frabz-Stay-at-home-Mom-What-my-friends-think-I-do-What-my-mom-thinks-I-9fd953.jpg

Rasanya aneh menulis lagi setelah sekian purnama kerjaan Nyonya fokus di rumah mengurus bayi yang kini sudah menjadi bocah. Padahal banyak banget topik yang mau dicurhatin dibagikan pada khalayak.

Dari mana ya Nyonya harus mulai? Setelah memutuskan tidak bekerja di kantor, ada beberapa teman yang menanyakan bagaimana rasanya jadi ibu rumah tangga. Dalam hati sih pengen jawab, “Wkwkwkwk” soalnya sampai sekarang Nyonya tidak merasa jadi ibu rumah tangga. Ya gimana dong, Nyonya sama sekali tidak merasa sudah mengejawantahkan seperti apa seharusnya ibu rumah tangga itu.

Dulu ya, sebelum pindah ke kota kecil ini, dalam bayangan Nyonya, hari-hari di rumah akan dilewatkan seperti ini:

– Bangun pagi kuterus mandi
– Masak sarapan untuk seisi rumah (yang hanya bertiga)
– Memandikan anak pagi dan sore
– Ngurus rumah ketika anak tidur: menyapu, mengepel, dan sebagainya
– Masak makan siang dan makan malam
– Kelonin anak tidur malam, lalu menyuci atau menyetrika
– Tidur nyenyak

Kenyataannya jauh dari itu, kisanak. Duh, maafkan, Nyonya memang tak sempurna seperti pasangan dalam lirik lagu Andra and the Backbone (#jebakanumur).

27788526_1245149275616908_1552143380612621314_o

Yang terjadi pada hari-hari Nyonya selama ini kira-kira begini:

– Anak bangun duluan (pukul 5 pagi – 6 pagi) terus dibawa jalan-jalan sama Tuan Manurung
– Mereka kembali ke kamar untuk membangunkan Nyonya (pukul 6.30 pagi)
Oke, sampai di sini mungkin sudah ada yang judgmental, “Ih mamak-mamak macam apa yang bangunnya siang!” Baiklah kiranya Nyonya membela diri. Semalaman itu biasanya bocahku “terbangun” sekitar tiga sampai lima kali. Dia hanya meringis, tapi tidak sampai buka mata, hanya mencari sumber kenyamanannya, yakni puting mamak alias nenen.
Otomatis, Nyonya pun terbangun. Dan kalau sudah bangun, tidak bisa langsung tidur nyenyak dalam hitungan menit macam suami saya 😑 Dengan kata lain, “TIAP MALEM GW KURANG TIDUR CUYY” (Gak bisa biasa aja ini mah!)

– Dalam sehari ada dua sesi memasak. Pertama, sarapan untuk bocah. Kedua, siang-siang masak untuk makan siang dan makan malam si bocah. Terus makanan untuk Tuan dan Nyonya? Kalau bisa beli kenapa harus masak? Hehehe

Alasannya sih karena YAAMPUN BAYI TUH GAK SUKA SENDIRIAN. Entah kenapa kalau ditinggal sedetik aja langsung meraung-raung macam disuntik vaksin. Jadi kalau Nyonya masak tuh pemandangan yang terjadi adalah bocah menangis, mamak minta pengertian, mamak kasih alat masak untuk mainan, bosan main lalu bocah nangis lagi, mamak gendong sambil masak, bocah tenang, mamak letakin bocah sebentar buat cuci piring, doi nangis lagi. Gitu aja terus sampai IHSG mencapai level 10.000. #halah

– Membereskan rumah ketika bocah tidur? Hahahaha. Itu hanya impian di siang bolong, Awkarin! (Kenapa harus Awkarin btw?)

Mamak keluar kamar saat bocah tidur = bocah memanggil dengan tangisannya. Heran deh! Kalau mamak di samping bocah, tidurnya nyenyak sekali sampai tertawa dalam tidurnya karena bermimpi. Tapi kalau mamak tinggal ke kamar mandi atau ke dapur, doi langsung bangun.

Lalu bagaimana agar rumah tetap rapih, pakaian tercuci dan tersetrika dengan keadaan seperti itu? Tentu saja ART jawabannya! Mwahahahaha *mamak tertawa lepas*

27503281_1239187382879764_4255125600500929725_o

Awal-awal jadi “stay at home mom”, Nyonya pernah kok malam-malam nyuci baju dan nyetrika. Tapi lama-kelamaan capek. Ga sempet. Daripada stressed ya kan. Tuan juga pernah kok nyuci baju dan nyetrika sepulang dari kantor.

Dulu pernah ada jadwal bagi kami untuk melakukan kedua pekerjaan domestik itu. Kalau menyapu sih, dua-duanya bisa lah ya. Untuk mengepel, Nyonya serahkan pada Tuan yang amat rajin dan gak bisa lihat rumah berantakan.

Tapi lalu karena hampir tiap akhir pekan kami mengunjungi orang tua dan pulangnya bawa banyak cucian padahal badan udah capek dan pengennya leyeh-leyeh, Nyonya pun mengutarakan ide agar kami mempekerjakan ART.

Setelah sekitar sebulan mencari, puji Tuhan dapat ART yang datang ke rumah untuk membersihkan rumah, menyuci, menyetrika, dan memasak lalu pulang lagi alias gak tinggal di rumah kami. Setelah dua bulan, ART berganti karena “Kok kayanya rumah gak lebih bersih dengan adanya ART ya? ART juga jarang masak karena kita sering ke luar dan masakannya juga bukannya enak-enak banget.” (Ini omongan si Tuan. Catet!)

Bergantilah ART yang sekarang ini membantu untuk menyuci dan menyetrika baju saja. Sementara, tugas beres-beres rumah dibagi dua oleh Tuan dan Nyonya. (Puji Tuhan, ART rajin dan gak hitung-hitungan soal pekerjaan jadi kadang dia mau nyapu dan ngepel, bahkan membersihkan taman.)

Apakah ini ideal? Memang tidak sesuai bayangan Nyonya di kala itu. Nyonya tidak se-setrong yang ada dalam bayangan. Namun bagi kami sekarang sih iya. Waktu untuk bermain dengan bocah yang makin lasak bertambah dan yang penting kami “happy”. That is, my friend, oh so priceless.

29351575_1269335383198297_972983611466430110_o