*insert thousands of sad emoticons*

Life is sooo cruel. Why cant I be with my bebe 24/7 and still get paid?

[Disclaimer: this post contains only what my heart wants to pour alias curahan hati semata :p]

Percakapan #1

Nyonya: Kenapa sih saya harus kerja lagi. Saya mau di rumah aja sama BabyMo

Babah: Dulu gak mau punya anak, sekarang udah ada anak malah gak mau jauh-jauh dari anak..

Nyonya: *mewek*

 

Percakapan #2

Nyonya: Kenapa cuman saya sih yang kepikiran resign untuk jaga BabyMo. Kenapa Anda tidak?

Babah: Kalau saya resign juga, BabyMo mau dikasih makan apa?

Nyonya: *rolling eyes*

Dua percakapan itu terjadi beberapa hari sebelum Nyonya kembali ke dunia nyata yang kejam. Rasanya dunia ini tidak adil terhadap perempuan, yah.

Pertama, mengapa rasanya hanya perempuan yang jadi ibu yang galau atau baper ketika kembali bekerja setelah cuti melahirkan? Dulu Babah sempat cuti selama seminggu ketika BabyMo lahir. Lalu begitu masuk kerja lagi, kayaknya Babah tidak galau, tuh. Atau mungkin tidak menunjukkan kegalauannya.

Babah memang sering minta Nyonya kirimin foto BabyMo lewat whatsapp. Awal-awalnya juga pulang cepat terus demi segera bertemu anak. Tapi, ya, tak lama kemudian sering lembur lagi. X_X

Beda sama Nyonya yang mau nangis melulu kalau meninggalkan anak bayi di rumah. Plus, ada perasaan bersalah juga karena BabyMo tentu butuh dikasihi dengan maksimal. Caranya ya dengan lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Coba Nyonya tanya pada bapak-bapak, ada perasaan bersalah yang sama gak?

Kedua, mengapa perempuan saja yang “dituntut” untuk memilih antara anak dengan karir? Coba kalau Babah berhenti kerja untuk merawat BabyMo, Nyonya tak terbayang apa kata dunia. Padahal, sebagai orangtua, bapak-bapak juga punya tanggung jawab yang sama dalam merawat anak.

Lagipula, yang Nyonya maksudkan, bukan Babah berhenti bekerja supaya bisa 24/7 di rumah mengurus anak bayi. Maksud Nyonya, mengapa tak terlintas di benak Babah untuk mencari pekerjaan lain supaya punya lebih banyak waktu di rumah. Tidak musti diwujudkan sih. Tapi kalau pernah terpikir berarti kan, Nyonya tidak sendiri dalam kegalauan ini. Hahaha.

Dulu Nyonya bingung kalau ada buibuk yang galau karena harus bekerja di kantor dan meninggalkan anak di rumah. Loh, si ibu kan mengembangkan diri melalui pekerjaannya. Itu akan berguna untuk anaknya juga, kan. Tentu saja dengan bekerja, sang ibu juga punya penghasilan untuk mewujudkan kehidupan lebih baik untuk anak dan keluarga.

Tapi rasanya beda, euy, ketika itu terjadi pada Nyonya. Easier said than done. Ngomong mah gampang. Pas ngejalanin berat amat, saudara-saudara.

Apalagi tinggal di negara yang belum berpihak pada perempuan. Cuti tiga bulan dari kantor masih kurang untuk mendampingi anak baru lahir. Nyonya setuju sama artikel ini. Enam bulan masa yang cukup untuk cuti bagi perempuan yang melahirkan kalau memang negara benar-benar serius mendukung ASI eksklusif.

Gak heran kalau kita pasti kagum dengan perempuan yang make it to the top karena pasti perjuangannya berat. Kayak Bu Sri Mulyani dalam wawancaranya dengan detik.com, apa yang dikerjakan harus bermakna agar kita bisa mengatasi perasaan bersalah karena tidak bisa selalu bersama anak.

Anyway, selamat berakhir pekan yang panjang bersama keluarga! *pelukpeluk anak bayi*