Halo..

Saya mau cerita liburan keluarga kami ke Thailand beberapa bulan lalu alias Oktober. Seharusnya tulisan ini sudah dibuat berbulan-bulan lalu, tapi saya mager, eh, malis alias males nulis. Dan sebelum trip keluarga berikutnya, saya harus tulis ini biar PR nulis tidak semakin banyak.

Jadi ya, suami saya bergabung di grup pemburu tiket promo. Hampir semua tiket liburan, apalagi ke luar negeri, kami dapat dengan harga promo, terutama AirAsia. Kebetulan, awal tahun, suami dapat info promo tiket AA ke beberapa destinasi di Asia Tenggara. Kami pilih Thailand karena belum pernah ke Negara Seribu Pagoda ini. Saya juga dulu penasaran banget sama Chathucak Market dan belanja baju murah yang terkenal dari Bangkok.

Kami berangkat hari Kamis, 18 Oktober 2018 dengan pesawat pagi sekali, sekitar pukul 5.30 WIB. Atuhlah, tidak ada taksi di kota kecil ini. Jadi kami minta bantuan orang kantor suami untuk mengantarkan kami ke bandara Kuala Namu lewat tengah malam.

Bocah kami bangunkan pukul 02.00 dan kami berangkat sekitar pukul 02.30 dari rumah menuju bandara. Semua perlengkapan sudah masuk tas. Jadi kami hanya perlu ganti baju tanpa mandi karena bokkk, males amat mandi tengah malem begitu.

Si bocah tidur dalam perjalanan menuju bandara. Begitu sampai sekitar pukul 03.30, dia terbangun dan langsung melek lihat area bandara yang luas untuk berlari-lari.

Kami menunggu di bandara tanpa mengantuk sama sekali saking excited mau liburan. Restoran di bandara belum buka, jadi kami hanya sarapan roti sebelum masuk ke ruang tunggu.

Di ruang tunggu, bocah masih heboh lari-lari sambil menunggu dipanggil masuk pesawat. Begitu masuk pesawat, bocah langsung saya peluk dan dia menyusu sampai tertidur. Sebenarnya, saat itu bocah hanya nenen untuk tidur malam. Tapi saya buat pengecualian karena saya tidak mau ambil resiko menghadapi bocah yang rewel karena kurang tidur dan kecapekan lari-lari.

Bocah baru bangun saat kami mendarat di bandara Don Mueang (DMK). Di bandara, kami harus keliling dulu untuk menemukan counter untuk mengambil SIM card yang sudah dibeli di Klook via online.

Beres urusan SIM card, kami ke 711 untuk beli makanan dan susu buat si bocah. Di Thailand, sevel masih bertebaran, macam mart dan maret di Indonesia. Enaknya, sevel lengkap dari urusan makanan instan tinggal minta hangatkan di microwave sampai kosmetik pun ada.

Keluar bandara, kami langsung cari bus A1 menuju terminal bus Mo Chit 2. Destinasi awal kami adalah Pattaya, sekitar tiga jam dari Bangkok.

Di bus, kami kenalan dengan turis asal Italia yang sudah bertahun-tahun tinggal di Bangkok. Begitu kami bilang mau ke Pattaya, dia merengut dan bilang bahwa Pattaya bukan kota wisata yang menarik.

Well, memang sebenarnya, kalau bisa memilih, kami lebih pengen jalan-jalan ke Phuket. Tapi apadaya, sepertinya bakal kurang menikmati Phuket kalau berangkat sama bocah usia 21 bulan.

Kami ke Pattaya dengan alasan, yang penting ada pantai dan tempat wisata yang kira-kira ramah anak. Dari hasil googling, Pattaya menawarkan sejumlah lokasi wisata yang kids friendly, seperti Cartoon Network Amazone Waterpark, Silverlake Vineyard, Harborland Pattaya, Nong Nooch Tropical Garden, Teddy Bear Museum, Underwater World Pattaya, dan Mini Siam.

Kami di Pattaya hanya selama dua hari satu malam. Jadi tidak banyak tempat yang bisa dieksplor. Berikut itinerary yang kami buat (ps: kalau mau itinerary lengkap, bisa hubungin saya)

Sejujurnya, banyak hal yang tidak sesuai jadwal tersebut. Ternyata waktu kami sampai di Pattaya sudah terlalu siang.

Begitu sampai di hotel, kami langsung ganti pakaian dan cari makan siang. Suami lalu menyewa sepeda motor untuk memudahkan kami jalan-jalan.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Nong Nooch Tropical Garden. Lokasinya puluhan kilometer dari pusat kota Pattaya dan menghabiskan waktu hampir sejam untuk menuju tempat itu.

Kami sampai di Nong Nooch hampir pukul 4 sore waktu lokal. Tiket kami sudah termasuk pertunjukan seni dan atraksi gajah. Kami pilih pertunjukan pukul 16.30. Sambil menunggu pertunjukan dimulai, kami melihat taman-taman di Nong Nooch.

Sebenarnya, taman ini luas sekali dan terdiri dari banyak taman kecil. Tapi karena waktu yang sempit, kami hanya sempat melihat beberapa taman, seperti taman pagoda dan labirin.

Pertunjukan tari tradisional pun dimulai. Panggungnya besar sekali dan kami dapat kursi yang agak atas. Sayangnya, MC berbicara dalam bahasa Thai tanpa penerjemah. Jadi waktu dia membuka acara atau ngomong sepanjang pertunjukan, saya sama sekali tidak paham apa yang dikatakannya.

Itu tidak mengurangi nikmatnya pertunjukan secara signifikan sih. Tari-tarian yang dibawakan sangat apik. Tata panggung terlihat dibuat secara serius. Jadi, pergantian show berjalan dengan mulus. Bocah juga tampak menikmati musik dan tarian yang dipertontonkan.

Setelah pertunjukan usai, penonton digiring untuk memasuki area untuk menyaksikan atraksi gajah. Tadinya saya sangat excited karena saya suka gajah. Tapi ketika gajah-gajah masuk ke arena, saya malah sedih dan tidak menikmati karena gajahnya tidak diperlakukan baik. Pawang memegang benda tajam untuk mengendalikan gajah. Selain itu, gajah disuruh minta uang dan makanan dari penonton dengan muka memelas. Hiks. Gajahnya kok dijadikan pengemis.

Sebelum atraksi gajah berakhir, saya ajak suami dan anak keluar. Hari mulai gelap. Jadi kami manfatkan sinar matahari yang tinggal secuil untuk berfoto. Lalu kami kembali ke hotel. Tadinya mau makan malam di luar. Tapi saya lihat bocah terlalu lelah.

Setelah mandi, bocah langsung tertidur. Suami keluar untuk membeli makanan di sekitar pantai. Kami berdua pun makan di balkon sambil mendengar musik dari kafe-kafe dekat hotel. Menurut saya, Pattaya ini punya suasana yang mirip sekali dengan Legian, Bali, tapi lebih ramai dan lebih banyak turis asing.

Begitulah kami menutup hari pertama di Thailand: senang senang capek. Bagaimana dengan hari kedua? Nantikan cerita kami, ya. 💋