Saya sungguh bersyukur pernah menjajal salah satu profesi idaman sedari kecil, yaitu menjadi wartawan. Padahal sejujurnya, ketika mulai kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, saya belum tahu benar mau jadi apa seusai memegang gelar sarjana.

Akhirnya, setelah lulus, saya memutuskan bekerja di salah satu media ekonomi yang cukup terpandang di ibukota. Saya bekerja sejak awal 2012 hingga memutuskan berhenti kerja pada 2017 lalu.

Selama jadi jurnalis, saya pernah ditugaskan mengampu rubrik “Peluang Usaha” selama sekitar dua tahun. Saya pun berkutat dengan tugas mewawancarai para pengusaha seantero negeri dan menuliskan kisah mereka. Sering pula saya dikirim ke daerah untuk bertemu langsung dengan wirausahawan dari yang omzetnya hanya jutaan rupiah sampai miliaran rupiah per bulan.

Untuk menggali perjalanan bisnis mereka, satu pertanyaan yang tak lupa saya ajukan ialah kendala atau masalah yang kerap mereka jumpai. Ketika ngobrol dengan orang-orang yang menyebut diri mereka “entrepreneur” ini, kebanyakan mengalami masalah atau kendala yang serupa dalam dunia bisnis secara umum. Kendala bisa dari dalam tubuh atau internal usaha mereka, tapi banyak juga yang berasal dari eksternal bisnis.

Ketika mewawancarai seorang pengusaha kopi. Foto diambil sahabat saya.

Untuk masalah yang ditemui dalam internal usaha, kebanyakan dari mereka sudah paham apa yang harus dilakukan agar masalah teratasi. Misalnya saja, sistem kerja yang tidak efektif, pengeluaran boros untuk pos yang tidak produktif, dan sebagainya. Yang menentukan hanyalah mau atau tidak mau pengusaha tersebut membereskan masalah yang ada.

Beda halnya dengan kendala eksternal. Banyak hal di luar kendali mereka. Meskipun mereka mau membereskan masalah tersebut, seringnya usaha mereka mentok. Ada campur tangan pihak lain yang sangat menentukan, antara lain pemerintah, supplier atau pemasok, ataupun klien atau pembeli. Pihak-pihak ini tidak bisa mereka atur sesuka hati.

Salah satu yang jadi permasalahan besar bagi pengusaha Indonesia, khususnya yang masih berskala mikro, kecil, dan menengah alias UMKM ialah pemasaran. Para pengusaha ini punya modal untuk memulai bisnis. Mereka punya kemampuan membuat produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Mereka mau menjual produk dalam jumlah massal. Tapi, mereka bingung atau tak tahu akses pemasaran untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Kalau harus mengiklankan produknya agar banyak orang tahu, biaya yang dibutuhkan terlampau besar untuk mereka. Untuk mendirikan toko atau gerai di berbagai daerah juga pasti memakan modal besar.

Belum lagi tantangan persaingan dengan pengusaha dari negara tetangga. Seperti yang kita tahu, produk impor sangat mudah ditemui di negeri kita. Dengan modal yang dahsyat, pesaing dari luar negeri memasarkan produk-produk impor dengan cukup mudah di sini. Tapi, apakah hal ini harus dibiarkan? Bukankah pengusaha lokal harus berdaya di negeri sendiri?

Untung Ada Toko Online

Kehadiran jalur pemasaran digital atau online, baik e-commerce maupun marketplace menimbulkan secercah harapan bagi pengusaha lokal. Namun, kenyataan di lapangan tidak semanis yang dibayangkan.

Kebanyakan situs belanja dalam jaringan masih berpihak pada barang impor. Kalau berkunjung ke e-commerce atau marketplace yang sering kita saksikan iklannya di TV, produk yang mereka tawarkan didominasi merk atau brand luar negeri. Entah alasannya apa, padahal peminat produk lokal juga tak sedikit.

Lihat saja animo pembeli barang-barang kerajinan tangan, contohnya. Kalau mengunjungi pameran seni kriya, kamu pasti terkesima dengan karya pengusaha lokal yang menakjubkan bertemu dengan antusiasme besar dari pembeli yang datang. Ketika datang ke pameran Inacraft beberapa tahun lalu, saya kaget ada pembeli yang mau merogoh kocek belasan juta rupiah untuk batik tulis yang dijual pengrajin asal Pekalongan. Berarti memang industri kerajinan tangan tidak bisa dianggap remeh.

Mungkin inilah yang menginisiasi lahirnya Qlapa.com. Tahukah kamu Qlapa.com merupakan marketplace yang secara khusus mendedikasikan situsnya untuk pengrajin dan pecinta kerajinan tangan lokal?

Menurut saya ini terobosan penting dalam melawan penjajahan produk impor di sektor real offline. Para pengusaha kerajinan lokal jadi punya akses untuk memasarkan produknya. Dan, para penggemar kerajinan tangan asli Indonesia bisa membeli barang yang dicari di marketplace yang punya tagline “Beli produk handmade dan kerajinan unik dari pembuatnya di Indonesia”.

Eits, ternyata menjual produk di Qlapa.com tidak semudah mendaftarkan toko lalu input produk di situsnya, loh. Pihak Qlapa.com akan mengkurasi produk-produk yang akan dipasarkan di pusat produk handmade Indonesia ini.

Kalau mengunjungi situs Qlapa.com, kamu akan menemukan produk bernilai dari berbagai kategori, seperti hadiah, koleksi, dan lifestyle. Menurut berita ini,

Qlapa.com sudah bekerja sama dengan 4.000 pengrajin di seluruh Indonesia. Ada tim khusus yang memastikan produk yang terpampang di situs Qlapa.com memang kerajinan tangan yang berkualitas, menyertakan info yang jelas, serta konsisten dari sisi produksi.

Kalau kamu mau produk yang eksklusif bisa juga, loh. Kamu bisa minta barang yang kamu mau dimodifikasi oleh pembuatnya.

Proses kurasi atau penyaringan seperti ini menguntungkan semua pihak. Pengusaha kerajinan jadi punya standar tinggi dalam menghasilkan karya. Pembeli pun yakin mendapatkan barang yang berkualitas. Tentu saja Qlapa.com sebagai rumahnya produk handmade Indonesia juga diuntungkan karena nama besarnya terjaga dengan seleksi ketat untuk menjaga mutu.

Agar menghindari transaksi bodong, Qlapa.com yang resmi beroperasi pada November 2015 ini menyediakan rekening bersama. So, penjual dan pembeli tak perlu khawatir atau was-was dalam tiap transaksi. Ada jaminan uang kembali bila produk yang diterima rusak atau transaksi dibatalkan. Jujur saja, fasilitas rekening bersama ini penting sekali, apalagi bagi saya milenial berjiwa “late bloomer” yang sering sekali undur diri dari belanja online lantaran tidak yakin dengan penjualnya.

Senang deh melihat startup yang benar-benar menjawab permasalahan yang ada, bukan sekadar cari cuan. Andai semakin banyak pendiri startup yang mengapresiasi pengusaha dan pengrajin lokal, saya optimistis, produk-produk buatan anak bangsa lebih maju dan semakin dihargai.

Nah, sekarang saatnya saya belanja online dulu, ya. Kebetulan ada gaun batik dengan motif kece dari pengrajin di Karanganyar, Jawa Tengah di Qlapa.com, nih.

Sumber: Giphy