Sejujurnya saya agak iba dengan generasi milenial. Belakangan, generasi yang usianya 20an – 30an ini kerap jadi momok, terutama dalam hal finansial.

Banyak berita dan artikel yang mengkambinghitamkan generasi milenial untuk masalah keuangan. Misalnya, penjualan properti yang lesu disebabkan kaum milenial tidak punya uang untuk beli rumah. Bahkan, pada 2021, generasi milenial terancam tidak bisa beli rumah. Sebuah survei di Amerika Serikat menyebutkan bahwa makin banyak generasi milenial yang tidak punya tabungan.

Generasi milenial atau yang bisa juga disebut generasi Y merupakan orang-orang yang lahir pada tahun 1980-an hingga tahun 2000 yang lahir dan tumbuh di era teknologi. Milenial sangat terbuka pada perubahan, apalagi yang menyangkut teknologi.

Yoris Sebastian dalam bukunya “Generasi Langgas : Millennials Indonesia”, mengatakan generasi milenial merupakan demografi terbesar di Indonesia maupun di dunia. Pada tahun 2020, Indonesia diprediksi akan memiliki jumlah penduduk di usia produktif lebih besar dari jumlah tidak produktif. Dan separuh dari usia produktif tersebut adalah milenial.

Loh, melek teknologi kok tidak sejalan dengan melek keuangan, sih? Dengan beredarnya informasi tentang layanan keuangan, mengapa tidak dimanfaatkan generasi milenial untuk peduli dengan isi rekening? Berarti, ada yang salah.

Sebagai bagian dari generasi milenial, walaupun tidak lagi bisa disebut (milenial) muda, saya coba kerucutkan masalah keuangan yang akrab dihadapi generasi saya.

1. Prioritaskan citra ketimbang harta

Dalam sebuah acara TV, seorang miliarder di Australia mengatakan bahwa generasi milenial tidak punya rumah lantaran menghabiskan uangnya untuk beli kopi dan roti di kafe. Terdengar familiar, bukan?

Sejak media sosial jadi bagian gaya hidup generasi milenial, citra atau imej merupakan hal teramat penting. Bahkan, bisa jadi kaum milenial mengelompokkan citra jadi kebutuhan primer.

Tak punya rumah tak mengapa. Asalkan laman media sosial, khususnya Instagram, penuh dengan foto jalan-jalan atau cicip makanan di berbagai restoran.

Beberapa pemilik restoran bahkan pernah mengeluhkan kumpulan anak muda yang datang hanya membeli secangkir kopi, lalu menghabiskan berjam-jam untuk mengambil foto. Anak muda ini dengan percaya diri gonta-ganti baju dan berpose di berbagai sudut restoran untuk foto yang akan diunggah dengan tagar #OutfitOftheDay atau #Ootd.

2. Doyan berhutang, lupa membayar

Seorang teman misuh di aplikasi chat WhatsApp karena dia dikenakan denda lantaran telat membayar tagihan kartu kredit. Padahal, menurutnya, dia sudah menuntaskan pembayaran utang kartu kredit.

Sehari kemudian, dia “datang” pada saya melalui WhatsApp juga. Dia mengakui dosanya lupa bahwa sebulan yang lalu, dia makan di restoran dan mengesekkan KK untuk membayar lantaran tidak punya uang tunai.

Keberadaan kartu kredit memang memudahkan. Apalagi kalau sangat pandai menggunakannya, bisa menghemat dengan diskon yang ditawarkan.

Tapi, banyak orang lupa bahwa KK bukanlah sumber dana. Kartu kredit hanyalah alat pembayaran sementara.

Oh ya, ingat pula, kalau tagihan KK tak dibayar, kamu bisa dicap negatif oleh perbankan. Dus, lain kali bila butuh dana, misalnya ajukan KPr KTA, bisa-bisa permohonanmu ditolak karena ada jejak hitam tunggakan kartu kredit.

3. Tidak punya uang simpanan

Teman saya yang lain pernah menolak diajak bertemu. Padahal biasanya paling senang kalau ada acara kumpul-kumpul. Akhir bulan sudah tak ada uang. Begitu alasannya.

Saya tidak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang yang masih lajang dan tinggal di rumah orangtua menghabiskan semua penghasilannya dalam sebulan? Boro-boro investasi. Jumlah rekening di bank saja bagaikan tong yang nyaring bunyinya alias kosong melompong.

Ketika saya bahas, menurut teman saya itu, banyak karyawan seusia kami yang hidup gaji lepas gaji. Apalagi kalau punya utang kartu kredit atau ikut arisan, gaji yang baru masuk rekening, bisa ludes separuh dalam seminggu. Miris, gak, sih?

Milenial, Menabunglah Sekarang

Sebagai kawan segenerasi, saya berharap milenial yang bakal jadi pemimpin bangsa ini mulai menabung. Hal ini sering saya tekankan pada rekan-rekan saya, terutama dulu ketika kerja kantoran.

Lantas, bagaimana caranya untuk mulai menabung? Sama seperti perencanaan lain dalam hidup, langkah pertama, yakni menetapkan tujuan.

Jika saran ini dianggap abstrak, kamu bisa menuliskan atau mengetik tujuan keuanganmu agar tampak nyata. Menentukan tujuan ini bikin kamu semangat untuk mulai dan terus menabung karena ada yang mau dicapai.

Tujuan keuangan sangat beragam. Sebagai gambaran, saya ingin hidup tenang bahkan rutin plesiran saat usia pensiun alias saat tak produktif lagi. Dus, sejak sekarang saya harus mengumpulkan dana pensiun untuk mencapai tujuan tersebut.

Tujuan keuangan ini bisa juga jangka pendek atau menengah. Misalnya, saya mau menyekolahkan anak di sekolah internasional lima tahun lagi. Saya harus hitung berapa dana pendidikan lima tahun mendatang (termasuk inflasi) dan berapa yang harus saya simpan atau investasikan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Selanjutnya apa, dong? Yuk, kita hitung-hitungan! Mari hitung kebutuhan, kesanggupan, dan komitmen yang realistis dalam menabung.

Hitung jumlah kebutuhan dana, misal per bulan. Saran saya, ketatkan ikat pinggang saat melakukan perhitungan ini. Hitung kebutuhan yang memang harus alias mau atau tidak mau membuat kamu mengeluarkan uang. Jadi, kegiatan yang sifatnya sekadar hura-hura diminimalkan, kalau tidak bisa dihilangkan.

Kalau sudah tahu kebutuhan dana yang rutin, akan mudah menentukan kemampuanmu untuk menabung. Misalnya dari 100% gaji, kamu menghabiskan 70% – 80% untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Silakan tentukan apakah kamu memang sanggup (mampu dan mau) untuk tabung 20% – 30% sisanya.

Banyak perencana keuangan alias financial planner yang menyarankan porsi tabungan hanya 10% dari penghasilan. Menurut saya, angka ini terlampau konservatif. Bayangkan bila penghasilan saya Rp 10 juta dan says menyanggupkan diri menabung cuma Rp 1 juta, kemungkinan besar tujuan finansial saya akan sulit sekali tercapai.

Akan tetapi, sebagai pemula, bolehlah angka 10% ini jadi target awal. Setelah tercapai, naikkan porsi tabungan.

Yang terakhir dan yang jadi kunci dalam menabung ialah komitmen. Tantang dirimu untuk bisa menabung sesuai dengan kesanggupanmu. Ingat-ingat lagi tujuan keuangan yang ingin kamu wujudkan. Bila perlu, minta pasangan atau rekan untuk mengingatkan ketika kamu berusaha mencari-cari alasan mengeluarkan uang untuk hal di luar kebutuhan.

Pilih Gayamu Sendiri

Apakah sampai di sini kita sudah sepakat bahwa menabung itu harus dan penting? Kalau sepakat, lanjutkan dengan memilih gaya menabung.

Namanya gaya tentu tidak bisa diseragamkan. Gaya menabung ini identik dengan kepribadian si penabung. Setidaknya ada tiga gaya menabung yang bisa kamu cocokkan dengan kepribadianmu:

Pertama, gaya oldskool alias model lama. Gaya ini cocok diterapkan kalau kamu orangnya konservatif.

Setelah gaji atau penghasilan masuk ke rekeningmu, kamu gunakan sesuai kebutuhan rutin. Nanti, di akhir bulan, baru kamu hitung berapa jumlah dana yang tersisa. Itulah yang menjadi tabunganmu. Sisa uang ini bisa dipisahkan ke rekening terpisah khusus tabungan.

Dengan gaya seperti ini, likuiditasmu terjamin. Artinya, kalau butuh uang, cukup gunakan uang tunai atau gesek kartu debit. Kalaupun ada keperluan mendesak, kamu tidak repot mencairkan dana.

Tapi ketahuilah, gaya menabung seperti ini beresiko membuat simpanan minim seminim-minimnya. Kecuali, kamu memang tipe orang yang berkepribadian teguh. Dus, kamu bisa membatasi diri untuk tidak menghamburkan uang selain untuk kebutuhan dan mememastikan masih ada sisa uang di akhir bulan.

Kedua, gaya pagi-buta. Begitu meraup penghasilan, kamu mendahulukan alokasi dana untuk tabungan. Pokoknya, uang kamu tidak boleh digunakan sebelum disimpan dalam rekening khusus tabungan.

Bagi kamu yang punya komitmen tinggi, gaya ini cocok sekali untuk diterapkan. Setelah gaji masuk rekening, coba ingat kembali tujuan finansialmu. Bayangkan betapa senangnya ketika tujuan itu terwujud. Niscaya, kamu langsung mengamankan tabungan sebelum digunakan untuk keperluan rutin.

Untuk saya yang gampang ketar-ketir bila tak punya uang simpanan, gaya ini yang saya pakai bersama suami. Setelah perkiraan pengeluaran rutin dan cicilan KPR, kami menabung sekitar 40% dari pemasukan bulanan.

Begitu gaji masuk rekening, kami transfer sebagian ke rekening khusus. Simpanan ini biasanya kami gunakan untuk membawa anak piknik ke luar kota atau ke luar negeri. Dari simpanan ini juga kami mempersiapkan masa pensiun mendatang.

Kalau uang akan digunakan dalam jangka pendek, misalnya setahun mendatang, kami simpan dana di tabungan dan deposito. Akan tetapi, untuk kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang, investasi reksadana jadi pilihan kami.

Nah, yang ketiga ialah gaya mekanis. Kamu kepengen sekali punya tabungan. Tapi, kamu bukan orang yang disiplin. Andai kendali ada di tanganmu sepenuhnya, kamu tidak akan mungkin punya tabungan sampai kucing punya tanduk.

Lalu bagaimana? Jangan putus asa. Gunakan kemudahan auto-debit. Dengan mekanisme ini, kamu atur agar pihak bank mentransfer uang yang dijadikan tabungan pada tanggal yang sama per bulannya (bisa pas tanggal gajian).

Gaya satu ini cocok untuk mendisiplinkan kamu yang punya bakat boros. Setelah tabungan aman, kamu tak perlu was-was lagi menyisakan dana di akhir bulan. Pengeluaran pun lebih terkontrol.

Tabungan Terlindungi

Tahukah kamu bahwa semakin banyak dana yang kita tabung, perekonomian negara bisa lebih maju? Sederhananya, kalau jumlah tabungan orang Indonesia makin banyak, negara bisa mengurangi jumlah utang luar negeri. Negara bisa menggunakan uang simpanan masyarakat untuk banyak hal, terutama pembangunan. Wow. Mulia sekali bukan?

Menariknya, kamu tak perlu khawatir mengenai keamanan dana yang kamu tabung di bank. Berkat Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), tabungan kamu di bank terlindungi. Nilai penjaminannya bahkan mencapai Rp 2 miliar. Kalaupun suatu saat bank tempatmu menabung bangkrut atau dicabut izin usahanya, ada LPS yang bakal jadi safety net.

LPS menetapkan tiga syarat yang dikenal 3T, supaya tabunganmu tetap selamat. Tabungan harus tercatat dalam pembukuan bank. Sebagai nasabah resmi bank, seharusnya ini bukan masalah. Kamu bisa tanya petugas bank untuk memastikan. Lalu, tingkat bunga simpanan tak melebihi tingkat bunga penjaminannya (kecuali menabung di bank syariah). Saat ini, bunga penjaminan ditetapkan pada di level 6,25% untuk bank umum dan 8,75% untuk BPR. Terakhir, sebagai nasabah, kamu tidak melakukan hal yang merugikan bank.

Milenial, apa lagi yang kamu tunggu? Rencanakan keuanganmu. Buktikan generasi milenial berdaya dalam hal menabung. Jangan mau lagi dikambinghitamkan untuk masalah ekonomi!