Bukan. Kami ke Penang bukan untuk berobat. Hehe. Murni liburan supaya Nyonya tidak mumet tiap hari hanya keliling kompleks. 😂

Tiga tahun yang lalu, Nyonya dan Baba pernah mencicipi suasana Penang, Malaysia, berdua saja. Kebetulan AirAsia rajin menggoda si Babah dengan iming-iming kursi gratis, jadilah minggu lalu (24 Maret – 27 Maret) kami jalan-jalan lagi ke Pulau Pinang.

Tiket pesawat sudah dibeli sejak September 2017. Lalu, kenapa Maret baru berangkat? Karena memang kebagian “kursi gratis”-nya di tanggal segitu. Lol. Pertimbangan kami, bocah udah setahun, jadi lebih cincai lah kalau diajak melancong.

Lantaran jalan sama bocah tentu saja gaya bepergian harus disesuaikan. Tiga tahun lalu waktu trip Malaysia – Singapore, kami liburan ala backpackers. Babah susun itinerary yang padat banget supaya banyak tempat wisata kami sambangi. Sampai akhirnya kami kecapekan dan berantem lalu berpencar di Singapore. Hahaha.

Kali ini, gaya backpacker bukanlah opsi. Kasihan bocah kalau diajak ke banyak tempat dalam sehari. Lantas, apakah liburan jadi kurang menyenangkan?

Puji Tuhan sih tidak. Walaupun, beberapa hari sebelum berangkat, jujur kami cukup was-was. Duh, repot gak ya kalau si bocah rewel dalam perjalanan. Bagaimana kalau ketika di Penang, si bocah sakit atau kenapa-kenapa.

Ini bukan kali pertama si bocah naik pesawat, sih. Jadi beberapa hari sebelum berangkat, kami berulang kali mengatakan padanya agar tidur ketika di pesawat. Puji Tuhan bocah mendengarkan dan menuruti. Meski tidurnya nanggung karena penerbangan hanya berlangsung sekitar 45 menit.

🌅 Day One 🌅

Selama di Penang, bocah juga cukup koperatif. Kami berangkat Sabtu sore. Setelah sampai di Penang International Airport, kami harus menunggu cukup lama untuk naik bus ke hotel. Waktu di bus, bocah gelisah. Dan tak lama kemudian doi poop. 😵😳

Begitu sampai di hotel, langsung mandi. Rencana awal sih mau makan malam di night hawker stalls Gurney Drive. Tapi karena tak sanggup lagi menempuh perjalanan, kami makan di night hawker stalls Chulia Street yang hanya 200 meter dari hotel.

Oh iya, kami menginap di Chulia Heritage. Hotelnya merupakan bangunan lama yang sudah dipugar dan didominasi warna putih. Sebagai tamu, kami diperbolehkan meminjam sepeda gratis, tapi memberi uang deposit RM 50 per sepeda.

🌅 Day Two 🌅

Seperti biasa, bocah bangun terlalu pagi. Tapi karena senang sedang liburan, kami tidak leyeh-leyeh, langsung mandi untuk bergegas mengelilingi Georgetown dengan sepeda.

Tujuan pertama kami Tai Tong Restaurant. Tempat ini cukup terkenal dengan dimsum yang enak. Ada satu bakpao yang diisi ketan, jamur, dan berbagai varian masakan daging babi yang enak banget. Namanya sih gak tau apa. Rata-rata pelayannya orang tua yang tidak paham bahasa Inggris. Jadi kami pesan makan bermodal tunjuk-tunjuk tray yang dibawa berkeliling restoran.

[wpvideo xKGI4rkh]

Perut sudah kenyang, kami lanjut jalan-jalan menyusuri street art di Georgetown. Itu loh lukisan bocah di dinding sekitar kota. Kalau dulu, Nyonya dan Baba bisa berburu dan berpose di lebih dari lima street art. Bersama si bocah, kami hanya sanggup mengambil foto di dua street art.

Agenda selanjutnya harusnya makan siang di Goldbay Sand Hotel yang ada di kawasan Batu Ferringhi karena menurut salah satu blog, paket Sunday brunch hanya RM 15 per orang lalu dapat tiket gratis main di Adventure Zone. Tapi setelah kami telepon untuk memastikan, ternyata untuk masuk Adventure Zone tetap harus bayar RM 20 walau sudah makan di hotel. Hmm batal deh.

Kami pun makan dekat hotel saja karena sudah terlalu siang untuk ke Batu Ferringhi. Untuk makan siang, kami menuju tempat makan khas India yang sudah jadi incaran Babah, yaitu Nasi Kandar Line Clear. Dulu kami pernah makan di tempat yang sama, tapi pagi-pagi jadi masih sepi. Pas siang ternyata rame banget dan ngantri. Yukkk

Setelah itu kami balik ke hotel memenuhi jadwal tidur si bocah. Sore-sorenya baru ke Gurney Drive untuk makan malam. Sempat juga mampir ke Uniqlo di Gurney Plaza.

🌅 Day Three 🌅

Seperti sebelumnya, ada perubahan jadwal lagi di hari ketiga. Tadinya mau ke Penang Hill karena dulu gak sempat berkunjung ke salah satu tempat wisata yang katanya must visit di Penang.

Kami pun naik bus ke Entopia. Hehe. Tempat ini juga jadi alternatif kami, tapi karena biaya masuk yang cukup mahal kami sempat ragu. Eh, siang-siang Babah setuju mengunjungi tempat ini.

Sebelumnya kami sarapan dulu di toko kue yang kece. Namanya Yin’s Sourdough Bakery and Cafe. Kami pesan sandwich: banana and cheese buat Nyonya karena harus berbagi dengan bocah dan chicken guacamole buat Baba. Dua-duanya enak sih. Tapi harganya gak murah jadi gak bisa pesan banyak. 😅😅

Off we went to Entopia alias tempat penangkaran kupu-kupu. Begitu masuk, Nyonya terkesima lihat kupu-kupu berbagai jenis dan warna yang cantiknya bukan main.

Tempat ini terbagi dua ruangan, outdoor dan indoor. Pengunjung bisa menyaksikan kupu-kupu bebas berterbangan di area outdoor. Selain kupu-kupu, Entopia juga punya kandang untuk hewan-hewan seperti ular, kodok, laba-laba, tarantula, kadal, bahkan komodo. Tempatnya bersih jadi cocok untuk ajak anak-anak eksplorasi di sini. Ada juga air terjun yang cukup membantu supaya merasa adem.

Kalau mau ngadem beneran, masuk saja ke area indoor, yaitu Cocoon. Area ini jadi pusat edukasi tentang seranngga. Kupu-kupu tentu jadi primadona. Kita bisa melihat langsung siklus kehidupan kupu-kupu, mulai telur, ulat, kepompong, sampai berubah jadi kupu-kupu dengan sayapnya yang indah. Di area Cocoon, ada juga edukasi mengenai serangga lain, misalnya kunang-kunang, semut, dan belalang.

Kami hanya menghabiskan dua jam di Entopia. Kalau gak bawa bocah sih mungkin betah seharian. 🙈🙈 Lalu Babah pun merasa “sayang” merogoh kocek RM 130 untuk dua tiket masuk Entopia. 😜

🌅 Day Four 🌅

Hari terakhir… Huhuhu. Karena kecapekan, kami semua bangun kesiangan alias jam 8.

Langsung deh setelah mandi cusss sarapan di Leong Kee Tim Sum restaurant. Makanan di sini menurut Babah dan Nyonya lebih enak dan variatif ketimbang di Tai Tong. Plus, kasirnya bisa bahasa Inggris, jadi bisa tanya-tanya menu favorit.

Setelah makan, kami jalan santai sambil membeli sedikit buah tangan. Lalu balik ke hotel dan bersiap untuk menuju bandara.

Kalau ditanya tips untuk liburan bareng batita, mungkin sudah banyak blog yang kasih ya. Apalagi Nyonya juga gak sering-sering amat jalan-jalan. Jadi, gak mau sotoy.

Kunci utamanya harus fleksibel. Kalau sudah bikin itinerary lalu berubah total karena kondisi bocah tidak memungkinkan, ya, dibawa happy saja. Toh, kita liburan juga untuk penyegaran dan bikin anak senang.

Sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya! *senyum manja sama si Babah*