Kenangan tentang masa kecil saya didominasi rasa senang dan bangga terhadap papa saya. Ya, mama saya dulu terlampau tegas dalam membesarkan anak. Sehingga saya merasa lebih nyaman dengan papa.

Hal ini didukung papa yang terlalu memanjakan putri bungsunya. Bahkan keluarga besar kami mengamini bahwa papa adalah”bekingan” saya. Mereka tak berani macam-macam karena akan ada papa yang setia membela saya. Sesuatu yang tidak mau saya teruskan pada anak saya.

September ini, tepat enam tahun papa meninggalkan dunia. Ia meninggalkan keluarga, termasuk saya, boru hasian-nya. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan diabetes dan penyakit komplikasi lainnya, papa tutup usia pada 2012.

[wpvideo AhhDp853 data-temp-aztec-id=”b9f4a49b-f08b-4691-ac1d-a07636926090″]

Kepergian papa jadi pengalaman pertama saya ditinggalkan orang terdekat dan amat saya kasihi.

Kepergian papa jadi pengalaman pertama saya ditinggalkan orang terdekat dan amat saya kasihi. Sebelumnya, saya hanya bisa bersimpati bila ada teman yang berduka ditinggal orangtuanya.

Tidak pernah ada yang cerita langsung bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kamu andalkan dan hampir selalu ada untukmu. Bahkan suami saya hanya bercerita kronologis kepergian mamanya tanpa benar-benar mengungkapkan perasaannya saat mamanya tiada.

Bagi saya, rasanya seperti ada lubang hampa dalam hidup saya yang tidak bisa diisi dengan apapun atau siapapun. Lubang itu terus menganga begitu saja. Kehampaan itu terasa sangat dekat sekaligus sangat jauh ketika kamu memikirkan bahwa apapun yang kamu lakukan takkan bisa mengembalikan hadirnya orang kesayanganmu. Bila tak hati-hati, lubang itu bisa sedemikian besarnya dan mengganggu jiwamu. Pesan saya, biarkan lubang itu jadi bagian hidupmu tapi jangan biarkan dia menguasaimu.

Hati saya selalu hangat mengingat betapa papa mengasihi saya. Sejak kecil, papa selalu bercerita kisah dari Alkitab atau karangannya sendiri. Terlalu sering papa membuat lawakan yang membuat saya terbahak-bahak. Gara-gara ini saya menjadikan humoris sebagai salah satu kriteria pasangan.

Papa yang menumbuhkan kekaguman saya pada Amerika Serikat dan kecintaan saya pada film. Gak heran kalau saya cenderung western-minded dan mengklaim diri sebagai feminis.

Iya, secara tidak langsung, saya belajar feminisme dari papa. Ketika anak perempuan lain gemar bermain boneka, saya sungguh senang ketika papa membelikan hadiah mobil-mobilan. Bahkan, papa yang mendukung ketika saya minta dibelikan baju Natal sepasang kaos dan celana engand gambar Power Rangers. Tentu saja mama juga membelikan gaun karena tak mungkin saya merayakan Natal memakai celana.

Papa juga yang menegur saya ketika tiba-tiba, seusai menonton acara gosip artis, saya nyeletuk ingin memberi nama Clara untuk anak saya. Janganlah kau pikir soal nikah. Pikirkan soal belajar yang bagus dan sekolah yang tinggi, itu katanya. Ketika saya bilang sudah punya pacar, papa yang mengingatkan jangan nikah muda sebelum merasakan dunia kerja.

Dari papa saya belajar untuk jadi orang beradab. Tak pernah sekalipun saya mendengarnya menjelek-jelekkan orang. Bahkan papa tidak suka kalau lihat saya berbisik-bisik di depan orang. Tidak pantas menurutnya.

Tapi tentu saja papa saya tidak sempurna. Kami punya banyak perbedaan sudut pandang. Saya masih kesal mengingat betapa sulitnya ia menghentikan kecanduan akan rokok. Saya juga masih ingat sakitnya hati saya ketika papa membaca buku harian saya. Halaman terakhir yang saya tulis bercerita tentang kesedihan ditinggal anjing peliharaan kami. Lalu papa bilang, kenapa anjing yang mati malah menyalahkan Tuhan? Saya semakin sedih karena perasaan saya dianggap tidak relevan dan papa lebih membela Tuhan.

Saya sedang liputan di Jepara ketika mama memberitahu bahwa papa masuk rumahsakit selama beberapa hari. Kali ini sangat parah, kata mama. Sembilan bulan sebelumnya mama pernah mengabari bahwa dokter mengatakan usia papa takkan lebih dari enam bulan lagi. Saya sempat berpikir dokter salah perkiraan dan papa akan hidup selamanya.

Hati saya kacau sekali. Rasanya ingin pulang ke Medan saat itu juga. Tapi saya sembari berharap papa diberi kesempatan kesekian kali oleh Sang Empunya Kehidupan. Beberapa tahun sebelumnya papa pernah terbaring koma di rumahsakit tapi bisa sembuh

Saya ingat ketika pulang ke kosan, abang saya menelepon dan meminta saya berbicara pada papa untuk penyemangat. Papa sudah terlalu lemah untuk berkata-kata saat itu. Saya tidak berbicara banyak karena lelah lahir dan batin karena baru sampai di Jakarta setelah perjalanan dengan bus dan pesawat dari Jepara. Saya matikan ponsel malam itu agar bisa beristirahat.

Usai tengah malam, pintu kamar saya diketok teman. Awan hitam seperti mengelilingi saya saat ia menangis dan memberitahu bahwa papa saya sudah tiada. Lantaran ponsel saya mati, pacar saya menghubungi teman kos.

Ketika saya menyalakan ponsel, awan hitam itu terasa semakin pekat. Apa yang saya haraokha hanya mimpi buruk mulai terasa nyata. Pacar saya langsung memesankan tiket pesawat supaya saya bisa pulang ke Medan pagi itu juga.

Para pelayat sudah memenuhi rumah ketika saya sampai. Tangis saya semakin pecah ketika memeluk mama yang duduk di samping jenazah papa. Saya menyentuh tubuh yang sudah terbujur kaku. Mengapa begitu dingin, pikir saya.

Malamnya saya tidur memeluk jenazah papa. Aneh rasanya mengetahui nyawa dan jiwanya sudah pergi entah ke mana. Saya terus bertanya-tanya pada diri saya, papa sedang di mana. Apakah dia bisa lihat begitu banyak orang yang datang untuk berbelasungkawa bersama kami, keluarganya?

Beberapa hari setelahnya, kami membawa jenazah itu untuk dikuburkan di Pulau Samosir, kampung halaman kami. Dalam hati saya tidak setuju dengan hal itu. Tapi kata mama, itu permintaannya dan harus dihormati. Padahal, prosesi pemakaman jadi memakan biaya besar dan kami jadi susah untuk mengujungi kuburannya.

Kampung kami terletak di sebuah desa di Pulau Samosir. Konturnya masih berbukit-bukit. Kuburan papa berada di samping kuburan adik-adiknya. Dari jalan raya kami harus mendaki untuk sampai ke lokasi kuburan.

Setelah prosesi penguburan selesai, saya berdiri di depan kuburan dan memandangi nisannya untuk memastikan tidak ada typo-error. Kemudian saya berbalik. Jantung saya seperti berhenti berdetak sekian detik.

Jika kamu pernah melihat langsung Danau Toba, kamu pasti tahu pemandangan alamnya sungguh menakjubkan. Sungguh sulit saya membayangkan seseorang tidak percaya Tuhan itu ada saat mekimel Danau Toba. Tangan manusia tidak akan sanggup menciptakan keindahan seperti yang dimiliki Danau Toba.

Saya kembali melihat kuburan papa dan tersenyum. Oh, ini toh alasannya mau dikubur di sini. Biar bisa lihat pemandangan cantik seperti ini setiap hari? It’s worth it then, saya berbicara dalam hati seolah-olah sedang ngobrol dengan papa.

Perjalanan pulang dari Samosir merupakan perjalanan terburuk yang pernah saya alami. Untuk membawa keluarga dan pelayat, abang saya menyewa beberapa mobil beserta jasa supir. Dan supir di mobil yang saya tumpangi ternyata mabuk.

Hujan deras saat itu. Jalanan sepi. Tapi dia menyetir dengan sembrono, mengarahkan setir ke kanan dan ke kiri dengan ngaconya. Sampai-sampai saya minta abang saya yang menggantikan si supir mabuk. Padahal pastinya abang saya sangat letih. Daripada nyawa dalam bahaya. Ah, saya kesal sekali dengan supir yang tidak bertanggung jawab.

Begitu sampai rumah, saya merasa ada yang janggal. Tapi saya tidak langsung ngeh apa itu. Kemudian saya mencari mama saya. Hampir saja saya mengajukan pertanyaan konyol. Pertanyaan yang ratusan atau ribuan kali saya tanyakan pada mama ketika masih tinggal di rumah. Saya hampir saja bertanya, “Papa di mana, Ma?”

Rasanya ingin menoyor kepala sendiri. Kau baru saja pulang dari Samosir untuk menguburkan bapakmu. Masa lupa sih? Saat itu juga saya menyadari bahwa papa sudah meninggal. Saya tidak punya papa lagi. Tidak akan ada papa lagi di rumah atau di manapun. Enam hari belakangan bukan sekadar mimpi buruk.

Setelah kembali ke Jakarta saya masih sering menangis pada malam hari. Beruntung tidak ada rekan kantor yang mengungkit mata sembab saya.

Dalam suatu film ada kutipan yang kurang lebih menyatakan bahwa yang kejam dari kehilangan orang kesayanganmu adalah perlahan tapi pasti kamu akan melupakan dia. Melupakan cara dia tertawa. Melupakan cara berjalannya. Bahkan kau bisa-bisa lupa wajahnya kalau tidak diingatkan dengan foto.

Dan saya harus akui, itu benar adanya. Karena ketika kamu berusaha mengingat, hatimu berjumpa dengan kepedihan. Tapi sungguh kejam rasanya bila ingatan akan orang terkasih lenyap dimakan waktu.

Untuk itu, saya menulis untuk mengenang papa. Sejujurnya, dalam momen besar seperti menikah dan punya anak, di situlah kerinduan saya akan papa menjadi-jadi. Berbagai andai berkecamuk dalam kepala dan dada membayangkan papa berbahagia bersama saya dalam momen besar itu.

Saya masih bisa mendengar tawanya yang renyah setelah berhasil membuat saya tertawa karena lawakannya. Saya masih ingat raut mukanya saat menasihati saya. Saya juga ingat muka khawatirnya setiap saya belum sampai rumah saat matahari sudah terbenam, ketika saya masih bersekolah. Saya juga ingat muka marahnya. Saya ingat diamnya ketika opung atau mama memarahinya karena sesuatu. Saya juga ingat tawanya yang dipaksakan ketika saya menceritakan betapa disungsionalnya keluarga besar kami.

Papa selamanya ada di hati saya. Semoga bertahun-tahun kemudian, ingatan saya tidak pudar, tapi menguat dengan tulisan ini. Karena saya sangat bersyukur dibesarkan dan dikasihi oleh papa saya..