Sebagai generasi 90-an, Nyonya termasuk orang yang secara tidak sengaja kena “cuci otak” perihal bersalin dan melahirkan. In my not so humble opinion, ibu-ibu jaman baheula ketika cerita pengalaman bersalin dan melahirkan, fokus pada sakitnya. Pokoknya, kalau dengar cerita persalinan, yang ada di bayangan Nyonya adalah sesuatu yang mengerikan. Ibu-ibu sangat menderita dalam proses melahirkan anak. Apalagi, banyak juga ibu yang suka bilang ke anaknya, “Waktu melahirkan kamu, mama merasakan sakit luar biasa, eh udah besar malah nakal (melawan ortu).”

Nyonya sempat ogah punya anak atau melahirkan karena bayangan mengerikan tentang melahirkan. Tapi, itu mah dulu. Sekarang trennya gentle birth. 😀

Ketika memutuskan punya anak, Nyonya hakul yakin bakal melahirkan dengan cara operasi caesar. Secara ya, Nyonya kan terkenal manja. Jadi, vaginal birth itu bukan pilihan buat Nyonya. (Tidak mau menggunakan kata normal atau natural karena definisinya subjektif sekali -red.)

Beda dengan Babah yang punya keinginan dan terus meyakinkan supaya Nyonya melahirkan dengan vaginal birth. Argumennya selalu begini, “Kan sudah tertulis di Alkitab bahwa perempuan memang harus melewati proses melahirkan dengan bersusah payah. Tuhan pasti sudah merancang tubuh perempuan untuk menghadapinya.”

“…Yadda yadda yadda.” Nyonya sih dengarnya begitu. Hahaha. Terserah deh mau ngomong apa. Ini kan tubuh Nyonya. Ya, Nyonya bebas dong menentukan apa yang terbaik untuk diri sendiri.

Seinget Nyonya, sampai akhir trimester pertama kehamilan, keyakinan itu masih dipegang teguh. Sampai suatu saat, Nyonya mengenal “gentle birth” dari situs Bidan Kita milik Bidan Yessy. 

Latar belakang dan konsep “gentle birth” langsung menarik perhatian Nyonya, sekaligus mengguncang keyakinan soal operasi caesar tadi. Nyonya pun riset mengenai “gentle birth” sebanyak mungkin. 

Selain itu, Tuhan begitu baik mengaruniakan kehamilan yang menyenangkan buat Nyonya. Memang sempat mual di trimester pertama, serta heartburn di trimester kedua. Tapi tidak parah, jadi Nyonya merasa tidak perlu mengeluh. Easy pregnancy, kalau kata orang bule. Nyonya bahkan pernah keliling Jakarta untuk wawancara orang waktu hamil trimester ketiga.

Lalu Nyonya refleksikan lagi mengenai keinginan operasi caesar. Dari segi fisik, tidak ada alasan kuat yang bikin Nyonya harus dioperasi saat melahirkan. Lagipula, persalinan dan melahirkan yang jauh dari kata sakit toh sangat mungkin berkat konsep gentle birth. Ditambah lagi, seumur hidup, Nyonya tidak pernah dioperasi. Jadi tidak ada jaminan bagi Nyonya, operasi itu lebih baik. 

Keinginan Babah supaya Nyonya bisa vaginal birth pun jadi pertimbangan. Toh, keputusan untuk punya anak kan bukan sepihak saja. Nyonya gak boleh egois, dong.

Dus, pada trimester ketiga, Babah dan Nyonya mulai mempersiapkan untuk bersalin secara “normal”. Puji Tuhan, keinginan ini terpenuhi pada hari kelahiran BabyMo.

Orang-orang yang kenal Nyonya tentunya kaget karena Nyonya bisa melahirkan secara “normal”. Hahaha. Ya, Nyonya juga kadang masih tak percaya sih sampai sekarang.

Tidak percaya bahwa bisa menahan kontraksi selama 24 jam. Kalau sekarang, agak sulit mengingat secara pasti rasa sakit kontraksi. Intinya, begitu sakit sampai untuk bernafas secara teratur saja susah. Apalagi, kontraksi bikin Nyonya gak bisa tidur. Gimana mau tidur kalau kontraksi datang tiap 5 menit – 10 menit.

Tidak percaya bahwa proses persalinan itu bisa dilewati tanpa epidural alias pereda nyeri. Tidak percaya bahwa Nyonya sempat minta dioperasi (BELEK SAJA PERUTKU, DOK, BELEK SAJA!) pada pembukaan enam (yaelah, Buk!) karena rasa ingin mengejan semacam tak tertahankan. Tapi batal operasi karena musti pindah ke rumah sakit (Nyonya melahirkan di klinik). Yang ada di pikiran Nyonya waktu itu, “Duh, ribet amat nahan sakit tengah malam supaya daku bisa dioperasi!”

Tidak percaya bahwa setelah melewati kontraksi 24 jam, ternyata melahirkan itu hanya beberapa menit saja, saudara-saudara. Dokter datang lewat tengah malam. Tiba-tiba minta Nyonya mengejan. Dan pada kali ketiga mengejan dalam posisi miring ke kiri, kepala BabyMo sudah keluar. Beberapa detik kemudian, dokter minta Nyonya untuk ganti posisi terlentang dan tubuh mungil BabyMo pun resmi lahir ke dunia. 

Nyonya sempat berpikir, “Huh, segitu doang? Kok kurang dramatis?” Hahahaha. BabyMo pun langsung diletakkan di dada Nyonya untuk Inisiasi Menyusui Dini. Dokter dan bidan lalu disibukkan dengan proses perbaikan kerusakan lantaran Nyonya sempat mengejan sebelum pembukaan lengkap. 😛

Jadi, apakah Nyonya trauma melahirkan? Hohoho. Tentu saja tidak. Yang tersisa dari proses persalinan dan melahirkan BabyMo adalah Nyonya berharap bisa mengubah beberapa hal, kalaupun peristiwa itu bisa diulang. Nyonya bakal lebih rajin lagi berolahraga, Nyonya tidak fokus pada sakit kontraksi dengan mengalihkan perhatian, dan Nyonya seharusnya make up dulu sebelum datang ke klinik. 😂