Yang namanya hidup tuh memang penuh pilihan. Dan, apa yang kita pilih menentukan siapa diri kita. 


Setelah memantapkan diri untuk melahirkan per vaginam alias natural, Nyonya tentu harus pilih tempat kesehatan yang mendukung pilihan Nyonya. Sampai bulan ke-9 kehamilan, jujur, Nyonya belum menetapkan tempat untuk melahirkan. Pilihannya ada beberapa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut Nyonya jabarkan:

🏩 Rumahsakit umum

Dulu kala, sebelum Nyonya tahu apa-apa tentang kehamilan dan persalinan, rasanya rumahsakit umum jadi pilihan rasional untuk melahirkan. Tapi, setelah hamil, Nyonya menghapus RSU dari daftar opsi tempat melahirkan.

Kenapa, Nya? Karena di RSU, proses persalinan dan melahirkan hanyalah salah satu fasilitas atau layanan. Logikanya, RSU tidak terlalu fokus mengurus perempuan hamil dan yang melahirkan. Itu sih pemikiran Nyonya. Apalagi Nyonya sering dengar bahwa dokter jaman sekarang tak begitu sabar menghadapi proses persalinan. Kekhawatiran Nyonya, kalau persalinan lama, takutnya dokter tak tega atau pengen cepet jadi langsung belek perut Nyonya. Hiii serem 😁

🏩 Rumahsakit ibu dan anak

Selama hamil, Nyonya periksa di dr. Sadina yang bertugas di RSIA Harapan Kita, Jakarta Barat, karena cukup dekat dengan kantor. Namun, lokasinya jauh dari rumah. Jadi, Babah dan Nyonya tidak mau ambil risiko kena macet ketika persalinan tiba.

RSIA yang dekat rumah ada Hermina dan Buah Hati. Kalau baca review di internet sih, dua RSIA itu cukup bagus. Teman kantor juga merekomendasikan RSIA Hermina Ciputat untuk tempat melahirkan. Tapi, Babah dan Nyonya gak jadi-jadi untuk survei tempat. Adios amigos deh untuk dua RSIA ini.

🏩 Klinik bidan

Nyonya sempat mau melahirkan di klinik bidan saja supaya ringkas, usai melahirkan bisa langsung pulang. Babah dan Nyonya juga pernah berpikir untuk menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. 

Dari faskes pertama, Nyonya dirujuk ke bidan terdekat. Ternyata, bidan yang dituju sedang ke Korea Selatan. Tapi ada putrinya yang juga bidan, yang sempat periksa Nyonya.

Nyonya cuman periksa dua kali di bidan itu dan merasa tidak puas. Peralatan yang digunakan sederhana, lalu bidan cuman tanya-tanya ada keluhan atau tidak, kemudian Nyonya dikasih vitamin. Waktu Nyonya bertanya soal kehamilan, jawaban bidan kurang memuaskan. 

Lalu, waktu tanya mengenai kemungkinan melahirkan di klinik, eh sang bidan malah bilang, dia akan rujuk ke RSIA terdekat. Alasannya, dia tidak mau ambil risiko. Kalau ada sesuatu yang bikin Nyonya harus dioperasi, bidan bilang akan repot untuk pindah ke rumahsakit. 

Dengan penjelasan tersebut, pupuslah harapan Nyonya untuk melahirkan di situ. Dan, males juga survei ke bidan lain. 😿

🏩 Puskesmas

Kenalan Nyonya, yang seumuran dengan Nyonya melahirkan di puskesmas dekat apartemennya. Nyonya sempat heran, karena dari segi finansial, tentu doi sanggup melahirkan di rumahsakit dengan fasilitas lengkap. 

Namun, pengalaman doi membukakan pikiran Nyonya bahwa melahirkan tak perlu mahal. Tujuan utama kan membawa jabang baby lahir dengan sehat ke dunia. Kalau di puskesmas, tujuan itu tercapai, mengapa tidak?

Tapi, lantaran puskesmas dekat rumah Nyonya gak ada yang benar alias dokter saja jarang ada di situ, dan tidak buka 24 jam, Nyonya pun mencoret puskesmas dari opsi tempat melahirkan. 

🏩 Klinik bersalin

Bedanya klinik bersalin dengan klinik bidan, di klinik bersalin ada dokter spesialis kandungan dan bidan. Peralatannya juga cukup moderen, jadi bisa cek USG.

Bersyukur di dekat rumah ada Bintaro Women and Children Clinic. Memang klinik yang satu ini sering direkomendasikan karena pro terhadap persalinan normal, IMD, dan pemberian ASI pada anak. 

Sebenarnya, sebelum hamil, Babah dan Nyonya pernah periksa di BWCC. Ceritanya, mau program hamil gitu. Nah, sebulan setelah periksa, puji Tuhan, Nyonya dinyatakan hamil.

Tapi lagi-lagi, kami tidak cocok dengan dokter. Pasalnya, dokter obgyn yang memeriksa tidak beri penjelasan lengkap. Namanya juga, ortu baru kan masih minim pengetahuan jadi butuh banyak penjelasan, ya. 

Gara-gara itu, Nyonya beralih periksa ke Harkit. Tapi, tetangga Nyonya yang baru melahirkan merekomendasikan dr. Riyana yang praktek di BWCC karena dia tahu Nyonya pengen melahirkan normal.

Dari review orang-orang di internet, dr. Riyana ini memang kerap direkomendasikan. Tapi, Nyonya baru periksa ke dr. Riyana H-3 minggu dari HPL. Alasannya, kalau periksa di BWCC, Babah gak bisa menemani. Jadi, beberapa kali cek kehamilan, Nyonya datang sendiri.

Gapapa sih periksa ke klinik sendiri. Tapi, Nyonya gemas karena setelah cek, pasti Babah tanya A-Z. Dan seringnya dia gak puas kalau gak dijawab secara detil. Sementara waktu cek kan terbatas, jadi Nyonya tidak bisa tanyakan semua ke dokternya. Genggez deh. 😂

Waktu pertama kali bertemu dr. Riyana, beliau langsung ingatkan, kalau mau melahirkan normal, Nyonya harus persiapan. “Persalinan itu bagaikan pertandingan marathon. Kalau kita sudah terbiasa olahraga, stamina kuat jadi bisa menghadapi persalinan yang butuh banyak tenaga.”

Jujur, ya, awalnya Nyonya kaget karena perangai dr. Riyana ini beda sekali dengan dr. Sadina. Hahaha. Nyonya yang tadinya santai-santai aja karena (hampir) setiap periksa kehamilan tidak ada masalah, malah jadi tegang mendengar pernyataan dr. Riyana. 😅

Tapi setelah dicerna dengan otak, omongan dr. Riyana sangat logis. Ya memang persalinan bukan hal yang mudah. Jadi, butuh persiapan fisik dan mental.

Bagi Nyonya, bersalin dan melahirkan di BWCC merupakan salah satu keputusan paling benar dalam hidup Nyonya. Suster di klinik itu ramah. Waktu Nyonya meraung kesakitan di ruang bersalin, suster selalu menenangkan dan berusaha meyakinkan kalau Nyonya pasti bisa bertahan. Kerjanya juga cepat. Kalau Nyonya butuh sesuatu, mereka cukup sigap menyediakannya.

Dua hal itu sangat penting. Kalau ketemu suster yang tidak sensitif (cuek) dan lamban, pasti Nyonya bisa naik pitam di tengah kesakitan kontraksi. 😜

Oh iya, yang penting juga biaya persalinan di klinik ini tidak mahal (menurut Nyonya). Kalau di Harkit, biaya melahirkan normal mulai Rp 19 juta, biaya melahirkan di BWCC ini hanya sekitar sepertiganya. (Lihat rincian biaya di foto.)

Dari segi tempat, selain strategis karena hanya 10-15 menit jaraknya dari rumah Nyonya, klinik ini juga sangat homey. Wajar saja karena kalau lihat dari luar, BWCC memang seperti rumah dua lantai biasa. Lantai pertama untuk ruang periksa dan ruang bersalin. Di ruang bersalin hanya ada dua tempat tidur. Beruntung waktu bersalin, Nyonya cuman sendiri. Tengsin juga kalau meraung kesakitan dilihatin orang asing. Hihihi. Lantai kedua merupakan kamar menginap (hanya ada tiga kamar).

Dari segi filosofis sih, Nyonya memilih klinik sebagai tempat melahirkan karena Nyonya ingin mengajarkan kesederhanaan dan rendah hati pada BabyMo. Sebenarnya bisa saja kami melahirkan di rumahsakit dengan fasilitas wah. Toh, udah nabung dan kantor Nyonya juga memberikan pagu untuk urusan melahirkan.

Dengan biaya melahirkan di klinik yang murah, Nyonya bisa ingatkan BabyMo di masa depan untuk hidup bersahaja. Hidup bermewah-mewahan alias hedon mah gampang. Namun, yang jadi tantangan justru hidup sederhana. 

Sebenarnya melahirkan di rumah juga bisa jadi alternatif. Tapi, karena Nyonya gak mau ribet untuk mempersiapkan homebirth dan harus panjang lebar menjelaskan ke Babah untuk minta persetujuan, melahirkan di rumah pun tinggal impian.


Duh, jadi panjang, ga. Semoga tulisan ini bisa jadi panduan untuk calon ibu yang masih galau memutuskan tempat untuk mendatangkan buah hati ke dunia. 😉