Anak-anak diciptakan dengan energi yang melimpah dan keingintahuan yang tinggi. Ini terjadi secara natural. Jadi, wajar saja kalau mereka bergerak dengan aktif ke sana ke mari, tanpa mengenal lelah.

Bahkan, saat sebenarnya merasa lelah atau mengantuk, anak-anak cenderung mengabaikan perasaan itu karena nafsu bergerak dan bermain mereka sangat tinggi. Di sisi lain, kemampuan kognitif anak belum berkembang dengan baik, sehingga mereka sulit mengontrol diri untuk berhenti saat sedang melakukan aktivitas yang mereka sukai.

Semua orangtua patut bersyukur ketika dikaruniai anak yang lincah dan semangat mengeksplorasi hal-hal baru bagi mereka. Memang, sebagai orangtua dengan energi terbatas dan kekhawatiran level tinggi, kita kerap was-was dan pusing menyaksikan anak yang bergerak aktif. Apalagi kalau anak belum mengenal bahaya. Duh, jantung mama rasanya mau copot kalau lihat anak menyentuh barang tajam atau berdiri dekat lubang yang cukup dalam.

Eits, tarik nafas dulu, ya! Ingat, anak-anak itu BUTUH bergerak. Bagi anak kecil, khususnya balita, dunia ini sangat menggairahkan dengan barang atau hal baru yang ingin mereka eksplor. Apalagi dengan tubuh yang mini, mereka mudah bergerak dengan lincah dan gesit dalam waktu cepat.

Justru, alarm kekhawatiran orangtua harus bunyi dengan kencang kala anak terlihat tidak tertarik dengan dunia sekitarnya dan lebih sering duduk tenang atau tidur-tiduran.

Para ahli mengatakan, setiap hari anak usia 12 bulan – 36 bulan butuh setidaknya 30 menit aktivitas fisik yang terstruktur (dengan arahan orang dewasa) dan 60 menit aktivitas fisik yang bebas semau mereka. Balita tidak boleh “anteng” selama lebih dari sejam, kecuali saat mereka tidur.

Inilah yang menyebabkan saya belum memberikan screen time untuk anak saya yang berusia 23 bulan. Di rumah, kami tidak pernah menyalakan televisi, baik yang di ruang tamu maupun di kamar. Alasan saya, anak masih terlalu kecil untuk kena paparan tayangan televisi dan TV menghalangi anak untuk bergerak aktif.

Selain itu, mungkin, saya dan suami meletakkan ponsel saat bermain dengan anak. Bahkan anak saya sudah bisa mengingatkan dengan bilang, “Simpan hp dulu ma/pa. Ayo main di luar!”

Kebetulan kami tinggal di komplek perumahan yang cukup aman untuk dieksplorasi oleh anak. Di dekat rumah pun ada lahan kosong tempat anak bisa berlari-lari atau bermain sepeda atau “kendaraan” yang kami beri nama Tiger.

Sebagai orangtua, saya harus memfasilitasi anak agar kebutuhannya untuk bergerak aktif bisa terpenuhi. Tentu saja dengan supervisi alias saya mengawasi saja dari jarak beberapa meter.

WASPADA AGAR TIDAK WAS-WAS

Siapa sih orangtua yang tidak pernah khawatir atau cemas sedetik pun? Sepertinya, sejak anak lahir, orangtua “dianugerahi” perasaan kuatir karena secara alami, kita ingin melindungi anak.

Namun, menurut pengalaman saya, ada khawatir yang logis dan ada khawatir yang emosi semata. Nah, orangtua harus bisa membedakan ini, supaya bisa bertindak atau merespon tingkah anak dengan benar.

Apa saja yang biasa dikhawatirkan orangtua saat anak aktif bergerak? Jawaban utama tentu takut anak jatuh. Kenapa takut anak jatuh? Kalau jatuh bisa terluka, atau amit-amit deh, bisa sampai cacat.

Untuk mengurangi kekhawatiran ini, orangtua bisa melakukan beberapa hal, antara lain:

Amankan lingkungan. Kalau orangtua yakin, rumah atau lingkungan sekitar aman untuk anak, tentu kekhawatiran bisa berkurang. Makanya, amankan rumah dengan cara melapisi ujung yang tajam, menjauhkan benda berbahaya dari jangkauan anak, serta pasang penutup untuk stop kontak listrik. Ketika balita berlari dengan aman, orangtua bisa rileks.

Biarkan anak lepas. Jangan kurung anak sehingga anak tidak merasa terkekang. Saat anak bergerak dengan aktif, kemampuan motoriknya pun berkembang. Lama-kelamaan, anak semakin percaya diri dan belajar mana yang aman dan tidak aman untuk dieksplorasi.

Buat kesepakatan. Ketika anak mulai bisa memahami kata-kata orangtua, ajar anak untuk bersepakat. Misalnya, anak boleh berlari-lari hanya di taman yang ada rumput. Atau ketika anak ingin melompat, minta dia melompat di kasur. Sampaikan kekhawatiran orangtua dan konsekuensi logis ketika anak melanggar kesepakatan.

Bersiap untuk tantrum. Mau tidak mau, anak berpotensi menunjukkan tantrum saat energi mereka penuh. Jadikan tantrum sebagai momen untuk orangtua belajar apa yang membuat anak kesal dan bagaimana menghadapinya. Usahakan untuk tetap tenang dan tidak terpancing saat anak tantrum.

Sigap saat anak cedera. Sewaspada apapun orangtua, ada saja hal-hal yang tidak terduga sehingga membuat anak terluka. Tak perlu menyalahkan diri sendiri. This things happened. Sekarang yang perlu dipikirkan ialah mengobati cedera.

Luka yang paling sering dialami anak saya yang tidak pernah diam kecuali waktu tidur ialah luka lebam. Kadang ada lebam di tangan atau kaki bahkan kepala. Dulu saya bisa cemas setengah mati melihat lebam atau memar di badan anak. Tapi sekarang sudah mulai waras menghadapi lebam.

Apalagi semenjak saya menyimpan Thromboflash di kotak obat-obatan anak. Berkat Thromboflash, keluarga kami gak takut lebam lagi.

Sejak beberapa bulan lalu, saya menyadari Thromboflash wajib ada di kotak P3K. Pasalnya, sejauh ini saya merasa Thromboflash yang paling ampuh mengobati luka dalam atau lebam/memar. Jadi bisa dibilang, Thromboflash adalah sahabat keluarga kami yang bisa mengurangi was-was melihat anak bergerak bagaikan gasing.

Biasanya, saya bersihkan dan kompres dulu bagian yang memar. Lantas, saya oleskan Thromboflash dengan perlahan. Yang menyenangkan, Thromboflash terasa dingin di kulit dan tidak lengket. Oh iya, hanya oleskan pada luka dalam alias lebam ya. Thromboflash ini termasuk obat keras yang tidak cocok untuk luka yang terbuka.

Thromboflash ini punya bahan aktif, yakni HEPARIN SODIUM 200 IU. Saat Thromboflash dioleskan, Heparin bekerja aktif untuk melancarkan peredaran darah sehingga bisa mempercepat penyembuhan lebam. Tubuh terlihat mulus lagi, deh, alias bebas memar.

Yang saya tahu, heparin terbuat dari mucosa atau membran hewan, seperti sapi dan babi. Nah, Thromboflash sendiri terbuat dari mucosa sapi, jadi halal.

Thromboflash sudah bersertifikasi HALAL, sehingga aman dan nyaman, serta mampu melindungi konsumen. Kehalalan ini sudah disetujui MUI. Sementara, produk lain alias obat lebam lain belum ada yang mendapatkan cap halal seperti Thromboflash.

Pokoknya, Thromboflash ini paket lengkap, deh. Orangtua tidak parno lagi jika anak lebam. Jadi, orangtua bisa rileks melihat anak bergerak dengan aktif.

Apakah kamu sudah menyiapkan Thromboflash di rumah? Jangan tunda lagi, ya..