Urusan berat badan memang tidak pernah jadi hal sepele untuk perempuan. Yang kurus (banget) berusaha untuk gemuk(an). Dan yang gemuk berjuang untuk mengurangi angka timbangan.

Bagi Nyonya, berat badan bukan hal yang kompleks sampai Nyonya memasuki dunia kerja. Waktu masih SMA dan kuliah, Nyonya percaya bahwa badan Nyonya ini tipe yang bernafas saja bisa menambah berat badan 😂.

Dulu Nyonya sangka, mau diet atau rutin lari sore keliling kampus juga tidak berpengaruh pada angka timbangan. Tapi kalau gaya hidup gak dijaga, angkanya meroket terus. Apalagi kalau begadang ngerjain tugas sambil ngunyah. Padahal kalau dari ukuran BMI, indeks massa badan Nyonya normal sih. Tapi ya, ada timbunan lemak di beberapa titik, terutama pipi yang bikin Nyonya terlihat chubby.

Lantas waktu sudah kerja, kira-kira tiga bulan setelah jadi reporter, Nyonya menyadari berat badan Nyonya turun sekitar empat kilogram. Wah, ternyata berat badan saya bisa turun. 

Kemudian, menjelang menikah, Nyonya coba jaga pola makan. Berat badan kurang sih tapi tak signifikan. Setelah menikah, Nyonya pernah menjalani diet mayo yang walau tak tuntas, berhasil bikin berat badan turun 2-4 kg.

Setelah itu, berat badan Nyonya konsisten di angka 50. Ya, sesekali naik atau turun tapi tidak drastis. Ideal? Gak juga, karena masih tampak timbunan lemak di beberapa titik. Tapi Nyonya sudah puas sehingga merasa tak perlu diet berlebihan.

Dan salah satu alasan Nyonya sempat gak mau punya anak adalah Nyonya gak mau gendut. (Lol judge me and see if I care 😜) Makanya waktu mulai hamil, Nyonya mulai perhatikan pola makan. Pokoknya, Nyonya gak mau berat badan naik lebih dari 10 kg selama hamil.

Menurut riset, memang perempuan tak perlu makan berlebihan saat hamil. Berbadan dua bukan berarti makan porsi dua orang. Bahkan pada trimester pertama kehamilan tidak dianjurkan menambah kalori harian yang masuk ke tubuh. Tapi ya susah karena saat hamil, rasa lapar meningkat. 

Bersyukur ketika hamil, Nyonya gak pernah ngidam yang gimana gitu. Paling pernah doyan mi Aceh (Bang Jaly) selama beberapa hari berturut-turut. *eugh kalori* Makan berat pun tidak pernah tiga kali dalam sehari. Lantaran kalau terlalu kenyang, perut Nyonya malah terasa tak nyaman. Belum lagi serangan heartburn pada trimester kedua. Jadi, Nyonya seringnya nyemil buah setiap hari.

Ternyata, ketika hamil bulan ke-8, kuota kenaikan berat badan sudah full. Malah waktu timbang berat badan pernah menginjak angka 61,5 kg. Alih-alih stres, Nyonya berpikir. “Ah, orang lain naiknya belasan sampai dua puluh kilo, jadi berat gw belum parah, lah.” 

Nah, beberapa minggu sebelum melahirkan, berat badan Nyonya malah turun. Pernah turun dua kilogram dalam dua minggu. Tapi naik lagi, sih. Berat badan terakhir sebelum brojol 59,6 kg. Not bad.


Seusai melahirkan gimana? Waktu menimbang berat tiga hari setelah melahirkan, berat Nyonya turun tiga kilo saja, dong. Bah. BabyMo beratnya 2,9 kg waktu lahir padahal. Pas-pasan amat, sis. 😂

Setelah itu tiap ketemu timbangan, puji Tuhan angkanya berkurang terus. Dan voila! Dua bulan pasca-melahirkan, berat badan Nyonya kembali seperti sebelum hamil. Horee!

Kok bisa, Nya? Caranya makan yang banyak dan rajin ngemil, tapi giat menyusui anak bayi. 😎

Selama menyusui, Nyonya makan tiga kali dalam sehari dan harus nyemil. (1) Memang cenderung merasa lapar. (2) Kalau mau skip jadwal makan, ibunya Nyonya langsung mengeluarkan mantra yang bikin Nyonya manut: “Makanlah, bukan untukmu saja, tapi untuk anakmu.” (3) Kalau gak makan malam, siap-siap menyusui sambil kelaperan tengah malam.

Mungkin saja tips dari Nyonya berguna: tetap jaga berat badan selama hamil (dengan memperhatikan nutrisi yang masuk dalam tubuh tentunya) dan gemar menyusui. 😉 Anyway, Nyonya juga doyan olahraga selama hamil. Yoga hampir setiap pagi dan berenang tiap minggu, terutama di trimester ketiga. Mungkin ini juga berpengaruh, ya.

Itu pengalaman Nyonya. Mungkin buibuk yang lain punya tips berbeda supaya bisa kurus setelah melahirkan? Monggo loh saling berbagi 😊 Atau kalau gak mau kurus setelah melahirkan ya gapapa juga. Let’s embrace those curves, ladies!