Setiap orang rasanya mengenal satu tipe manusia, tepatnya perempuan, yang mengklaim dirinya bukan tipe ibu. Itu loh, perempuan yang mendeklarasikan dirinya gak bercita-cita menikah dan melahirkan anak.

Nyonya ini termasuk golongan yang seperti itu. Dulu ya, impian jadi wanita karir memenuhi angan-angan Nyonya. Pokoknya, Nyonya mau jadi perempuan mandiri dengan karir bagus sehingga tak perlu menggantungkan hidup pada laki-laki. Feminis abis deh ceritanya.
Tapi semua berubah ketika negara api menyerang. #halah Impian itu belum sirna sih. Cuman gak masuk akal lagi. Karena sudah jadi nyonya dan punya anak pula.

Kalau ada yang harus disalahkan mungkin si Babah. Hahaha. Karena dia yang bikin Nyonya mau menikah dan mengemban peran jadi ibu. 😛

Ketika menikah, Babah dan Nyonya sepakat untuk tidak langsung punya anak. Alasannya, sama-sama belum siap. Lagipula Babah waktu itu sedang melanjutkan studi di bidang akuntansi. Nyonya yang memang gak pernah ngebet jadi ibu tentunya setuju-setuju saja.

Lalu, dua tahun setelah mengikat janji pernikahan, Babah dan Nyonya merasa butuh perluasan keluarga alias punya anak. Babah juga sudah beres kuliah dan mulai kerja lagi.
Puji Tuhan, setelah tiga tahun dan empat bulan menikah, lahirlah Babymo yang jadi jawaban doa selama ini. Padahal, Babah dan Nyonya sudah mulai berusaha hamil sejak awal 2016. Namun, Tuhan baru karuniakan keajaiban bernama kehamilan sekitar bulan Mei.

Lantas gimana rasanya jadi ibu? Ini pertanyaan yang beberapa kali diajukan teman-teman Nyonya. Kalau bisa dirangkum, bagi Nyonya, jawabannya adalah sangat menyenangkan sekaligus menantang.

Setiap hari menghabiskan waktu dengan makhluk kecil yang lucu memang sangat menyenangkan. Tiap hari ada saja tingkahnya yang lucu dan baru, bikin ketagihan. Tapi ada sisi repotnya juga. Wong Babymo sepenuhnya bergantung sama Babah dan Nyonya untuk makan, tidur, dan lain-lain. Di situlah tantangannya untuk tetap waras, bahkan menikmati hari-hari mengurus dan merawat Babymo.

Kangen masa belum punya anak? Iya banget. Hahaha. Sebenarnya Nyonya kangen masa hamil, karena perhatian dari Babah dan orang-orang sekitar bertambah banyak. Kangen juga bisa tidur delapan jam di malam hari.
Tapi, karena mesin waktu belum ada yang menciptakan, ya terima saja nasib baik ini. Hmmm, kalaupun ada mesin waktu, mungkin Nyonya hanya akan balik sebentar saja ke masa lalu, tapi terus melanjutkan hidup bersama BabyMo dan Babah seperti yang sekarang dijalani.
Kadang, Nyonya suka takut membayangkan masa depan. Takut kalau ada apa-apa sama Babah dan BabyMo. Duh, air mata langsung berlinang deh. Tak bisa rasanya menjalani hidup tanpa mereka. Segala-galanya buat Nyonya.
Jadi ya gitu deh rasanya jadi ibu. Beraneka rasa. Dan banyak yang berubah dari daku. Dulu X, eh setelah punya anak jadi Y. Wajar sih, tapi kadang merasa bersalah sendiri karena dulu suka judgmental sama buibu. X_X Untuk ini, rasanya butuh postingan tersendiri deh.

Yang pasti, bersyukur daku yang bukan siapa-siapa dipercayakan makhluk mungil yang lucu dan pintar (biarin emaknya kepedean) bernama Babymo. Wouldn’t change the world for him for sure!