ada di ruangan pun tertawa. Saya yang sempat tegang dan harus mengulik memori kelam jadi mulai rileks karena dr. Gangga suka bikin candaan.

Dr. Gangga minta kami menerjemahkan hasil analisis penyakit si bocah. Namun karena banyak istilah medis, kami “lost in translation”. Tapi dia menyuruh rekannya, Dr. Sue untuk minta rekan dokter mereka yang orang Indonesia menerjemahkan lewat WhatsApp. Sayangnya, si dokter pun tidak paham beberapa istilah yang ada di analisis tersebut.

Poin yang saya tangkap: dr. Gangga tidak mau bikin asumsi. Semuanya harus dicek lagi untuk memastikan. “Never assume,” katanya pada asisten yang terdengar oleh saya.

Kami pun digiring keluar dan diminta menunggu untuk diperiksa lagi sekitar setengah jam kemudian. Setelah menunggu, asisten dokter tadi mulai memeriksa bocah. Tapi karena suami saya masih di luar berbicara dengan dr. Sue, bocah sibuk cari papanya. Dia sempat menangis waktu dipegang asisten dokter. Eh, dr. Gangga nyamperin asistennya dan bilang, “He’s been a very good boy. Don’t let him associate you with pain or something uncomfortable. Just wait and make him comfortable.”

Rasanya saya mau nangis karena akhirnya bertemu dokter yang peduli dan tidak mau membuat pasiennya trauma. It’s a little thing but really matter to me.

Dr. Gangga kemudian memeriksa dan menyampaikan hasil pengamatannya. Dia mengatakan semua yang ingin kami dengar bahwa si bocah sehat. Namun, dia menyarankan beberapa hal, seperti pentingnya kacamata untuk melindungi mata si bocah serta tetes mata setiap hari.

Oh iya, Dr. Sue itu ocularist yang ingin kami temui. Tadinya dia bersedia mencocokkan jadwal dan minta kami datang keesokan hari karena kami hanya akan ada di SG sampai 25 Februari. Tapi, karena dr. Gangga bilang bahwa semua baik-baik saja, kami putuskan menunda pertemuan sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya mau tunggu setidaknya setahun lagi supaya bocah bisa lebih paham kalau saya jelaskan prosedur medis dan menghindari trauma.

Setelah itu kami ke kasir untuk membayar jasa medis. Di email kami diinfokan biaya konsultasi dengan dr. Gangga sebesar S$134,82. Tapi sepertinya ada penyesuaian tarif karena kami membayar $S140-an.

Sekitar pukul 17.30 kami meninggalkan NUH dan kembali ke hotel. Saya puas dan lega serta tidak cemas lagi tentang kondisi si bocah.

Semoga Tuhan kasih rejeki supaya tahun depan sanggup kembali ke NUH untuk proses medis yang tertunda.